KHAZANAH
PEMIKIRAN ISLAM
INSAN
KAMIL; KONSEP KETINGGIAN MORALITAS
MAKALAH
Dosen Pembimbing
Dr. Syamsul
Rizal, MA
Disusun Oleh:
RIDWAN
Mahasiswa Pasca Sarjana
Jurusan Pendidikan Islam II
NIM. 23111303-2
PASCA
SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA
ACEH
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk utuh ciptaan Allah yang
memiliki potensi beragama, ia dapat berkembang dengan potensi bawaan dan
pengaruh lingkungan. Manusia sebagai makhluk utuh tersebut terdiri dari tiga
pola dasar Jasmani, aqal dan rohani. Sebahagian
ahli berpendapat bahwa manusia tedridiri dari lima pilar, yaitu; Pertama Jasad
(bentuk lahiriah manusia), kedua Roh (daya hidup) ketiga Nafsi (jiwa) keempat
aqal (daya fikir) dan kelima Qalbu (dara rasa/perasaan).[1]
Jasad manusia adalah struktur partikel yang dalam
pori-pori partikel jasad berisi roh, jasad manusia akan habis terurai oleh alam
ketika roh keluar. Sedangkan roh itu sendiri berada dalam jasad bersifat
terikat secara muthlak, tidak bisa keluar masuk tanpa seizin atau kehendak. Roh
bersifat abadi, ia tidak mengalami kematian Allah. Roh tidak bersifat seperti
benda cair sehingga wujud roh itu tetap seperti wujud manusianya.
Jika roh dengan badan bersatu disebut dengan jiwa,
jika ia dicabut dari badan yang tinggal adalah jasad (mayat), disebut jiwa
karena ia yang mengatur badan, disebut roh keran kehalusannya. Namun berbeda
halnya dengan pemahaman Muktazilah, menurut mereka konsepsi roh adalah bahagian
dari jasad, ia adalah udara atau nafasyang dihembus oleh badan.[2]
Dari beberapa keterangan di atas, dapat
disimpulkan bahwa roh adalah wujud nurani yang tinggi, ringan, hidup dan
bergerak mengalir dalam jasad bagai mengalir air dalam bunga mawar, bagai
bergerak api dalam bara. Ketika roh masih dalah jasad, maka kita merasakan
wujud roh bergerak beriringan dengan jasad, tetapi ketika roh terpisah dengan
jasad, maka jasad akan mati.
Berdasarkan kerangka dasar pemikiran di atas
penulis mebahas makalah ini yang berjudul "Insan Kamil; Konsep Ketinggian Moralitas" dengan metode
analisi diskriptis, bermula dari penelitian dan penelahan bahah-bahan dasar
yang dijadikan pegangan perpustakaan kemudian penulis analisa dan menentukan
sebuah kesimpulan dari deduktif ke induktif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Insan Kamil
Insan kamil berasal dari dua kata, yaitu; Pertama
Insan berasal dari kata Al-Insan yang
berarti manusia, kedua Al-Kamil yang
berarti sempurna. Jadi insan kamil dapat diartikan manusia sempurna.
Manusia sempurna itu dapat dilihat dari
kepribadian Rasullullah Saw. Yang memiliki empat sifat yang wajib padanya dan
empat siafat yang harus padanya serta satu sifat yang mubah padanya.
B.
Tugas dan Fungsi Manusia
Konsep dasar tugas dan fungsi manusia adalah sebagai
khalifah di muka bumi, di samping itu manusia diciptakan untuk beribadahkepada
Tuhan (Allah). Beranjak dari tugas dan fungsi manusia secara umum, penulis
menspesifikasikan pembahasannya pada tugas dan fungsi insan kamil yang melekat
pada ciri-ciri karakter manusia sempurna, seperti yang telah tergambar pada
diri Rasulullah Saw.
1.
Memiliki Sifat Siddiq
(Jujur)
Jujur merupakan kata yang sangat sederahana dan
sering sekali kita jumpai, namun aplikasinya dalam kehidupan kadangkala
sebahagian kita masih setengah-setengah.[3]
Katagori pertama ciri-ciri manusia sempurna ini memiliki kejujuran dalam
perkataan dan perbuatan.
2.
