1. Apa yang dimaksud dengan "Ilmu-ilmu
Kemanusiaan" dalam konteks disiplin ilmu-ilmu yang diajarkan di pasca UIN? Uraikan!.
Tuntunan sosial-hukum-politik-ekonomi
Islam yang diajarkan Allah Swt. dan dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Tetapi
kadang kita lebih memilih tuntunan hasil kajian manusia dengan ilmu umum saja. Ulama dan Pemerintah,
yang sadar bahwa tuntunan agama (Islam) itu komplek mencakup semua aspek kehidupan
sosial-politik juga, yang harus mengoreksi secara mendasar. Pemerintah Negarayang mayoritas muslim seharus lebih
serius mengevaluasi ‘kebenaran’ kandungan ilmu sosial-politik yang selama ini diterapkan
dengan tingkat keyakinan tinggi di negerinya, dianut oleh banyak profesor,
doktor, ilmuan, pakar, mahasiswa, untuk dikolerasikan dengan ajaran Al-Qur’an
dan Sunnah Nabi.
Negara Iran misalnya, memulai rintisan ke arah itu. Atas perintah
Ayatollah Ali Khameini, seorang Ulama besar, Penguasa Tertinggi Iran, maka akan
dilakukan koreksi terhadap Kandungan Ilmu Sosial, antara lain: Hukum, Studi Perempuan, HAM, Manajemen, Ekonomi,
Filsafat, Psikologi, dan Ilmu Politik. Ilmu-ilmu Sosial
tersebut dikatakan akan ditinjau ulang kandungannya. Kandungan ilmu sosial
tersebut akan diselaraskan dengan tuntunan Islam. Ayat Al-Qur’an dan Sunnah
Nabi memiliki banyak tuntunan tentang masalah sosial-politik-ekonomi tersebut.
Pemerintah Iran juga akan merombak kandungan kurikulum ilmu sosial yang ada di
negerinya.
Sedangkan Indonesia, masihkah akan
memakai hasil kajian ilmu sosial-politik-ekonomi-budaya yang tidak selaras dengan
ajaran Islam dalam praktek pembuatan kebijakan nasionalnya. Maka sangat urgen mengoreksi kekeliruan ilmu sosial di negerinya untuk disesuaikan
dengan tuntunan Islam bidang sosial-hukum-politik-ekonomi demi kejayaan umat dan bangsanya.
2. Sejauh mana disiplin ilmu agama dan kenanusiaan
dapat diharapkan untuk memahami lebih konperensif tentang bagaimana kaitan dan
relevansi antara " ilmu agama" dengan ilmu-ilmu lain?
Islam adalah ajaran yang bersumberkan Al-Qurán dan hadits nabi,
rupanya hal itulah yang menjadikan mudah memahaminya. Ketika agama dipandang
sebagai ilmu tentang fiqh, tauhid, akhlak, dan tasawwuf, maka yang dipikirkan
adalah, bagaimana mengkaitkan antara ajaran tersebut dengan ilmu
fisika, biologi, kimia, psikologi, sosiologi, antropologi dan lain-lain.
Tentu bukan pekerjaan mudah, mereka tidak mudah membayangkan, misalnya hubungan
antara wudhu dengan fisika, shalat dengan kimia dan seterusnya dihubung-hubungkan.
Mereka yang memahami Al-Qurán sejak ayat pertama diturunkan adalah
tentang perintah mengembangkan ilmu pengetahuan. Suruhan membaca adalah
sebagai pertanda betapa pentingnya persoalan itu ditunaikan. Perintah membaca
tentu dimaknai luas. Orang yang sanggup melakukan kegiatan membaca, maka
siapapun akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas. Berangkat dari sini maka
akan tampak dengan jelas, hubungan membaca sebagai perintah yang datangnya dari
Al-Qurán dengan ilmu pengetahuan sebagai sebuah hubungan yang pas dan indah.
Orang sukses di bidang ekonomi, politik, sosial dan lain-lain adalah
dimulai dari kemampuan mereka dalam membaca. Lagi pula kegiatan membaca
ternyata tidak mudah. Orang yang sanggup membaca kekuatan-kekuatan ekonomi,
politik dan sosial ternyata tidak banyak. Kemampuan itu memerlukan bekal
berupa kecerdasan dan alat bacaan yang tangguh. Mereka yang pandai
dan memiliki kemapuan untuk membaca, maka itulah akhirnya yang akan
mendapatkan keutungan dalam kehidupan ini.
Lebih dari itu, banyak lagi ayat Al-Qurán berupa perintah
untuk memperhatikan kejadian dan kehidupan alam, mulai dari kejadian
manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Al-Qurán menyuruh manusia memperhatikan
bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan, gunung-gunung
ditegakkan. Bukankah perintah itu sebenarnya mengandung arti bahwa umat Islam
dianjurkan untuk mempelajari fisika, kimia, biologi, astronomi dan lain-lain.
Oleh karena itu, kesulitan mengaitkan antara
Islam dan ilmu pengetahuan berawal dari bagaimana memahami Islam itu
sendiri. Mereka yang memahami Islam sebatas sebagai tuntunan ritual sebagaimana
banyak terjadi selama ini, memang akan sulit mencari keterkaitan di antara
keduanya. Namun bagi mereka yang berpikirnya berangkat dari Al-Qurán dan
hadits, maka hal itu sangat mudah. Bahkan mereka akan mengatakan bahwa antara
ilmu dan Islam tidak akan bisa dipisahkan di antara keduanya.
3. Sejauh ini agama (misalnya agama Islam) dipahami
dan didekati lewat kajian ilu fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, balaghah,
qira'ah, dan sejenisnya. Dapatkah pendekatan ini dipertahankan terus atau ada alternative
lain yang lebih dapat melengkapi, sehingga agama dapat dipahami sebagai
"realitas kehidupan " atau sebagai "hal lain" di luar
kehidupan nyata? Uraikan.
Tidak sedikit tokoh agama mengkhawatirkan
adanya gejala yang mereka lihat, yaitu semakin berkurangnya para peminat
bidang studi ilmu-ilmu agama Islam. Perguruan tinggi
Islam yang selama ini mengembangkan bidang studi ilmu-ilmu ke Islaman, seperti
ushuluddin, adab, syariáh, tarbiyah, dan dakwah kurang diminati. Umumnya hanya
fakultas/jurusan syariáh dan tarbiyah yang masih bertahan.
Kegelisahan itu tidak saja dirasakan oleh kalangan
pengelola program studi itu, tetapi para masyarakat juga menanggung imbasnya,
akibat kemerosotan peminat bidang studi itu, dianggap sebagai kemuduruan dan
bahkan kecelakaan di kemudian hari. Bagaimana program studi yang disebut
sebagai rumpun kajian agama, harus tetap hidup.
Orang yang berlatar belakang ilmu fisika, kimia, biologi,
kedokteran, antariksa, psikologi, sodsiologi, ekonomi, dan lain-lain, juga harus
bersemangat dan bersungguh-sungguh menjalankan dan menyebarkan agamanya dengan
gigih. Pemahaman mereka tentang Islam akan mendalam dengan disiplin ilmu yang
dimiliki justru menjadikan pemahaman mereka terhadap kitab suci dan tradisi
kehidupan rasul (hadits) menjadi lebih mendalam. Demikian juga, dengan
berbekalkan pengetahuan kitab suci dan hadits nabi, mereka berhasil
mengembangkan disiplin ilmu secara lebih luas dan juga lebih utuh.
Kesadaran itu harus semangat dibangun pusat-pusat riset dan juga
lembaga pendidikan yang memadukan antara kajian yang bersumber dari Al-Qurán
dan hadits, dan sekaligus hasil-hasil observasi, eksperimen, dan penalaran
logis. Kitab suci dan hadits nabi diposisikan sebagai ayat-ayat qawliyah,
sedangkan hasil-hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis, sebagai
ayat-ayat kawniyah. Pengembangan ilmu secara utuh tersebut akan menghasilkan
pemahaman dan atau penjelasan yang lebih sempurna, comprehensive dan
mendalam. Namun sayangnya gerakan ini, masih pada taraf perintisan, atau
bahkan baru sebatas wacana, sehingga hasilnya belum banyak bisa dilihat
Atas dasar kenyataan-kenyataan itu, sebenarnya tidak ada sesuatu
yang perlu dikhawatirkan tentang studi agama Islam, namun keberadaan
jurusan-jurusan studi Islam sangat penting, Studi Islam dapat
dikembangkan kapan dan di manapun oleh umat Islam, bisa dikembangkan oleh
mereka yang berlatar belakang disiplin ilmu apa saja. Sepanjang masih ada
orang-orang yang mencintai Al-Qurán dan rasulnya, maka Islam yang dibawa
oleh Muhammad Saw., akan tetap tumbuh dan berkembang.
Tidak ada pihak manapun yang merasa memiliki otoritas
lebih dalam mengembangkan kajian Al-Qurán dan hadits. Sebab pada hakekatnya,
kitab suci tersebut diturunkan untuk semua manusia, sebagai petunjuk, pembeda,
penjelas, rakhmat, dan bahkan juga sebagai ashifa’. Al-Qurán dan
hadits terbuka bagi siapapun yang mengkajinya. Apalagi jika kita jeli
mengamati sejarah dan juga kenyataan-kenyataan yang ada selama ini, Islam
berkembang di berbagai tempat juga atas usaha banyak orang dari berbagai latar
belakang dan juga dari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, sepanjang
Al-Qurán dan rasul masih dicintai, maka Islam akan berkembang dan
maju. Kemajuan itu bukan hanya tergantung pada adanya jenis program studi
tertentu, melainkan pada kecintaan banyak orang terhadap kitab suci
tersebut, dan sosok pribadi pembawa risalah itu, yaitu Muhammad Saw.
4. Sejauh mana dan bagaimana seharusnya
"pemahaman dan pengamalan suatu agama"dapat memberi ethos kepada si
pemeluknya?Ada orang yang melandasi hidupnya pada ethos agama, ada juga pada
ethos lainnya?jelaskan dan berikan contoh apapun jawabannya.
Etos berarti watak atau karakter seorang
individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai
dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita,
dalam semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun
non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah
keduniaan atau akhirat.
Islam sebagai agama yang bertujuan mengantarkan hidup manusia kepada
kesejahteraan dunia dan akhirat, lahir dan bathin, Islam telah membentangkan
dan merentangkan pola hidup yang ideal dan praktis. Pola hidup Islami tersebut
dengan jelas dalam Alqur’an dan terurai dengan sempurna dalam sunnah Rasulullah
Saw. Islam membuka pintu aktivitas setiap muslim agar ia dapat memilih amal
yang sesuai dengan kemampuannya, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak
membatasi suatu pekerjaan secara khusus kepada seseorang, kecuali demi pertimbangan
kemaslahatan masyarakat. Islam tidak akan menutup peluang kerja bagi seseorang,
kecuali bila pekerjaan itu akan merusak dirinya atau masyarakat secara fisik
atau pun mental.
Beraktivitas islami bertumpu pada akhlakul karimah, umat
Islam akan menjadikan akhlak sebagai energy batin yang terus menyala dan
mendorong setiap langkah kehidupannya dalam koridor jalan yang lurus. Semangat
dirinya adalah minallah, fi sabililah, ilallah (dari Allah, di jalan
Allah, dan untuk Allah).
Ciri-ciri orang yang mempunyai dan menghayati etos hidup dengan
pemahaman dan pengamalan agama akan tampak dalam sikap dan tingkah laku yang
dilandaskan pada satu keyakinan yang mendalam bahwa beraktivitas itu ibadah dan
berprestasi itu indah. Adanya panggilan dari hati untuk terus nenerus
memperbaiki diri, mencari prestasi dan tampil sebagai bagian dari umat yang
terbaik.
Adapun karakter etos hidup muslim diantaranya, yaitu; pertama
menghayati, memahami dan merasakan betapa berharganya waktu. Waktu adalah asset
ilahiyah yang sangat berharga, mengabaikannya akan diperbudak
kelemahan namun jika memanfaatkannya dengan baik maka berada di atas jalan
keberuntungan. Seorang muslim bagaikan kecanduan waktu. Dia tidak ingin ada
waktu yang hilang dan terbuang tanpa makna. Jiwanya merintih bila ada satu
detik berlalu tanpa makna. Baginya, waktu adalah rahmat yang tidak terhitung.
Pengertian terhadap makna waktu merupakan rasa tanggung jawab yang sangat besar
atas kemuliaan hidupnya. Sebagai konsekwensinya, dia menjadikan waktu sebagai
wadah produktivitas, tidak melewatkan waktun seditik pun kehidupan ini tanpa
memberi arti.
Kedua beraktivitas dengan hati ikhlas,
Sehingga ia memandang tugasnya sebagai pengabdian, sebuah keterpanggilan untuk
menunaikan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk amanah yang seharusnya ia
lakukan. Motovasi unggul yang ada hanyalah pamrih pada hati nuraninya sendiri,
kalaupun ada imbalan itu bukanlah tujuan utama melainkan sekedar akibat
sampingan dari pengabdiannya tersebut. Sikap ikhlas bukan hanya output dari
cara dirinya melayani, melainkan juga input yang membentuk kepribadiannya
didasarkan pada sikap yang bersih. Bahkan, cara dirinya mencari rezeki, ikhlas
merupakan energy batin yang akan membentengi diri dari segala yang kotor.
Ketiga berprilaku jujur seorang muslim
harus didominasi kejujuran, dengan demikian, di dalam jiwa seorang yang jujur
itu terdapat komponen nilai ruhani yang berpihak kepada kebenaran dan sikap
moral yang terpuji. Prilaku yang jujur adalah prilaku yang diikuti oleh sikap
tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya (integritas). Kejujuran dan
integritas dapat mendorong sikap untuk siap menghadapi resiko dan bertanggung
jawab.
Keempat Pribadi muslim yang percaya diri
tampil bagaikan lampu yang benderang, memancarkan raut wajah yang cerah dan
berkharisma. Orang yang berada di sekitarnya merasa tercerahkan, optimis,
tentram, dan mutma’innah. Percaya diri melahirkan kekuatan,
keberanian, dan tegas dalam bersikap. Orang yang percaya diri, tangkas
mengambil keputusan tanpa tanpak arogan atau defensive dan mereka tangguh
mempertahankan pendiriannya.
Kelima Takwa merupakan bentuk rasa
bertanggung jawab yang dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dengan menunjukan
amal prestatif di bawah semangat pengharapan ridha Allah, sehingga sadarlah
bahwa dengan bertaqwa berarti ada semacam nyala api di dalam hati yang
mendorong pembuktian atau menunaikan amanah sebagai rasa tanggung jawab yang
mendalam atas kewajiban-kewajiban sebagai hamba Allah. Tanggung jawab
mengandung makna menanggung dan memberi jawaban, dengan demikian pengertian
taqwa yang kita tafsirkan sebagai tindakan bertanggung jawab dapat
didefinisikan sebagai sikap dan tindakan seorang di dalam menerima sesuatu
sebagai amanah; dengan penuh rasa cinta, ia ingin melakukannya dalam bentuk
pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.
Keenam Siap bersaing, bersanding, dan
semangat bertanding, hal ini merupakan
sisi lain dari citra seorang muslim yang memiliki semangat jihad. Panggilan
untuk bertanding dalam segala lapangan kebajikan dan meraih prestasi, dihayatinya
dengan rasa penuh tanggung jawab pantang menyerah pada kegagalan. Islam sebagai
agama yang syamil dan kamil juga memberikan guideline
tentang etos hidup yang menjadikan kehidupan itu bukan hanya sebagai mencari
rezeki akan tetapi lebih dari berdimensi transendental dan sekaligus identitas
kemanusiaannya itu sendiri.
5. Bagaimana anda jelaskan ketika ada tema:
"membudayakan agama atau meng-agamakan budaya." Apa makna tema
tersebut? Mana yang efektif di antara keduanya dan apa solusi anda.
Kebudayaan adalah suatu nilai hidupyang dijelmakan
oleh faktor daya akal dan daya rasa manusia. Hasil daripada kegiatan berfikir dan
merasa manusia dalam bentuk perbuatan yang dipanggil juga cara
Pengertian dibagi dua, yaitu; pertama Pengertian ilmiah yang
luas meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, ilmu dan seni falsafah. Kedua
Pengertian terbatas tertumpu kepada seni saja. Menyangkut karya manusia,
perkembangan tubuh badan, akal dan semangat melalui latihan dan pengalaman,
bukti perkembangan (seni, sains) dan segala kesenian, kepercayaan, institusi
sosial yang merupakan sifat sebuah ‘Kebudayaan’ gabungan dua kata ‘budi’ dan
‘daya’. Budi terletak dihati, daya kelakuan, perbuatan, tindakan. Dalam Islam
hati penentu segala nilai norma-norma hidup, termasuk segala perbuatan.
Membudayakan Islam merupakan satu cara hidup yang lahir dan menjelma
daripada keimanan. Merangkumi segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan
kesenian Islam. Merupakan manifestasi daripada keimanan dan ketakwaan.
Melihat reality masyarakat kita pada hari ini, terlalu banyak gejala
dan kebiasaan yang perlu kita perbaiki agar segalanya selari dengan acuan
Islam. Kita tidak boleh memisahkan Islam dari kehidupan. Islam adalah
segala-galanya, Islam adalah cara hidup! Bukan hanya Islam ketika majlis akad
nikah, majlis bacaan Yaa Sin dan tahlil, ketika kematian, tetapi ia meliputi
segala sistem, setiap inci dalam kehidupan dari sekecil-kecil perkara hingga ke
sebesar-besarnya.