Memiliki Sifat Amanah
(Terpercaya)
Amanah berarti dapat memegang dan menjalankan
sesuatu yang dipercayakan atau yang diamanahkan walaupun itu sesuatu bagi kita
kurang berharga.[4]
Kata amanah dijadikan ciri-ciri insan kamil karena sangat bernilai tinggi
peranannya dalam kehidupan, misalnya amanah anggota tujuh, yaitu; mata, lidah,
hidung, telinga, tangan, kaki, dan hati. Dipergunakan pada jalan yang benar
bagi si insan kamil.
3.
Memiliki Sifat Tabliqh
(Menyampaikan)
Menyampaikan sesuatu yang seharusnya didengar oleh
orang lain dan berguna baginya.[5]
Indikasi ini jadi bahagian barometer kapasitas insan kamil tidak hanya berilmu
dan beramal untuk dirinya sendiri dengan berkhalwat tanpa peduli pada orang
lain, tetapi ia juga mengemban tugas menyampaikan ilmunya sesuai kapasitas
penerimanya.
4.
Memiliki Sifat Fathanah
(Cerdas)
Ciri insan kamil kecerdasan, intelektual,
emosional dan spiritual.[6]
Insan kamil adalah orang yang memiliki tiga ranah kecerdasan tersebut di atas,
sifat cerdas yang seibang ini tidaklah dimiliki oleh semua orang, karena
manusia biasa banyak memiliki keterbatasan. Bagus intelegensi kurang bagus
ranah emosi, kadang juga bagus dua ranah namun kurang pas pada ranah spiritual,
maka ia bukanlah insan kamil.
C.
Relasi Manusia dengan Tuhan
Relasi Manusia dengan Tuhan penulis bahas melalui
tiga ranah, yaitu; Pertama ranah Ubudiyah (katagori biasa/manusia dengan Tuhan
terpisah), kedua ranah Fana (katagori istimewa/kadang terpisah kadang menyatu)
dan ranah ma'rifah (katagori paling tinggi/manusia menyatu dengan Tuhan)
1.
Ranah Ubudiyah
Pada tataran ubudiah relasi manusi dengan Tuhan pada
katagori biasa (manusia dengan Tuhan terpisah). Insan kamil memiliki sifat
tunduk secara sempurna, merasa hina di hadapan Allah dan mencintainya.
Kesempurnaan seorang hamba ditentukan oleh ibadahnya semakin banyak ibadahnya,
maka akan semakinbertambah sempurna.[7]
2.
Ranah Fana
Pada maqam fana konsep relasi manusia dengan Tuhan
pada katagori istimewa (kadang terpisah kadang menyatu). Menurut Abu Yazid
"Manusia pada hakikatnya seesensi dengan Allah, dapat bersatu dengan-Nya
apabila ia mampu meleburkan eksistensi (keberadaannya) sebagai suatu pribadi
sehingga ia tidak menyadari pribadinya (fana annafs).[8]
Fana annafs adalah hilangnya kesadaran
kemanusiaannya dan menyatu ke dalam iradah Allah, bukan jasad tubuhnya yang
menyatu dengan Dzat Allah. Menurut Al-Junaidi "Fana adalah hilangnya daya
kesadaran qalbu dari hal-hal bersifat inderawi karena adanya sesuatu yang
dilihatnya terus menerus sehingga tiada lagi yang dirasakan oleh inderawi.[9]
Dari beberapa pengertian di atas bahwa yang
melebur itu atau fana itu adalah kemampuan dan kepekaan mengangkat yang
bersifat materi atau inderawi, sedangkan materi (jasad) manusia tetap utuh dan
sama sekali tidak ada gangguan, yang hilang hanyalah kesadarannya akan dirinya
sebagai manusia.
3.
Ranah Ma'rifah
Pada tingkatan ma'rifah konsep relasi manusia
dengan Tuhan pada katagori paling tinggi (manusia menyatu dengan Tuhan).
Ma'rifat dari segi bahasa berarti pengetahuan dan pengalaman. Sedangkan menurut
istilah tasawuf ma'rifat didefenisikan pengenalan yang langsung tentang Tuhan
(Allah) yang diperoleh dari hati sanubari sebagai hikmah yang langsung dari
ilmu hakikat.[10]
Terkait relasi ma'rifat dengan ilmu hakikah,
ma'rifah lebih mengacu pada tingkatan kondisi mental, sedangkan hakikah
mengarah pada kualitas pengetahuan yang sempurna dan terang sehingga jiwanya
merasa menyatu dengan yang diketahuinya itu.