Hari ini, masih terdapat saluran yang cuba memesongkan masyarakat
kita dari mengikut cara hidup Islam sebenar..Tidak dinafikan, media massa kini
memainkan peranan yang cukup besar dalam mempengaruhi kehidupan sesebuah
masyarakat. Hal ini kerana, masyarakat menonton, membaca, melihat apa yang
dibentangkan dihadapannya. Jika kebaikanlah yang dibentangkan, maka baiklah
masyarakat tersebut.Jika sebaliknya, maka rosaklah masyarakat dan boleh
menyebabkan kehidupan mereka terseleweng dari landasan Islam sebenar.
Hari ini, rakyat dan masyarakat kita di Malaysia masih buta dengan
cara hidup Islam yang syumul dan tulen. Masakan tidak, mereka dihidangkan
dengan pelbagai bentuk hiburan, politik lucah dan porno, perkara-perkara
yang melalaikan, dan memperbodohkan minda masyarakat. Masyarakat
didoktrin untuk takut dengan Islam, takut melaksanakan hukuman Islam,
mengagung-agungkan hiburan, lagho, kelalaian yang merugikan!! Jika anda lakukan
perkara tersebut kerana jahil, maka bertaubatlah dan kembalilah kepada Islam
yang sempurna. Carilah hidayah dariNya agar kita bisa meniti hari dalam
kehidupan dengan redha dan rahmat Allah SWT.
Membudayakan agama dan mengagamakan budaya dapat dilakukan apabila; Tidak
bertentangan dengan ajaran Islam, Tidak melalaikan manusia, Melahirkan hubungan
baik antara manusia dengan Allah SWT. dan manusia sesama manusia, Mengagungkan
Pencipta. Tidak mengkebirin syari'at dalam bentuk ibadat yang khusus, tetapi merupakan
cara hidup yang menyeluruh termasuk aspek kebudayaan. Fungsi manusia sebagai
khalifah memakmurkan bumi. Manusia perlu mengislamkan budaya tersebut supaya
meliputi segala aspek kahidupan.
6. Apa
signifikansinya mempelajari anthropologi agama? Prinsip agama yang mana yang
dapat di jelaskn oleh ilmu ini. Uraikan!
Studi Agama dan Studi Islam kontemporer perlu memperhatikan
“perbedaan tafsir keagamaan” pada level historisitas,
meskipun idealnya memang tak perlu adanya perpecahan karena
bersumber dari sumber ajaran normative yang sama, yaitu teks-teks atau
nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah. Realitas seperti ini berlaku untuk semua
penganut agama-agama besar dunia, baik yang Abrahamik (Yahudi, Kristen,
Islam) maupun agama-agama non Abrahamik (Hindu, Budha, Konghucu, Sikh,
Bahai dan lain-lain), serta tradisi-tradisi atau agama lokal yang lain
selain yang disebut di atas.
Karena rumit dan kompleknya situasi yang
dihadapi maka pendekatan antropologi terhadap agama
diperlukan untuk memberi wawasan
keilmuan yang lebih komprehensif tentang entitas dan
substansi agama yang sampai sekarang masih
dianggap sangat penting untuk membimbing kehidupan
umat manusia baik untuk kehidupan pribadi, komunitas, sosial,
politik maupun budaya para penganutnya. Diperlukan ‘peta’ wilayah yang
cukup jelas sebelum masuk ke jantung kota yang sangat kompleks, minimal untuk
mengetahui jalan-jalan protokol supaya tidak tersesat jalan, syukur kalau
dapat diperoleh dan dilengkapi peta yang lebih detil sampai menjangkau ke
jalan-jalan kecil, gang-gang, nomor rumah yang dituju dan begiutu
seterusnya.
Pendekatan antropologi terhadap entitas keberagamaan dan
entitas keilslaman adalah ibarat pembuatan peta yang dimaksud. Pendekatan
antropologi bersikap deskriptif, melukiskan apa adanya dari realitas yang
ada, dan bukannya normative, dalam arti tidak ada keinginan dari si
pembuat peta untuk mencoret, menutup atau tidak menggambar atau
menampilkan alur jalan yang dianggap kira-kira tidak enak atau berbahaya
untuk dilalui. Pendekatan antropologi harus bersikap jujur, apa adanya, tanpa
ada muatan interes-interes atau kepentingan tertentu (golongan, ras, etnis,
agam, gender, minoritas-mayoritas) untuk tidak membuat peta
(keagamaan manusia) apa adanya.
Bedanya dari corak pendekatan Teologi (dalam Kristen) atau Kalam dan
fikih (dalam islam) lama, yang kadang tidak ingin menampilkan gambar dan peta
keagamaan apa adanya karena adanya interes-interes golongan
keagamaan (sekte, madzhab, organisasi keagamaan) seperti penekanan
pentingnya pada sejarah penyelamatan yang ditawarkan oleh agama
tertentu dengan mengesampingkan agama-agama lain sehingga peta atau gambar
yang dibuat menjadi kabur dan tidak begitu jelas untuk melihat agama-agama
secara utuh dan komprehensif.
Pendekatan antropologi terhadap agama, yaitu; Pertama,
bercorak descriptive,
bukannya normatif. Pendekatan antropologi bermula dan diawali dari
kerja lapangan (field work), berhubungan dengan
orang, masyarakat, kelompok setempat yang diamati dan diobservasi
dalam jangka waktu yang lama dan mendalam. Inilah yang biasa disebut
dengan thick description
(pengamatan dan observasi di lapangan yang dlakukan secara
serius, terstuktur, mendalam dan berkesinambungan). Thick description
dilakukan dengan cara antara lain Living in , yaitu hidup
bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti ritme dan pola hidup
sehari-hari mereka dalam waktu yang cukup lama. Bisa berhari-hari, berbulan-bulan,
bahkan bisa bertahun-tahun, jika ingin memperoleh hasil yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan secara akademik. John R Bowen, misalnya, melakukan
penelitian antropologi masyrakat muslim Gayo, di Sumatra, selama
bertahun-tahun. Begitu juga dilakukan oleh para antropolog kenamaan yang lain,
seperti Clifford Geertz. Field note research (penelitian melalui
pengumpulan catatan lapangan) dan bukannya studi teks atau pilologi
seperti yang biasa dilakukan oleh para orientalis adalah andalan utama
antropolog.
Kedua, Pokok perhatian pendekatan
antropologi adalah local practices
, yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan. Praktik hidup yang dilakukan
sehari-hari, agenda mingguan, bulanan dan tahunan, lebih-lebih ketika
manusia melewati hari-hari atau peristiwa-peristiwa penting dalam
menjalani kehidupan. Ritus-ritus atau amalan-amalan apa saja yang
dilakukan untuk melewati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan
tersebut (rites de pessages). Persitiwa kelahiran, perkawinan,
kematian, penguburan. Apa yang dilakukan oleh manusia ketika menghadapi
dan menjalani ritme kehidupan yang sangat penting tersebut.
Ketiga, Antropologi selalu mencari
keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan secara
lebih utuh (connections across social domains). Bagaimana hubungan
antara wilayah ekonomi, sosial, agama, budaya dan politik.
Kehidupan tidak dapat dipisah-pisah. Keutuhan dan kesalingterkaitan antar
berbagai domain kehidupan manusia. Hampir-hampir tidak ada satu domain wilayah
kehidupan yang dapat berdiri sendiri, terlepas dan tanpa terkait dan
terhubung dengan lainnya.
Keempat, comparative. Studi dan
pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial,
budaya dan agama-agama. Setidaknya, Cliffort Geertz pernah memberi
contoh bagaimana dia membandingkan kehidupan Islam di Indonesia dan
Marokko. Bukan sekedar untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang
terpokok adalah untuk memperkaya perspektif dan memperdalam bobot
kajian. Dalam dunia global seperti saat sekarang ini, studi komparatif
sangat membantu memberi perspektif baru baik dari kalangan outsider
maupun outsider.
Bagaimana seseorang dan atau kelompok melakukan
praktik-praktik lokal dalam mata rantai tindakan keagamaan yang terkait
dengan dimensi social, ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai contoh ada
ritus baru yang disebut “walimah al-Safar”, yang biasa dilakukan
orang sebelum berangkat haji. Apa makna praktik dan tindakan lokal
ini dalam keterkaitannya dengan agama, sosial, ekonomi, politik dan budaya? Religious
ideas yang diperoleh dari teks atau ajaran pasti ada di balik
tindakan ini. Bagaimana tindakan ini membentuk emosi dan
menjalankan fungsi sosial dalam kehidupan yang luas?. Bagaimana
walimah safar yang tidak saja dilakukan di rumah tetapi juga di
laksanakan di pendopo kabupaten? Oleh karenanya, keterkaitan dan keterhubungan
antara local practices, religious ideas, emosi individu
dan kelompok maupun kepentingan social poilitik tidak dapat dihindari.
Semuanya membentuk satu tindakan yang utuh.
Dengan demikian, pendeka an antropologi dalam dalam studi Islam
sangatlah diperlukan. Islam dimaksud disini adalah Islam yang telah
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, Islam yang telah melembaga dalam
kehidupan suku, etnis, kelompok atau bangsa tertentu, Islam yang
telah terinstitusionalisasi dalam kehidupan organisasi sosial, budaya,
politik dan agama. Islam yang terlembaga dalam kehidupan masyarakat yang
menganut madzhab-madzhab, pengikut berbagai sekte,
partai-partai atau kelompok-kelompok kepentingan tertentu.
Hasil kajian antropologi terhadap realitas kehidupan konkrit di lapangan
akan dapat membantu tumbuhnya saling pemahaman antar berbagai paham dan
penghayatan keberagamaan yang sangat bermacam-macam dalam kehidupan riil
masyarakat Islam baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun
internasional.
Dalam kacamata antropologi agama, agama adalah adalah sekumpulan
ide-ide atau pemikiran dan seperangkat tindakan konkrit sehari-hari yang
didasarkan atas postulasi atau keyakinan kuat adanya realitas yang lebih
tinggi berada di luar alam materi yang biasa dapat dijangkau langsung
dalam kehidupan materi. Apa yang disebut agama, dalam praktiknya, memang sangat
berbeda dari satu masyarakat pemeluk agama tertentu ke masyarakat pemeluk agama
yang lain, baik yang menyangkut sistem kepercayaan yang diyakini bersama,
tingkat praktik keagamaan yang dapat melibatkan emosi para penganutnya, serta
peran sosial yang dimainkannya. Agama-agama Abrahamik dan non-Abrahamik,
dan lebih-lebih agama-agama lokal yang lain adalah sangat berbeda dalam
penekanan aspek keberagamaan yang dianggap paling penting dan menonjol.
Ada yang menekankan pentingnya sisi ketuhanan (deities
atau spirits), ada yang lebih menekankan kekuatan impersonal (impersonal
forces) yang dapat menembus dunia alam dan sosial, seperti yang
dijumpai di agama-agama di Timur. Atau bahkan ada yang tidak memfokuskan pada
sistem kepercayaan sama sekali, tetapi lebih mementingkan ritual.
Pada umumnya, hasil field note research di lapangan
dari berbagai kawasan, para antropolog hampir menyepakati bahwa agama
melibatkan 6 dimensi : l) perform certain activities (Ritual), 2) believe
certain things ( kepercayaan, dogma), 3) invest authority in certain
personalities (leadership; kepemimpinan), 4) hallow certain text (kitab suci,
sacred book), 5) telling various stories (sejarah dan institusi), dan 6)
legitimate morality (moralitas). Ciri paling menonjol dari studi agama yang
membedakannya dari studi sosial dan budaya, adalah keterkaitan
keenam dimensi tersebut dengan keyakinan kuat dari para
penganutnya tentang adanya apa yang disebut dengan “non-falsifiable postulated alternate reality”
(Realitas tertinggi yang tidak dapat difalsifikasi). Keenam dimensi
keberagamaan tersebut jika dikontekskan dengan agama Islam, maka kurang lebih
akan menjadi sebagai berikut : 1) Ibadah, 2) Aqidah, 3) Nabi atau Rasul,
4) Al-Qur’an dan al-Hadis 5) al- Tarikh atau al-Sirah dan 6) al-Akhlaq.
Keenam dimensi tersebut lalu dikaitkan dengan Allah (yang bersifat non-falsifiable
alternate reality).
Begitu keenam dimensi keberagamaan manusia tersebut
masuk ke wilayah praktik sehari-hari di lapangan, maka ia akan masuk ke wilayah
Particular Pattern.
Wilayah Partcular Pattern
dari agama-agama tersebut adalah ketika agama bergumul dan
masuk dalam dalam
konteks perubahan sosial, politik, ekonomi dan budaya, juga geografi,
perbedaan iklim dan kondisi alam yang berbeda-beda. Semuanya akan jatuh
ke wilayah diversitas. Dalam pandangan studi agama, lebih-lebih dalam
perspektif antropologi agama, agama-agama di dunia tidak ada yang sama. Dalam local
practices dari ke enam dimensi tersebut, yang ada hanyalah
keanekaragamaan. Tapi, dengan muncul dan tumbuhnya kesadaran akan
pentingnya martabat kemanusiaan (human dignity), maka para
tokoh agama-agama tersebut juga menggarisbawahi pentingnya
General Pattern (atau, dalam bahasa Islam : Kalimatun sawa).
7. Dalam kajian anthropologi di pahami bahwa makhluk
sejenis manusia sudah ada sejah lebih dari satu setengah juta tahun yang
lalu.Ini dibuktikan dari penggalian-penggalian di beberapa lokasi di dunia
ini.Bahkan "temuan" perak Man di Malaysia mengatakan 1,8juta tahun
yang lalu.Bagaimana dapat anda jelaskan dengan pemahaman ulama tentang asal
usul manusia yang katanya dipahami dari kitab suci, yang nampaknya baru sekitar
kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Uraikan!.
Berdasarkan pada teori monogenesis Out of Africa yang
mengatakan bahwa "manusia berasal dari satu wilayah dan induk yang
sama". Maka Afrika ialah salah satu tempat yang dipercaya sebagai
induk dari keseluruhan tumbuh kembang (asal-usul) manusia di muka bumi. Adalah James
Watson dan Alan Wilson yang telah membutikan berdasarkan DNA manusia dari
berbagai negara, dan menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia berasal dari Afria
sejak 200.000 tahun silam. Termasuk nenek moyang China yang mengaku sebagai
keturunan Kaisar Kuning berasal dari Afrika.
Evolusi sendiri merupakan
terminologi yang berasal dari biologi, yang menggambarkan fenomena asal usul
adanya variasi spesies dan bagaimana manusia kemudian menjadi makhluk yang
paling dominan di dunia saat ini. Evolusi merupakan suatu fenomena yang telah
lama dikenal dalam bidang biologi. Fenomena yang berupaya dijawabnya tentunya
adalah variasi dalam spesies dan juga dinamika variasi tersebut dari waktu ke
waktu yang didapatinya melalui berbagai penemuan fosil.
Franz Dahler menguji kesahihan dari teori evolusi tanpa
mengesampingkan doktrin suci agama. Aneka temuan fosil purbakala ada sesuatu
yang diyakini sebagai jejak manusia primitive. Penyelidikan manusia menurut
Dahler merupakan petualangan yang sangat menegangkan. Fosil pertama ditemukan
di lembah Neandertal, Jerman tahun 1856. Lalu Eugene Dubois menemukan fosil
yang lebih tua umurnya dari Neandertal di Trinil, Jawa Tengah. Penelitian terus
dilakukan hingga sebuah misteri terpecahkan. Sampai pada Tahun 1944 di Afrika
Timur ditemukan 2000 fosil Hominid (leluhur manusia). Para sarjana beranggapan
bahwa manusia pertama adalah berasal dari afrika atau yang kita kenal sebagai
teori Out Of Africa Theory. Artinya manusia modern berasal dari Afrika. Jadi
secara genetik terbukti bahwa manusia-manusia purba seperti Neanderthal, Peking
maupun manusia Jawa telah terputus, tidak sempat berevolusi dan digantikan
manusia modern (Homo sapiens sapiens).
Para ahli Paleoanthropology mengkaji asal nenek moyang manusia
modern, Teori Multiregional (Kontinyuitas regional) yang menyatakan bahwa
evolusi manusia purba terjadi di banyak tempat secara independen. Proses
terbentuknya spesies baru (speciation) terjadi akibat isolasi geografis pada
suatu kelompok atau populasi yang kawin mawin secara terus menerus. Para
penganut teori ini berkeyakinan bahwa adanya kontinyuitas evolusi manusia
terekspresi tidak hanya dari bukti-bukti genetik, tetapi juga secara anatomis
dan arkeologis. Sebagai contoh hidung manusia purba Eropa (Homo
neanderthalensis) dipertahankan oleh manusia modern Eropa sebagai respon
terhadap iklim Eropa, sedangkan tulang pipi yang tajam pada manusia Jawa purba
(Homo erectus) dipertahankan oleh penduduk Aborigin Australia.
Paleantropologi terus melakukan eskavasi untuk menemukan sebuah
misteri tentang manusia pertama. Beberapa premis telah kita ketahui, jika kita
dapat menghitung sebuah gigi fosil manusia purba disitulah kita dapat menemukan
berapa juta tahun umur mereka. Subjek ini merupakan salah satu terpenting yang
dipelajari dalam Antropologi Ragawi. Begitupula tentang Missing Link yang belum
pernah terpecahkan hingga saat ini.
Akhir-akhir ini Out Of Africa Theory terpecahkan dengan adanya teori
baru yaitu Afrasia djijidae. Temuan terbaru kian menunjukkan keberadaan manusia
primata berakar dari Asia, bukan Afrika sebagaimana yang selama ini
disimpulkan. Berdasarkan hasil temuan fosil baru di wilayah Myanmar, Asia
Tenggara, oleh sejumlah peneliti gabungan dalam tim internasional, nenek moyang
manusia diduga lahir dari Asia dan bermigrasi ke Afrika jutaan tahun kemudian.