Secara umum mengenai ma'rifah, Ibnu Taimiyah
berasumsi bahwa "Mengenal Allah dan mengakui penghambaan kepada sang
khaliq merupakan suatu sifat yang fitri dalam watak insan, hanya saja
sebahagian manusia melalaikan fitrahnya".[11]
Untuk mencapai maqam ma'rifat ini para sufi harus
melakukan riyadhah rohaniah yang
sungguh-sungguh sebagai tasawuf amali. Amalan riyadhah rohaniah ini disebut Al-
Maqamat menuju kehadirat Tuhan
(Allah).[12]
Al-Halaj lebih tegas menyatakan relasi manusia
dengan Tuhan pada maqam ma'rifat ini, "Manusia mempunyai dua unsur sifat,
yaitu; Pertama unsur sifat ketuhanan (lauhut) dan yang kedua unsur sifat
kemanusiaan (nasut). Sedangkan Tuhan (Allah) juga memiliki dua unsur sifat,
yaitu; Pertama unsur sifat ilahiyah (lauhut) dan yang kedua unsur sifat
insaniah (nasut)"[13]
Menurut defesini Al-Halaj tentang relasi manusia
dengan Tuhan, dapat kita jabarkan bahwa, jika manusia meninggalkan unsur
kemanusiaan dan senantiasa mengembangkan unsur ilahiyah yang ada dalam dirinya
melalui fana, maka Tuhan (Allah) akan mengambil tempat dan menyatu pada unsur
ilahiyah melalui ma'rifah dengan perantara ilmu hakikah.
Asumsi di atas dapat kita buktikan secara emperikal seperti yang dialami oleh
Al-Halaj dalam ma'rifatnya ia mengalami fana rohaniyah dan merasa menyatu
dengan Tuhan (Allah) disebut dengan hulul
sehingga secara inderawi manusia mendengar ucapannya yang terkesan aneh dalam
kapasitas syar'i, "Ana Al-Haq"
(aku adalah kebenaran) sebahagian mengartikan "aku adalah Tuhan"
inilah yang dianggap sesat oleh para pengkritisinya.[14]
Sangat disayangkan khazanah pemikiran Islam yang
dijalani Al-Halaj melalui riyadhah rohaniah
hingga ia mencapai ma'rifah, berujung pada vonis sesat dan dihukum gantung oleh
para syar'iyah. Peristiwa yang sama dengan Al-Halaj juga dialami oleh Hamzah
Al-Fansuri. Pada hakikatnya apapun yang terucap secara inderawi oleh penganut
sufi dalam fana yang sedang mencapai ma'rifah, itu disebut Syatahat. Syatahat dalam konsep tasawuf adalah ucapan sufi yang
keluar pada saat mencapai puncak mabuk spiritual.[15]
Insan kamil dalam kontek manusia sempurna,
memiliki keseimbangan cinta tiada tara kepada Allah (Al-Hubbu fillah) dan segenap perhatian telah tertuju dan terhadap
kepada Allah (Tawajjuh Lillah),
sehingga relasinya dengan Tuhan (Allah) mencapai puncak tertinggi secara rohaniah
menyatu dalam fana melalui ma'rifat.[16]
D.