Fosil yang dinamai Afrasia djijidae ini menjadi langkah penting di dalam pembuktikan originalitas tanah asal manusia awal. Sebab, sampai 18 tahun yang lalu, manusia pertama masihlah fosil primata berumur 30 juta tahun yang ditemukan di Mesir, Afrika Utara. Baru mulai tahun 1990, ketika peneliti mulai menemukan fosil-fosil lain di China, yang ternyata hidup 37 sampai 45 juta tahun lalu. Empat buah gigi geraham yang diidentifikasikan sama dengan geligi milik fosil Afrotarsius libycus, yang ditemukan di wilayah Gurun Sahara di Libia. Baik sama dalam hal ukuran, bentuk, maupun umurnya.
Fosil yang dinamai Afrasia djijidae ini menjadi langkah penting di dalam pembuktikan originalitas tanah asal manusia awal. Sebab, sampai 18 tahun yang lalu, manusia pertama masihlah fosil primata berumur 30 juta tahun yang ditemukan di Mesir, Afrika Utara. Baru mulai tahun 1990, ketika peneliti mulai menemukan fosil-fosil lain di China, yang ternyata hidup 37 sampai 45 juta tahun lalu. Empat buah gigi geraham yang diidentifikasikan sama dengan geligi milik fosil Afrotarsius libycus, yang ditemukan di wilayah Gurun Sahara di Libia. Baik sama dalam hal ukuran, bentuk, maupun umurnya.
Menurut Jean Jacques Jaeger, ahli paleontologi dari University of
Poitiers, Prancis yang merupakan ketua tim peneliti, kesamaan ini mengacu pada
kemungkinan bahwa kedua fosil merupakan jejak manusia primata yang datang atau
berpindah ke Afrika dari Asia. Terlebih dalam pemeriksaan lebih lanjut,
dikatakan Jaeger, secara karakteristik gigi Afrasia dari Myanmar itu lebih
primitif daripada Afrotarsius dari Libia.
Para peneliti sependapat nenek moyang langsung kita adalah primata
bipedal yang muncul di Afrika. Namun spesimen di Myanmar menggulingkan
hipotesis. Sebuah spesimen primata bertanggal 37 juta tahun di rawa kuno
Myanmar meminta rekonstruksi ulang pohon keluarga primata dengan hipotesis
alternatif munculnya leluhur manusia berakar di Asia. Selama 18 tahun terakhir,
fosil setiap antropoid awal ditemukan di Mesir bertanggal 30 juta tahun. Pada
tahun 1990-an, para peneliti menemukan spesimen primata mungil berdating 37
juta hingga 45 juta tahun di Cina, Myanmar, dan negara Asia lainnya.
Antropoid mungkin benar-benar muncul di Asia dan bermigrasi ke
Afrika beberapa juta tahun kemudian. Tetapi paleontolog tidak memiliki fosil
untuk menunjukkan kapan dan bagaimana antropoid berjalan kaki dari Asia ke
Afrika, kata Christopher Beard, paleontolog Carnegie Museum of Natural History
di Pittsburgh, Pennsylvania. Pada tahun 2005, Beard dan tim internasional
menemukan molar kernel seukuran popcorn. Gigi berdating 38 juta tahun milik
spesies baru primata seukuran tupai kecil. 4 geraham antropoid primitif dinamai
Afrasia djijidae.
Gigi primata di bawah mikroskop begitu serupa dalam ukuran dan
bentuk, mungkin milik spesies yang sama. Kemiripan erat antara fosil antropoid
Asia dan Afrika telah ditunjukkan sebelumnya. Namun, analisis lanjut melihat
geraham Afrasia djijidae lebih primitif dibandingAfrotarsius libycus terutama
tonjolan kecil di bagian belakang molar terakhir lebih rendah. Ciri-ciri
primitif serta keragaman lebih besar dan usia dini atau induk antropoid di Asia
dibanding Afrika menunjukkan keluarga ini muncul di Asia dan bermigrasi ke
Afrika 37 juta hingga 39 juta tahun lalu.
Skenario Out of Asia mungkin kompleks. Tim mengusulkan lebih dari
satu jenis antropoid yang bermigrasi dari Asia ke Afrika pada saat itu karena
setidaknya ada 2 jenis antropoid awal hidup pada waktu yang sama dengan
Afrotarsius libycus di Libya, namun mereka tidak terkait erat dengan
Afrotarsius atau Afrasia.
Begitu mereka ke Afrika, Afrasia djijidae menemukan kondisi ideal yang subur dengan sedikit karnivora dan mengalami perkembangan evolusioner dengan cepat sehingga memunculkan sejumlah spesies baru. Peneliti lain sependapat jika kedua spesies baru primata dari Myanmar dan Libya memang antropoid awal.
Begitu mereka ke Afrika, Afrasia djijidae menemukan kondisi ideal yang subur dengan sedikit karnivora dan mengalami perkembangan evolusioner dengan cepat sehingga memunculkan sejumlah spesies baru. Peneliti lain sependapat jika kedua spesies baru primata dari Myanmar dan Libya memang antropoid awal.
Ada migrasi besar primata dan mamalia lain antara 2 benua pada saat
itu, tapi tidak mudah untuk menyeberang Laut kuno Tethys yang membagi Afrika
dan Asia. Dan bagi manusia menunjukkan akar terdalam primata dari Asia, bukan
Afrika. Kesamaan antar spesies terletak pada hanya 4 geraham Afrasia, meskipun
gigi adalah cara yang paling handal untuk mengukur keterkaitan. Dan beberapa
peneliti belum yakin bahwa Afrotarsius di Libya adalah antropoid dan bukan
leluhur tarsius, primata bukan antropoid. “Kita semua telah mendengar Out of
Afrika asal-usul manusia. Sekarang kita berpikir ada migrasi Out of Asia ke
Afrika pertama,”
8. Dalam memahami agama ada dimensi polotik. Jelaskan
pemahaman anda tentang dimensi tersebut seirama dengan perkembangan dan
"kemunduran agama".
Islam pernah mencapai puncak kejayaan, ilmu pengetahuan, industry,
perpolitikan dan peradaban, namun dalam pembahasan ini penulis lebih berfokus
pada kebangkitan Islam dari kemundurannya di periode modern. Periode modern
dalam sejarah Islam bermula dari tahun 1800 M dan berlangsung sampai sekarang.
Di awal periode ini kondisi Dunia Islam secara politis berada di bawah
penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M Dunia Islam bangkit
memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat. Periode ini memang merupakan
zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di periode
pertengahan.
Kemunduran perpolotikan Islam bermula ketika tiga kerajaan besar
Islam sedang mengalami kemunduran di abad ke-18, Eropa Barat mengalami kemajuan
dengan pesat. Kerajaan Safawiyah mengalami kemunduran, karena tidak hanya
mendapat serangan dari kerajaan Turki, tetapi juga mendapat serangan dari
kalangan Dinasti yang tunduk pada Safawiyah yang ingin merdeka, yaitu
berturut-turut Raja Afganistan, sehingga pada tahun 1722 M berhasil menduduki
Asfahan, kemudian disusul oleh serangan Dinasti Zand yang pada tahun 1750 M
berhasil menguasai seluruh Persia. Maka berakhirlah kekuasaan kerajaan Safawi
di pertengahan abad ke-18.
Kerajaan Mughal juga dilanda kemunduran, tepatnya pada pemerintahan
setelah Aurangzeb, yaitu mendapat serangan dari masyarakat Hindu. Diantaranya
pemberontakan Sikh yang dipimpin oleh Guru Tegh Mahabur Dean, guru Gobind
Singh. Pada awal abad ke-19 M kerajaan Mughal hancur di tangan Inggris yang
kemudian mengambil alih kekuasaan di anak benua India.
Kekuatan Islam terakhir yang masih disegani oleh lawan tinggal
kerajaan Usmani di Turki. Akan tetapi yang terakhir ini pun terus mengalami
kemunduran-demi kemunduran, sehingga dijuluki sebagai the sick man of Europe,
orang sakit dari Eropa. Dalam periode kerajaan Usmani peradaban Islam mendapat
perlawanan dari dua arah, yaitu dari dalam, berupa perlawanan dari orang Islam
sendiri, dan dari luar, berupa serangan balik dari Eropa khususnya kerajaan
kristen.
Dari dalam, kerajaan Usmani dilanda konflik antara penguasa Turki
dan perlawanan dari daerah kekuasaannya yang menuntut merdeka, seperti Mesir
dan negara Arablainnya. Karena pada waktu itu Turki dipandangnya bukan sebagai
Khalifah yang melindungi Islam, tetapi tidak lebih sebagai kerajaan yang hanya
mementingkan kekuasaan, bahkan kehidupan dalam Istana tidak kelihatan corak
keislamannya, yang ada hanyalah kemewahan. Sehingga dengan demikian pecahlah
peperangan dengan kerajaan Safawiyah yang berkepanjangan sampai runtuhnya
Usmani secara total. Di antara peperangan itu adalah peperangan yang
memperebutkan wilayah Irak pada abad ke-18, ada yang berpendapat peperangan itu
merupakan peperangan ideologis antara Sunni dan Syiah. Kemerosotan Kesultanan Turki
Usmani semakin cepat setelah mendapat serangan dari Dunia Barat, sehingga
daerah kekuasaannya satu persatu jatuh kembali ketangan kristen. Dapat kita
simpulkan bahwa kelemahan kerajaan-kerajaan Islam tersebut telah menyebabkan
Eropa dapat menguasai, menduduki dan menjajah negerinegeri Islam dengan mudah.
Benturan demi benturan antara Islam dan kekuatan Eropa telah
menyadarkan umat Islam bahwa mereka memang jauh tertinggal dari Eropa. Yang
pertama merasakan hal itu diantaranya, Turki Usmani, karena kerajaan ini yang
pertama menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa penguasa dan
pejuang-pejuang Turki banyak Belajar dari Eropa. Pada pertenganahan abad ke-20
M Dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat. Periode ini
merupakan zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di
periode pertengahan.
kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam
membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang berdasar atau yang sesuai dengan
prinsip Islam. Makna ini mempunyai implikasi kewajiban bagi umat Islam untuk
mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial,
dan budaya. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan
sebutan gerakan pembaharuan.
Gerakan pembaharuan itu muncul karena dua hal, yaitu; Pertama Timbulnya
kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran-ajaran “asing” yang masuk dan
diterima sebagai ajaran Islam. Ajaran-ajaran tersebut bertentangan dengan
semangat ajaran Islam yang sebenarnya, sepert bid’ah, khurafat dan takhyul.
Ajaran inilah yang menyebabkan Islam menjadi mundur. Oleh karena itu, mereka
bangkit membersihkan Islam dari ajaran atau paham tersebut. Gerakan ini dikenal
sebagai gerakan reformasi, yaitu; Gerakan Wahhabiyah yang dipelopori oleh Muhammad
ibn Abdul al-Wahhab (1703-1787 M) di Arabia, Grakan Syah Waliyullah (1703-1762
M) di India dan Gerakan Sanusiyyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said
Muhammad Sanusi dari Aljazair.
Kedua Pada periode ini Barat mendominasi
Dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan dengan Barat menyadarkan
tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu, mereka bangkit dalam masalah-masalah politik dan peradaban
untuk menciptakan balance of power. Adapun langkah yang diambil berupa
pengiriman para pelajar Muslim oleh penguasa Turki Usmani dan Mesir ke
negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dan menerjemahkan
karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam. Gerakan pembaharuan itu kemudian
memasuki Dunia politik.
Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan
Pan-Islamisme (persatuan Islam sedunia) yang mula-mula didengungkan oleh
gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan
lantang oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Al-Afghani adalah orang
pertama yang menyadari akan dominasi Barat dan bahayanya. Oleh karena itu, dia
memperingatkan Dunia Islam akan hal itu dan melakukan usaha-usaha untuk
pertahanan. Menurutnya, umat Islam harus meninggalkan perselisihan-perselisihan
dan berjuang di bawah panji bersama. Disamping itu, ia juga membangkitkan
semangat lokal dan nasional negeri-negeri Islam. Karena itu, al-Afghani dikenal
sebagai bapak Nasionalisme dalam Islam.
Akhirnya gagasan Pan-Islamisme menjadi redup ketika al-Afghani tidak
didizinkan berbuat banyak di Istambul oleh Sultan Kerajaan Usmani, Abdul
al-Hamid II (1876-1909 M) karena dianggapnya menjadi duri bagi kekuasaan sultan
dan kalahnya Turki Usmani bersama sekutunya, Jerman dalam Perang Dunia I dan
kekhalifahan dihapuskan oleh Mustafa Kemal, tokoh yang justru mendukung gagasan
nasionalisme, rasa kesetiaan kepada negara kebangsaan.
Di Mesir, benih-benih gagasan nasionalisme tumbuh sejak masa
al-Tahtawi (1801-1873 M) dan Jamaluddin al-Afghani. Tokoh pergerakan terkenal
yang memperjuangkan gagasan ini di Mesir adalah Ahmad Urabi Pasha.
Di bagian Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang segera
menyebar dan mendapat sambutan baik, sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar
kesamaan bahasa. Demikian ini yang terjadi di Mesir, Syiria, Libanon,
Palestina, Iak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein dan Kuwait. Semangat persatuan
Arab ini diperkuat pula oleh usaha Barat untukmendirikan negara Yahudi di
tengah-tengah bangsa Arab dan di negeri yang mayoritas dihuni Arab.
Di India, gagasan Pan-Islamisme dikenal dengan gerakan khilafat.
Syed Amir Ali (1848-1928 M) adalah salah seorang pelopornya. Namun gerakan ini
akhirnya pudar, yang populer adalah gerakan nasionalisme yang diwakili oleh
Partai Kongres Nasional India. Gagasan nasionalisme ini pun akhirnya
ditinggalkan berubah menjadi Islamisme. Benihbenih gagasan Islamisme
dilontarkan oleh Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M), kemudian mengkristal pada
masa Iqbal (1876-1938 M) dan Muhammad Ali Jinnah (1876-1948 M).
Sedangkan di Indonesia, partai politik besar yang menentang penjajahan
adalah Sarekat Islam (SI), didirikan tahun 1921 di bawah pimpinan HOS
Tjokroaminoto. Partai ini merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang
didirikan oleh H. Samanhudi tahun 1911. Kemudian berdirilah partai-partai
politik lainnya, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), didirikan oleh
Sukarno (1927), Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru), didirikan oleh
Mohammad Hatta (1931), Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) yang menjadi partai
politik tahun 1932, dipelopori oleh Mukhtar Luthfi. Demikianlah gagasan-gagasan
nasionalisme dan gerakan-gerakan untuk membebaskan diri dari kekuasaan penjajah
Barat yang kafir juga bangkit di negeri-negeri Islam lainnya.
Mencermati akselarasi kebangkitan Dunia Islam pada masa yang akan
datang, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Pertama
Tantangan yang dihadapi oleh Dunia Islam, diantaranya adalah gerakan
kristenisasi yang digarap secara besar-besaran dalam Dunia Islam, khususnya
yang terkatagori melarat. Gerakan zionisme yang mendapat dukungan politik dan
dana dari Dunia Barat kapitalisme dan komonisme yang seringkali berkolaborasi
dengan elite militer yang sedang berkuasa dan sekularisme yang mengarap Dunia
Islam melalui gerakan pemikiran dan intelektual. Gejala ini dapat dilihat dalam
kebijakan negara yang memarginalkan kelompok elite agama dalam pemerintahan.
Dan dapat pula dilihat semakin banyaknya sarjana Muslim (IAIN) ke Dunia Barat
dengan harapan mende-islamisasikan masyarakat secara pemikirannya. Kedua
kelemahan Dunia Islam, diantaranya, lemahnya pengusaan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta lemahnya pengusaan terhadap Islam itu sendiri, misalnya
banyaknya umat Islam yang belum bisa menguasai pemahaman al-Qur’an, bahkan
banyak pula yang buta huruf membaca al-Qur’an. Pertanyaannya, bagaimana Islam
bisa bangkit kalau memahami ajaranya saja kurang sempurna. Inilah masalah yang
dihadapi umat Islam pada zaman sekrang ini. Ketiga, Salahnya Dunia Barat dalam
memahami Islam, sebab mereka memahami Islam bukan dari sumbernya tetapi dari
prilaku-prilaku pemeluk Islam yang salah pula.
Tetapi sekarang ini ada kecenderungan Dunia Barat lebih obyektif
melihat Dunia Islam, sebab orang Barat sendiri sudah bosan dan muak melihat
budayanya yang serba materialistis, tidak mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan.
Dari sinilah mereka mulai tertarik mempelajari Islam tanpa apriori. Kenyataan
ini banyak dibuktikan banyaknya orang Barat yang masuk Islam, baik dari
kalangan budayawan maupun lainnya.
Pendek kata kebangkitan Dunia Islam akan lahir apabila pemahaman dan
komitmen terhadap ajaran Islam merata di kalangan masyarakat Islam, sehingga
dalam diri mereka tersimpul keinginan untuk mengaktualkan Islam dalam
pentas kehidupan bernegara. Hal lain yang tak kalah penting adalah penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa dua kriteria itu tidak mungkin lahir
kebangkitan Islam kembali.
9. Bagaimana fenomena ekonomi dapat dikaitkan dengan
kehidupan beragama, uraikan!.
Secara teoritis terdapat tiga aliran besar dalam system perekonomian,
yaitu; sitem kapitalisme, sosialisme, dan paradigma ekonomi Islam. Dalam
operasionalnya, ekonomi Islam mempunyai karasteristik dan landasan yang berbeda
dengan sistem kapitalisme dan sosialisme.