Konsep Tasawuf dalam
Memetakan Eksistensi Manusia
Insan kamil menurut konsep sufi adalah manusia
sempurna yang berhasil mencapai puncak prestasi tertinggi.[17] Pencapaian moralitas yang paling tinggi bagi golongan sufi adalah
memperoleh hubungan langsung dengan Allah, sehingga dirasakan berada di hadirat
Allah. Berada di hadirat Allah diyakini sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang
hakiki. Berada di hadirat Allah, para sufi berbeda konsep pemahaman, sebagaian
mereka mengatakan Allah sebagai puncak kecantikan dan kesempurnaan. Sebahagian
lagi mengartikan sebagai iradhah dan juga disebut ilmu atau ma'rifah.[18]
Konsep insan kamil berpatokan pada diri
kepribadian Rasulullah Muhammad Saw. Sebagai manusia sempurna (idieal). Di Samping itu, jati diri
Muhammad (al-Haqiqah Al-Muhammad)
diyakini bukan semata-mata Muhammad Saw. Sebagai utusan Allah, tetapi juga
sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di dunia
ini.[19]
Gagasan konsep filosofi insan kamil dipopulerkan
oleh Ibnu Arabi, Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Gagasan ini dikembangkan
menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak Tasawuf Filosofis.[20]
Untuk mencapai puncak prestasi ma'rifah para sufi
memiliki konsep tentang jalan menuju Allah melalui latihan-latihan rohaniah (riyadhah rohaniah) yang dilakukan secara
bertahap dalam menempuh berbagai fase/tingkatan-tingkatan (maqam) dengan berbagai hal
ihwal.[21]
Tingkatan yang dijalani oleh para sufi menurut
Imam Al-Ghazali terdiri dari; Taubat, zuhud, sabar, faqr, tawakkal, khauf,
raja' dan mahabbah.[22]
Menurut Ibnu Taimiah, tingkatan sufi selain yang disebutkan oleh Imam
Al-Ghazali, beliau menambahkan; Ridha, ubudiah, fana dan ma'rifah.[23]
1). Taubat
adalah
kembali dari yang dicela syara' menuju kepada sesuatu yang dipuji syara'.
Menurut Imam Al-Ghazali taubat dari dosa berarti kembali kepada tirai yang bisa
menutup dosa dan kembali kepada dzat yang murni yang mengetahui alam ghaib
adalah prinsip pertama salah seorang salik.[24]
Taubat secara umum diklasifikasikan dalam tiga
Tingkatan, yaitu; pertama perhentian awal dari perbuatan dosa yang dilakukan
jasad (anggota badan), kedua kembali pada perhentian dosa yang dilakukan jasad,
juga bertitik fokus pada pangkal dosa, seperti; dengki, sombong dan ria, ketiga
taubat menyangkut usaha menjauhkan diri dari bujukan syaitan dan menyadarkan
jiwa akan rasa bersalah, keempat taubat berarti penyesalan diri atas kelengahan
fikiran dalam mengingat Allah. Taubat pada tingkat terakhir ini adalah
penolakan terhadap segala sesuatu yang dapat memalingkan diri dari jalan Allah.
2). Zuhud
Zuhud berarti tidak mendewakan kemewahan dunia,
maksudnya tidak tertarik pada dunia dan meninggalkan perhiasan dunia yang
menggiyurkan dan bersifat sementara itu yang mengganggunya mencapai ridha
Allah. Hal ini merupakan cirikhas orang-orang shaleh. Imam Al-Ghazali lebih
ekstrem mengartikan zuhud, menurutnya zuhud adalah membenci dunia mencintai
akhirat.[25]
Dilihat dari asumsi di atas tentang zuhud, secara
umum dapat diklasifikasikan tiga tingkatan, yaitu; pertama menjauhkan kemewahan
dunia yang melalaikan/terlena agar terhindar dari hukuman di akhirat, kedua menjauhi
perburuan kemewahan dunia dengan menimbang imbalan akhirat lebih sempurna, dan
ketiga mengucilkan dunia bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta
kepada Allah semata. Pemahaman sufi pada tingkatan ini menganggap segala
sesuatu yang ada di dunia ini tidak bernilai apa-apa, kecuali hanya Allah yang
ia cari.
3). Sabar
Dalam menempuh maqamad diperlukan kesabaran yang
sangat tinggi. Sabar merupakan sifat manusia yang beriman dan bertaqwa. Imam
Al-Ghazali mendefenisikan sabar dalam kontek sufi berarti kesemanyaman pembangkit
ketaatan sebagai ganti bangkit hawa nafsu, karena ibadah fardhu tidak akan bisa
dilaksanakan dan maksiat tidak akan bisa ditinggalkan jika seseorang tidak
memiliki sifat sabar.[26]
Masih dalam kontek sufi, Imam Junaidi
mendefenisikan sabar sebagai dorongan jiwa agar senantiasa bersama Allah tanpa
merasa repot atau susah. Sedangkan menurut Sahl At-Tusturi sabar berarti
menanti kelapangan (jalan keluar dari Allah). [27]
4). Faqr
Kekurangan harta yang diperlukan seseorang dalam
menjalani kehidupan di dunia ini, sifat faqr ini menjadi penting dimiliki oleh
orang yang sedang menuju Allah, karena kekayaan atau kebanyakan harta
memungkinkan manusia dekat dengan kejahatan dan belebih-lebihan.
Menurut Ibnu Qudamah Faqr adalah orang yang
berhajad kepada sesuatu. Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali sifat Faqr ini
senantiasa berhajad kepada Allah sebagai buah dari iman dan ma'rifat yang
mendalam sehingga dalam pandangan hati si faqr bahwa ia selalu berhajad kepada
Allah.[28]
5). Tawakkal
Menyerah diri kepada Allah, merupakan salah satu
bentuk kearifan insan kamil. Tawakkal dilakukan dengan meposisikan diri di
hadapan Allah penuh pasrah dan ikhlas.[29]
Defenisi lain dijelaskan oleh Amin Syukur dalam bukunya Tasawuf Kontektual bahwa tawakkal menggantungkan diri secar rohaniah
kepada Allah, merasa tenang dengan apa yang telah diberi, dan bersabar ketika
terhalangi demi cinta kepada rabbnya.[30]
6). Khauf
Rasa takut kepada Allah sangat berbeda dengan rasa
takut kepada makhluk Allah, karena takut kepada Allah bukanlah menghindari-Nya
tetapi semakin mendekatinya. Menurut Imam Al-Ghazali, jika seseorang telah
memiliki rasa takut kepada Allah dan ia semakin mendekati Allah dan Allah
menguasai hatinya kemudian ia tidak menunggu hari esok untuk kembali pada
Tuhannya. [31]
7). Raja'
Pengharapan hati menanti sesuatu yang dicintai
atau didambakan olehnya, maka ia akan mendahulukan segala sesuatu untuk yang
dicintainya yang akan didapatkan hari esok. Raja' terbagi tiga model, yaitu;
Pertama Mengharapkan Allah, kedua mengharapkan keluasan rahmat dan kasih sayang
Allah, dan ketiga mengharapkan pahala dari Allah.[32]
8). Mahabbah
Cinta merupakan roh tasawuf yang menjadi pilar
utama Islam dan inti dari Ajaran. Cinta dalam kontek ini mencerminkan
kecemerlangan insan kamil yang memiliki hati cenderung pada sesuatu kenikmatan
kebahagiaan sesugguhnya yang tiada tara, sehingga ia mencurahkan segenap daya
dan upaya untuk menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan yang
dicintainya.[33]
Gambaran ketinggian mahabbah dapat dilihat dari
syair Rabi'ah Al-Hadawiya, yaitu; "Tuhanku (Allah), jika aku mengabdi
kepada-Mu karena takut neraka-Mu, maka lemparkanlah aku kedalamnya. Jika aku
mengabdi kepada-Mu karena mengejar syurga-Mu, jangan engkau masukkan aku
kedalamnya, tetapi jika aku menyembah-Mu karena hanya karena cintaku pada-Mu
janganlah Engkau menutup wajahmu dari pandanganku".[34]
Mahabbah adalah sekte sufi paling tinggi dalam
mengenal Allah, disebut dengan ma'rifah. Al-Hub juga mempunyai pemahaman
terpadunya segala kecintaan hanya untuk Allah semata sehingga adanya rasa
kebersaan dengan Allah, seluroh jiwa, rasa dan segenap ekspresi hanya diisi
dengan rasa cinta kepada Allah. Rasa cinta dan kerinduan yang tumbuh dalam diri
manusia karena keindahan dan kesempurnaan Dzat Allah, tiada motivasi yang lain
kecuali kasih Allah.[35]
Fariduddin dalam bukunya Sufi Agung mengutip sya'ir produk sufi ma'rifat mahabbah yaitu;
"Ya Allah, segala kesibukan dan hasratku yang penuh dengan hal-hal
duniawi, adalah untuk mengingat-Mu, dan akhirat penuh dengan hal-hal akhirat
adalah untuk berjumpa dengan-Mu".[36]
BAB II
KESIMPULAN
Cinta kepada Allah (mahabbatullah) dan cinta
kepada Rasul-Nya merupakan seagung-agungnya keimanan yang merupakan puncak dari
setiap amal perbuatan insan kamil yang memiliki dua kebahagian, baik dunia
maupun akhitrat.
Cinta merupakan roh tasawuf yang menjadi pilar
utama Islam dan inti dari Ajaran. Cinta dalam kontek ini mencerminkan
kecemerlangan insan kamil yang memiliki hati cenderung pada sesuatu kenikmatan
kebahagiaan sesugguhnya yang tiada tara, sehingga ia mencurahkan segenap daya
dan upaya untuk menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan yang
dicintainya.
Mahabbah adalah sekte sufi paling tinggi dalam
mengenal Allah, disebut dengan ma'rifah. Al-Hub juga mempunyai pemahaman
terpadunya segala kecintaan hanya untuk Allah semata sehingga adanya rasa
kebersaan dengan Allah, seluroh jiwa, rasa dan segenap ekspresi hanya diisi
dengan rasa cinta kepada Allah. Rasa cinta dan kerinduan yang tumbuh dalam diri
manusia karena keindahan dan kesempurnaan Dzat Allah, tiada motivasi yang lain
kecuali kasih Allah.
Menuding dan menghukum sesat para sufi yang
mengalami syatatah seharusnya tidak terjadi, karena yang dapat ditangkap dengan
inderawi manusia berbeda dengan yang sedang mereka alami di dalam fana mencapai
ma'rifatullah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Fattah Sayyid Ahmad, Tasawuf Antara Al-ghazali dan Ibnu Taimiyah,
(Jakarta: Khalifa, 2005)
Ahmad Rofi'utsmani, Sufi dari Zaman Kezaman, (Bandung : Balai Pustaka, 1985)
Ahmad Ibnu Taimiyah, Risalah Tasawuf Ibnu Taimiah, (Jakarta : Hikmah, 2002)
Al-Ghazali, Mutiara Ihya'ulumuddin, (Bandung: Mizan, 1998)
Amin Syukur, Tasawuf Kontektual, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2003)
A. J. Arberry, Tasawuf Versus Syari'ah, (Jakarta :
Hikmah, 2000)
Fariduddin 'Athathar, Sufi Agung, (Jakarta : Pustaka Zahara, 2005)
Hamka, Tasawuf Modern, (Jakarta: Panjimas, 1998)
Rama Yulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta :
Kalam Mulia, 2008)
Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik Neo-Sufisme, (Jakarta
: Raja Grafindo Persada, 2002)
Sudirman Tebba, Tasawuf Positif, (Jakarta :
Prenada Media, 2003)
Supiana dan M. Karman, Materi Pendidikan Agama Islam, (Bandung : Remaja Rosda
Karya, 2003)
Zakiah
Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam,
(Jakarta: Bumi Aksara. 1992)
[2] Sudirman Tebba, Tasawuf
Positif, (Jakarta :
Prenada Media, 2003), h. 227
[5] Rama Yulis, Ilmu Pendidikan...
h. 32
[9] Ahmad Ibnu Taimiyah, Risalah
Tasawuf… h. 146
[15] Sudirman Tebba, Tasawuf
Positif… h. 230
[17] Rivay Siregar, Tasawuf dari
Sufisme Klasik Neo-Sufisme, (Jakarta :
Raja Grafindo Persada, 2002), h.124
[22] Abdul Fattah Sayyid Ahmad, Tasawuf
Antara Al-ghazali dan Ibnu Taimiyah, (Jakarta :
Khalifa, 2005), h. 111
[24] Abdul Fattah Sayyid Ahmad, Tasawuf
Antara Al-ghazali… h. 117
[27] Abdul Fattah Sayyid Ahmad, Tasawuf
Antara Al-ghazali… h. 120
[28] Supiana dan M. Karman, Materi
Pendidikan Agama Islam, (Bandung :
Remaja Rosda Karya, 2003), h. 228
[34] A. J. Arberry, Tasawuf Versus
Syari'ah, (Jakarta :
Hikmah, 2000), h. 54
[35] Rivay Siregar, Tasawuf dari
Sufisme Klasik… h.124
[36] Fariduddin 'Athathar, Sufi
Agung, (Jakarta :
Pustaka Zahara, 2005), h. 87

Tidak ada komentar:
Posting Komentar