Sistem perekonomian kontemporer hanya terkonsentrasi terhadap
peningkatan utility dan nilai-nilai materialisme sesuatu tanpa menyentuh
nilai-nilai spiritualisme dan etika kehidupan masyarakat. Sistem kapitalisme
memisahkan intervensi agama dari perbagai kegiatan dan kebijakan ekonomi,
padahal pelaku ekonomi merupakan penggerak utama bagi perkembangan peradaban
dan perekonomian masyarakat. Akhirnya, kehidupan ekonomi masyarakat terbebas
dan koridor agama, sehingga kebijakan individualah yang berperan dalam
pengembangan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, Dengan demikian,
terbentuklah individu-individu yang bersifat individualistik dan materialistik.
Dalam konsep ekonomi Islam terdapat dialektika antara nilai-nilai
spiritualisme dan materialisme. Berbagai kegiatan ekonomi, khususnya transaksi
harus berdasarkan keseimbangan dan kedua nilai tersebut. Hal ini menunjukan
sebuah konsep ekonomi yang menekankan nilai-nilai kebersamaan dan kasih sayang
di antara individu masyarakat. Konsep dialektika tersebut juga kita temukan
dalam rukun Islam. Di samping kita diperintahkan untuk mengakui ke-Esaan Allah Swt,
membenarkan risalah Muhammmad Saw dan mengerjakan shalat, kita juga
diperintahkan untuk membayar zakat atas harta kekayaan yang telah mencapai
nisbah. (ketentuan). Karena dalam konsep zakat, terdapat nilai-nilai
spiritualisme dan materialisme, yaitu zakat merupakan ibadah yang berdimensi
social.
Dalam konsep zakat kita temukan suatu proses pensucian diri dan
nilai-nilai kekikiran dan individualistik, di samping mengandung nilai ibadah.
Selain itu, zakat merupakan salah satu instrumen dalam meningkatkan pertumbuhan
ekonomi serta merupakan sumber dana jaminan sosial. Dengan zakat, kebutuhan
pokok masyarakat akan terpenuhi. Sehingga aggregate demand yang ada
tetap terjaga dan dapat menggairahkan sektor produksi. Melalui konsep zakat,
dapat clirasakan adanya harmonisasi nilai spiritual dan material hagi
kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Kebebasan Berekonomi dalam Islam, tidak menafikan intervensi pemerintah, Kebijakan
pemerintah merupakan sebuah keniscayaan ketika perekonomian dalam kondisi darurat,
selama hal itu dibenarkan secara syar’i. Intervensi harus dilakukan ketika
suatu kegiatan ekonomi berdampak pada kemudharatan bagi kemaslahatan
masyarakat. Intervensi juga harus diterapkan ketika pasar tidak beroperasi
secara normal akibat penyimpangan mekanisme pasar, seperti halnya kebijakan
pemerintah dalam memberantas monopoli (false demand and supply) dan mekanisme
pasar, itu tetap dibenarkan kepemilikan individu dan kebebasan bertransaksi
sepanjang tetap dalam koridor syaniah. Kebebasan tersebut akan mendorong
masyarakat untuk beramal dan berproduksi demi tercapainya kemaslahatan hidup
bermasyarakat.
Kepemilikan harta dalam Islam hanyalah milik Allah semata, manusia hanyalah merupakan wakil Allah
dalam rangka memakmurkan dan mensejahterakan bumi. Kepemilikan manusia
merupakan derivasi kepemilikan Allah yang hakiki. Untuk itu, setiap langkah dan
kebijakan ekonomi yang diambil oleh manusia untuk memakmurkan alam semesta
tidak holeh bertentangan dengan ketentuan yang digariskan oleh Allah Yang Maha
Memiliki.
Meskipun kepemilikan Allah merupakan kepemilikan murni dan hakiki, harta yang dimiliki oleh manusia, tetapi manusia
diberi kebebasan untuk memberdayakan, mengelola, dan memanfaatkan harta benda
sebagaimana yang telah disyariatkan. Adapun kepemilikan manusia terhadap sumber
daya alam terbagi menjadi kepemilikan individu dan kepemilikan publik (private
and public property).
Kemaslahatan bagi individu dan masyarakat merupakan hal terpenting
dalam kehidupan ekonomi, Hal inilah yang menjadi karakteristik ekonomi Islam,
di mana kemaslahatan individu dan bersama harus saling mendukung. Dalam arti,
kemaslahatan individu tidak boleh dikorbankan demi kemaslahatan bersama dan
sebaliknya. Dalam mewujudkan kemaslahatan kehidupan bersama, negara rnempunyai
hak intervensi apahila terjadi eksploitasi atau kezaliman dalam mewujudkan
sebuah kemaslahatan. Negara harus bertindak jika terjadi penyimpangan
operasional yang merugikan hak-hak kemaslahatan.
Untuk mengatur dan menjaga kemaslahatan masyarakat, diperlukan sebuah
instansi yang mendukung. Al-Hisbah merupakan instansi keuangan dalam
pemerintahan Islam yang berfungsi sebagai pengawas atas segala kegiatan
ekonomi, Lembaga tersebut bertugas untuk mengawasi semua infrastruktur yang
terlibat dalam mekanisme pasar. Apabila dalam mekanisme terjadi penyimpangan
operasional, maka Al-Hisbah berhak melakukan intervensi. Selain itu Allah
mempunyai wewenang untuk mengatur tata letak kegiatan ekonomi disamping
diwajibkan untuk menyediakan semua fasilitas kegiatan ekonomi demi terciptanya
kemaslahatan hidup bersama.
Lembaga zakat merupakan sebuah kelaziman bagi terciptanya bangunan
ekonomi Islam. Institusi zakat merupakan elemen yang berfungsi untuk menampung
dana zakat dan para muzakki (pembayar zakat). Institusi zakat mempunyai otoritas
penuh dalam pengelolaan dan pendistribusian dana zakat, di samping mempunyai
wewenang untuk menarik zakat dan para muzakki dan berkewajiban untuk
mendistribusikannya kepada mustahiq (yang berhak menerima zakat).
Dari karakteristik dasar yang telah diuraikan di atas merupakan
elemen utama yang membedakan konsep ekonomi Islam dengan ekonomi kontemporer
dapatdiselaraskan dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam itu secara garis besar,
yaitu; Pertama Berbagai jenis sumber daya dipan dang sebagai pemberian atau
titipan Tuhan kepada manusia. Manusia harus memanfaatkannya seefisien dan
seoptimal mungkin dalam produksi guna memenuhi kesejahteraan bersama di dunia, Kedua
Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu, termasuk
kepemilikan alat produksi dan faktor produksi. Pertama, kepemilikan individu
diatasi oleh kepentingan masyarakat, dan kedua. Islam menolak setiap pendapatan
yang diperoleh secara tidak sah, apalagi usaha yang menghancurkan masyarakat. Ketiga
Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama. Seorang Muslim,
apakah ia sebagai pembeli, penjual, penerima upah, pembuat keuntungan dan
sebagainya. Keempat Kepemilikan kekayaan pribadi harus berperan sebagai
kapital produktif yang akan meningkatkan besaran produk nasional dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sistem ekonomi Islam menolak
terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh beberapa orang saja. Konsep
ini berlawanan dengan sistem ekonomi kapitalis, kepemilikan industri didominasi
oleh monopoli dan oligopoli, tidak terkecuali indu stri yang merupakan kepen
tingan umum. Kelima Islam menjamin kepemilikan masyarakat, dan
penggunaannya direncanakan untuk kepentingan orang banyak. Prinsip ini didasari
Sunah Rasulullah yang menyatakan bahwa, “Masyarakat punya hak yang sama atas
air, padang rumput dan api.” Sunnah Rasulullah tersebut menghendaki semua
industri ekstraktif yang ada hubungannya dengan produksi air, bahan tambang,
bahkan bahan makanan, harus dikelola oleh Negara demikian pula keperlan bahan bakar
dalam negen dan industri tidak boleh dikuasai aleh individu. Keenam Seorang
Muslim harus takut kepada Allah dan hari akhirat, oleh karena itu Islam mencela
keuntungan yang berlebihan, perda gangan yang tidak jujur, perlakuan yang tidak
adil, dan semua bentuk diskriminasi dan penindasan. Ketujuh Seorang
Muslim yang kekayaannya melebihi ukuran tertentu (nisab) diwajibkan membayar
zakat. Kedelapan Islam melarang setiap pembayaran bunga (riba) atas
berbagai bentuk pinjaman, apakah pinjaman itu berasal dari teman, perusahaan
perorangan, pemenintah ataupun institusi.
10. Coba prediksi, akan bagaimana kira-kira masa depan
agama-agama di dunia. Aspek apa yang (mungkin) ditinggalkan, atau bagaimana
lanjutannya? Detailkan.
Kitab Suci Qur'an berisikan ramalan-ramalan yang pasti tentang masa depan Islam dan pengikutnya, salah satu dari ramalan-ramalan mengenai masa depan orang-orang Islam. Menjamin orang-orang Islam di suatu masa akan mendapatkan kebebasan beragama "Tuhan menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan perbuatan baik bahwa mereka akan diberi warisan kekuasaan di muka bumi sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang yang sebelum mereka dan akan diteguhkan kedudukan Agama mereka yang telah disukai oleh Tuhan dan akan menukar keadaan mereka sesudah ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah Aku dan tidak mempersekutukan barang sesuatu dengan Daku. Barang siapa yang ingkar sesudah itu merekalah orang-orang yang jahat."
Pada waktu ramalan-ramalan ini dikeluarkan pengikut-pengikut Islam hanya sebagian kecil penduduk Al Hijaz. Ramalan itu dikeluarkan, kira-kira pada tahun kelima setelah Hijrah pada saat orang-orang Islam beberapa ribu, melawan seluruh penduduk Hijaz dan jazirah Arab. Tak seorang pun dari orang Islam pada waktu itu merasa aman, juga tidak mereka dapat melaksanakan Agama mereka dengan bebas. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa minoritas itu akan terus hidup melihat adanya kebencian dan perlawanan yang sedemikian, juga tidak dapat diramalkan masa depan dari agama baru ini. Meskipun kenyataannya demikian, ramalan dilahirkan dengan jelas dan dalam bentuk mutlak.
Ramalan-ramalan selanjutnya diberikan pada ayat-ayat selanjutnya yang meramalkan kejayaan Islam dan kekalahan dari penentang-penentangnya "Mereka bermaksud hendak memadamkan Cahaya (Agama) Tuhan dengan mulut mereka, tetapi Tuhan tetap menyempurnakan Cahaya-Nya, biarpun orang-orang yang tiada beriman itu merasa benci."
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya membawa pimpinan yang benar dan agama kebenaran, supaya dapat mengatasi agama seluruhnya, biarpun orang-orang yang mempersekutukan Tuhan itu tiada merasa senang."
Ayat pertama meramalkan bahwa musuh-musuh Islam tidak akan berhasil memadamkan cahaya Tuhan, juga mereka tidak akan dapat merlntangi pertumbuhannya. Tuhan akan membuat CahayaNya, Islam, sempurna, meskipun musuh-musuhnya akan menentangnya. Mereka akan membantah, menentang, menyerang dan menyerahkan seluruh akal mereka dan kekuatan materi mereka, menetapkan untuk menggagalkan Islam, tetapi kesemuanya, tidak akan memadamkan cahayanya juga tidak akan mencegah untuk menjadi sempurna.
Kedua ayat di atas meramalkan benar dan kemenangan Islam terhadap musuh-musuhnya. Ketika ramalan-ramalan ini dilahirkan, sebagian kecil masyarakat Islam berlindung pada orang-orang musyrik dan musuh-musuhnya yang lain, di jazirah Arab. Setelah itu berlindung pada Parsi (penduduk negeri Iran) dan kerajaan-kerajaan Rum (Bizantine).
Masing-masing kekuatan ini jauh lebih besar dan lebih kaya dari orang-orang Islam. Kerajaan Parsi dan Rum (Byzantine) adalah kekuatan-kekuatan yang terkemuka di dunia. Ini akan memenuhi secara sempurna arti dari ramalan.
Ramalan non muslim akan masa depan agama. Dalam ramalan ‘Alkitab’ dikatakan pada masa akhir umat manusia, setelah negara Israel bangkit kembali, Sang Penyelamat Mesias akan turun ke dunia. Dalam kitab Buddhisme Timur juga dikatakan, saat bunga Udumbara bermekaran, Buddha Maitreya, Buddha masa depan telah turun ke dunia menyelamatkan makhluk hidup secara universal. Sekarang, semua ramalan saling bermunculan, apakah Sang Penyelamat Timur dan Barat telah datang ke dunia.
Dalam kitab suci Buddha dan ‘Alkitab’ semua mengatakan pada masa akhir bencana akan ada Juru Selamat turun ke dunia untuk menyelamatkan makhluk hidup. Kitab Buddha percaya bahwa pada masa akhir Dharma, Buddha Maitreya akan turun ke dunia menyelamatkan makhluk hidup, dan ‘Alkitab’ mengatakan ketika kiamat mendekat, akan ada Mesias turun ke dunia menyelamatkan makhluk hidup.
Jika kitab Buddha dan ‘Alkitab’ dapat dipercaya, maka akan ada dua penyelamat umat manusia muncul dalam umat manusia, kecuali Maitreya yang disebut dalam kitab Buddha juga ada Mesias yang disebut dalam ‘Alkitab.’
Sebuah kontribusi yang penting dari seorang Great Masters, sarjana Buddha dan penerjemah terkenal Ji Xian Lin beserta pengikutnya Profesor Qian Wenzhong menemukan adanya hubungan antara agama Buddha dan Kristen. Disebutkan bahwa "Buddha Maitreya, Buddha masa depan dalam aliran Buddha dan Mesias Sang penyelamat dalam agama Kristen adalah orang yang sama."
Menurut penelitian Profesor Qian Wenzhong dari Fudan University Shanghai China, pada sekitar 1.000 tahun SM, di wilayah Asia Barat, Afrika Utara, Asia Kecil, termasuk wilayah luas Mesopotamia dan Mesir, secara populer beredar kepercayaan akan Sang Juru Selamat masa depan. Mesias dalam agama Yesus adalah seperti sebuah representatif kepercayaan terhadap Sang Juru Selamat.
Kepercayaan seperti ini dalam Alkitab ‘Perjanjian Lama’ telah ada. Juga seperti kepercayaan Maitreya di India, dalam komunitas akademik telah dikonfirmasi, itu berkaitan erat dengan kepercayaan Juru Selamat di seluruh dunia dan satu sama lain juga saling mempengaruhi.
Kepercayaan Maitreya di India merupakan sebuah bagian integral dari kepercayaan akan Sang Juru Selamat. Dengan istilah yang paling sederhana dapat dikatakan, mengapa Maitreya adalah Buddha masa depan dan Juru Selamat masa depan. Ini karena Ia memiliki akar di India dan juga memiliki akar seluruh dunia atau akar dari dunia kuno yang lebih luas, dan adalah sebuah bagian kepercayaan Mesias yang paling populer.
Dalam bahasa China dari mana asal kata Maitreya? Sebenarnya hal ini mengandung sebuah misteri besar dalam peradaban manusia. Menurut pendapat sebuah artikel penelitian Kumpulan Artikel Ji Mu Lin Volume XII “Metteyya dan Maitreya,” pada awal buku asli dari kitab suci Buddhis sebagian besar adalah ‘buku Hu’ dan ditulis dengan bahasa Asia Tengah dan Xinjiang kuno, bukan bahasa Sansekerta India yang standar.
Oleh karena itu, "Maitreya" kemungkinan diterjemahkan langsung dari kata Metrak atau Maitrak bahasa Tocharian Xinjiang. Kata ini ada hubungannya dengan kata Maitri (kasih sayang, cinta kasih) bahasa Sansekerta, oleh karena itu "Maitreya" juga diterjemahkan sebagai "Cheshire." Pada awal setelah Han di China, periode Tiga Kerajaan, kata "Maitreya" dan "Cheshire" (Bodhisattva) muncul secara bersamaan dalam materi-materi ajaran Buddha bahasa China terjemahan.
Memang demikian, baik dari waktu dan pandangan luas Maitreya berada di luar lingkup agama Buddha. Di China, yang pertama dipercayai oleh orang-orang, bukan Bodhisattva Kwan Im, juga bukan Amitaba, akan tetapi adalah Buddha Maitreya.
Orang-orang menemukan bahwa sejak awal kepercayaan Maitreya adalah sebuah konsentrat peradaban yang sangat baik dari budaya manusia di seluruh dunia, selain itu dalam agama Buddha tidak dapat ditemukan Bodhisattva kedua atau yang memiliki latar belakang internasional dan budaya yang bagitu luas dan mendalam. Maitreya, dalam bahasa Sansekerta disebut metteya, dalam bahasa Pali disebut metteya, orang yang bisa berbahasa Mandarin begitu mendengar sudah tahu itu sama sekali tidak terkait dengan kata ucapan Maitreya.
Master Xuan Zang pada dynasti Tang menemukan masalah ini, karena itu Xuan Zang mengatakan telah salah dalam penerjemahan, harus diterjemahkan sebagai ‘Mei Dan Liya.’ Namun, orang-orang tidak menerima pendapat biarawan Xuan Zang yang tinggi ini, masih sepakat dengan kata umum Maitreya. Lama-kelamaan kata ‘Mei Dan Liya’ menjadi paten pribadi Xuan Zang.
Dewa yang ditunggu-tunggu orang Barat disebut ‘Mesias,’ dalam bahasa Inggris disebut Messiah, diterjemahkan dari kata Masiah bahasa Ibrani (terkadang ditulis sebagai mashiach). Dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai christos ‘diurapi,’ dari sini muncul kata ‘Kristus’ (Christ). Pada dasarnya ‘Mesias’ dan ‘Kristus’ memiliki arti yang sama. Pengarang ‘Perjanjian Baru’ menyamakannya dengan kata Mesias bahasa Yahudi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar