BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan dewasa ini
semakin dituntut untuk dapat menghasilkan sumber daya mnausia yang berkualitas yang mampu menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi sesuai tuntutan zamanya, sekaligus juga membentuk dan
mengembangkan nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur, agar SDM yang
dihasilkan mampu menyaring dan menyerap nilai-nilai positif dari kemajuan Ilmu
pengetahuan dan teknologi serta perkembangan nilai pada masyarakat global.
Ketika Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia, sudah
dipastikan akan bersentuhan dengan berbagai budaya masyarakat setempat.
Penyebaran agama Islam tersebut terus berjalan dari waktu ke waktu yang mana
akan menjadikan rahmat dari Allah swt bagi umat manusia dan khususnya bagi umat
muslim.
Al-Nahlawi menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah
pengaturan pribadi dan masyarakat yang karenanya dapatlah memeluk Islam secara
logis dan sesuai secara keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun
kolektif.[1] Yusuf
al-Qardhawi memberi pengertian pendidikan Islam sebagai pendidikan manusia
seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.[2]
Sebagai bangsa yang masih berkembang, umat Islam di seluruh
dunia menghadapi problem pendidikan yang komplek dan serius. Kegagalan pendidikan
Islam untuk membentuk dan menciptakan peserta didik yang berkarakter atau
berkepribadian Islami tidak lepas dari kelemahan.[3] Kesalahan yang seringkali terjadi dan
tidak disadari adalah persepsi tanggung jawab pendidikan semata-mata berada
ditangan pemegang birokrasi pendidikan.[4]
Pendidikan juga merupakan suatu usaha dari setiap warga
negara untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai kehidupan dalam
masyarakatnya. Dalam proses pembangunan di Indonesia pendidikan sangat
diprioritaskan, karena melalui pendidikan membentuk moral pada diri seseorang
serta menambah pengetahuannya, rasa tanggung jawab terhadap pembangunan bangsa,
masyarakat dan agama, sesuai dengan firman-Nya yaitu;
ôMt/ÎàÑ ãNÍkön=tã èp©9Ïe%!$# tûøïr& $tB (#þqàÿÉ)èO wÎ) 9@ö6pt¿2 z`ÏiB «!$# 9@ö6ymur z`ÏiB Ĩ$¨Y9$# ...
Artinya: Mereka diliputi kehinaan di mana saja
mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia…(Q.S. Ali Imran:112)
Dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang
menyeret mereka kepada kehinaan adalah karena kesombongan, kedengkian dan
kehasudan mereka.[5]
Dengan demikian ayat di atas berkaitan
dengan moral yang dimiliki manusia yang tidak beriman kecuali bagi yang mau
mengikuti ajaran agama Islam.
Pada dasarnya pendidikan
bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini disesuaikan dengan visi
dan misi pendidikan yaitu:
1.
Meningkatkan
pemerataan dan perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan sekaligus
peningkatan mutu.
khususnya dan dunia pada
umumnya.
3.
Mendorong
terciptanya masyarakat belajar.
4. Pendidikan merupakan
sarana untuk menyiapkan generasi masa
kini dan masa yang akan datang.
5. Pendidikan juga
sebagai upaya untuk memperkuat jati diri bangsa dalam proses industrialisasi
dan perubahan masyarakat.[6]
Masih banyak lagi
pengertian pendidikan Islam menurut para ahli, namun dari sekian banyak
pengertian pandidikan Islam yang dapat kita petik, pada dasarnya pendidikan
Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu
dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum
Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang
berkepribadian muslim dan berakhlak terpuji serta taat pada Islam sehingga
dapat mencapai kebahagiaan didunia dan di akherat.
Di antara sumber-sumber yang menjadi dasar serta rujukan
pendidikan Islam adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Dari sumber itulah terurai
nilai-nilai pendidikan Islam yang hendak ditransformasikan. Namun, penulis
melihat bahwa nilai-nilai pendidikan Islam tidak saja dapat ditemukan dalam
A-Quran dan Al-Hadits namun juga dari
karya seni manusia. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa dalam sebuah karya
apapun bentuknya selalu disisipkan sejumlah nasihat. Sedang untuk menemukan
pesan apa yang disampaikan akan sangat terkait dengan kritik karya.
Kritik karya disini didefinisikan sebagai hasil usaha
pembaca dalam mencari dan menentukan nilai hakiki dari sebuah karya seni
melalui pemahaman penafsiran yang sistematis. Apa yang ingin disampaikan oleh
seorang seniman dapat diketahui atau dapat digali melalui karya-karyanya. Dalam
sebuah karya manusia membawa kreatifitasnya untuk bersentuhan dengan ralitas
dunianya, hasil dari persentuhan itu, manusia tidak hanya menghasilkan
benda-benda materiil, tetapi juga menghasilkan pranata sosial, gagasan, dan
konsep-konsep.
Secara ideal, manusia berkarya bukan hanya mencerminkan
batin yang kosong, melainkan juga mencerminkan refleksinya terhadap realitas
keseniannya. Pendapat ini dapat dibandingkan dengan pendapat yang menyatakan
bahwa karya seni apapun bentuknya bias berfungsi sebagai media pendidikan yang
sifatnya non-formal karena didalamnya selalu diselipkan sejumlah nasihat.[7]
Seni, dalam hal ini berfungsi untuk menciptakan
bentuk-bentuk kesenangan bagi kehidupan manusia yang dalam pelaksanaannya Islam
memberi petunjuk agar kesenangan yang diberikan itu jangan sampai merusak
kebahagiaan dan keselamatan manusia itu sendiri.[8]
Jika seni itu memberikan manfaat bagi manusia,
memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabdikan nilai-nilai
luhur dan menyucikannya serta mengembangkan dan memperhalus rasa keindahan
dalam jiwa manusia, maka dengan alasan tersebut sunnah Nabi mendukung dan tidak
menentangnya.[9] Ge Moore dalam Ghoni mengungkapkan bahwa
nilai sebagai sesuatu sifat empiris yang tidak dapat didefinisikan, sifat yang
melekat pada halnya yang dapat ditangkap oleh manusia dengan jalan
mengalaminya.[10]
Menurut E.B Taylor dalam Triprasetya kebudayaan adalah
keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain,
serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.[11]
Kesenian tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan karena kesenian
merupakan perwujutan nyata dari kebudayaan. Sehubungan dengan itu, Kesenian
kesenian sebagai unsur kebudayaan tidak hanya dilihat sebagai hasil ciptaan
manusia,
tetapi dalam hal ini lebih dipandang sebagai suatu simbol, yaitu
mengatakan sesuatu tentang sesuatu, berhadapan dengan makna dan pesan untuk
diserapkan.[12]
Kesenian adalah perwujudan dari
nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi pola kehidupan masyarakat.
Lonner dan Malpass dalam Dayakisni dan Yuniardi, mengungkapkan
bahwa nilai melibatkan keyakinan umum tentang cara bertingkah laku yang
diinginkan dan yang tidak diinginkan dan tujuan atau keadaan akhir yang
diinginkan atau yang tidak diinginkan.[13]
Jadi nilai adalah sesuatu yang dapat ditangkap oleh
manusia tentang baik buruknya suatu sikap yang dijadikan pedoman hidup manusia
dalam bermasyarakat. Pendidikan adalah segala usaha orang untuk memimpin
perkembangan jasmani dan rohani kearahkedewasaan. Jadi nilai pendidikan
merupakan batasan segala sesuatu yang mendidik kea rah kedewasaan, bersifat
baik sehingga berguna bagi kehidupan.
Menurut Parson dalam Ritzer, kesenian yang termasuk
bagian dari unsur kebudayaan adalah sistem simbol yang terpola dan tertata yang
merupakan sasaran orientasi aktor, aspek sistem kepribadian yang
diinternalisasikan, dan pola-pola yang terinstitusionalkan dalam sistem sosial.[14]
Sebagaimana menurut Parson, kesenian adalah salah satu tingkah laku manusia
merupakan sistem yang hidup yang terdiri dari berbagai sistem yang saling
terkait. sistem-sistem tersebut yakni organisme behavioral, sistem kepribadian,
sistem sosial dan sistem sosial kultur.
Daerah Aceh memiliki kebudayaan tradisional yang menjadi
ciri khas daerah, yaitu kesenian Saman. Kebudayaan sendiri dari pandangan
antropologi dideskripsikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan
hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari
manusia dengan belajar.[15]
Kesenian
merupakan bentuk budaya dari peradaban manusia, kesenian itu sendiri adalah bentuk
media komunikasi universal manusia melalui beberapa gerakan dengan makna-makna
tertentu. Kesenian Saman merupakan tarian berasal dari Aceh yang mana
masyarakatnya sudah bersentuhan dengan nilai agama Islam yang kuat di sana .
Kesenian Saman menjadi kajian dalam penulisan Tesis ini karena kesenian
ini memiliki gerakan yang berbeda dengan kesenian daerah Aceh
lainya yakni gerakannya menunjukkan kekompakan dalam kelompok, gerakannya
dilakukan dengan lantang dan tegas. Kesenian tari Saman juga mengandung nilai-nilai pendidikan antara
lain nilai nilai religi, dan estetika.
kesenian saman biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu, semisal
peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. yang ditampilkan di bawah kolong Meunasah
(sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan zaman, kesenian Saman pun
ikut berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan. Kini, kesenian
saman dapat digolongkan sebagai tari hiburan/pertunjukan, karena penampilan
tari tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu. Kesenian
Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan
kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau
perayaan-perayaan lainnya. Untuk
tempatnya, kesenian Saman biasa dilakukan
di rumah,
lapangan, dan
ada juga yang menggunakan panggung.
Kesenian Saman biasanya ditampilkan dipandu oleh seorang pemimpin yang
lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan
baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis. Namun dewasa ini, fungsi
tarian saman menjadi bergeser. Kesenian ini jadi lebih sering berfungsi sebagai
media hiburan pada pesta-pesta, hajatan, dan acara-acara lain. Nyanyian pada
tari Saman,
terdapat
5 macam nyanyian :
1. Rengum, yaitu sebagai pembukaan atau mukaddimah dari tari Saman (yaitu
setelah dilakukan sebelumnya keketar pidato pembukaan). Rengum ini adalah
tiruan bunyi. Begitu berakhir langsung disambung secara bersamaan dengan
kalimat yang terdapat didalamnya, antara lain berupa pujian kepada seseorang
yang diumpamakan, bisa kepada benda, atau kepada tumbuh-tumbuhan.
2. Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh
seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara
panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah
dinyanyikan oleh penari solo.[16]
Dahulu kesenian Saman dijadikan sebagai media dakwah. Sebelum Saman
dimulai, tampil pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat. Pemuka adat
memberikan nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Syair-
syair yang
dilantunkan dalam tari Saman berisi petuah-petuah dan dakwah Islam.
Maya Rizka Khaerunniza, dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat
simbolisasi nilai Islam pada kesenian Saman terdapat makna yang ditangkap oleh
alat indera manusia yang dikenal dengan makna denotasi, memiliki makna kultural
yang diambil dari gerakan shalat dalam agama Islam yang disebut makna konotasi,
ada keyakinan bahwa penari Saman harus bersih jiwa dan hati, dan dilihat dari
sisi ideologi, dalam kesenian Saman terdapat pemimpin tarian yaitu laki-laki,
dan mempunyai persamaan dengan kaidah Islam, bahwa laki-laki memang terlahir
sebagai pemimpin yang berlaku sampai saat ini baik di masyarakat Aceh maupun
masyarakat Indonesia
Pembahasan dalam Tesis ini adalah tentang nilai-nilai
Islam pada kesenian Tari Saman, karena nilai-nilai dalam tari Saman layak untuk
dipelajari dan dilestarikan melalui pelajaran muatan lokal daerah setempat agar
nilai-nilai pendidikan Islam tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
Alasan lain yakni kedekatan emosional, karena penulis
berasal dari Aaceh maka ingin mengkaji sesuatu yang ada di daerah Aceh.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa
masalah sebagai berikut:
B. Fokus Masalah Penelitian
Fokus masalah dalam
penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, yaitu: apa saja nilai-nilai
pendidikan Islam yang terdapat dalam kesenian Saman pada masyarakat Kabupaten Aceh
Barat? Berdasarkan fokus masalah di atas, dapat dijabarkan menjadi beberapa
pokok-pokok pertanyaan penelitian, sebagai berikut:
- Bagaimana
sejarah berkembangnya kesenian Saman dalam masyarakat Kabupaten Aceh Barat?
- Bagaimana seni gerak dalam Kesenian Saman yang berkembang dalam masyarakat
Kabupaten Aceh Barat?
- Apa seni
ratoh-ratoh yang dikisahkan yang berkembang dalam kesenian Saman pada
masyarakat Kabupaten Aceh Barat?
- Apa
nilai-nilai pendididan Islam yang dapat digali dalam seni gerak dan seni
ratoh kesenian Saman dalam masyarakat Kabupaten Aceh Barat?
C. Penjelasan
Istilah
Dari uraian di atas,
maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Nilai
Pendidikan
Nilai artinya
sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.[17] Maksudnya
kualitas yang memang membangkitkan respon penghargaan.[18] Nilai
itu praktis dan efektif dalam jiwa dan
tindakan manusia dan melembaga secara obyektif
di dalam masyarakat.[19] Jadi nilai yang dimaksudkan adalah sesuatu yang abstrak, ideal, dan menyangkut
persoalan keyakinan terhadap yang dikehendaki, dan memberikan corak pada pola
pikiran, perasaan, dan perilaku
Sedangkan pendidikan dari segi bahasa bermakna ”perbuatan (hal, cara dan
sebagainya) mendidik dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau
pemeliharaan (latihan-latihan dan sebagainya) badan, batin dan sebagainya”.[20]
Dalam bahasa Inggris
pendidikan identik dengan Education atau Educ berarti ”Pendidik”.[21] Educ berarti“menghasilkan dan
mengembangkan, mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik dan material,
yang meliputi spesies hewan dan tidak
terbatas pada hewan yang berakal atau manusia”.[22]
Istilah pendidikan
dalam pendidikan Islam disebut Al-Ta’lim, biasanya diterjemahkan
dengan pengajaran. Pendidikan juga disebut dengan ”Al-Ta’dib. Al-ta’dib
secara etimologi deterjemahkan dengan perjamuan makan atau pendidikan sopan
santun”.[23]
Sedangkan Al-Ghazali menyebutkan pendidikan dengan sebutan ”Al-riyadhat.
Al-riyadhad dalam arti bahasa diterjemahkan dengan olah raga atau
pelatihan”.[24]
Pendidikan yang penulis maksudkan di sini adalah segala
usaha yang dilakukan secara sengaja dengan maksud untuk merubah tingkah laku ke
arah yang sesuai
untuk mencapai kedewasaan fisik dan mental serta moral yang sesuai
dengan ketentuan ajaran Islam.
2. Kesenian Saman
Kesenian berasal dari kata seni yang artinya kesanggupan akal untuk
menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa).[25] Sedangkan kata ‘Saman’ diambil dari
nama seorang Ulama Aceh yakni Syekh Saman pada sekitar abad 14 Masehi, dataran
tinggi Gayo Aceh. Dalam beberapa literatur disebutkan, kesenian ini
dikembangkan oleh Syekh Saman setelah memperhatikan beberapa kebiasaan orang
Gayo zaman
dulu.[26]
Maka kesenian Saman
pada dasarnya muncul dari suatu ide (gagasan) yang dihasilkan oleh manusia yang
mengarah kepada nilai-nilai estetis, sehingga dengan inilah manusia didorong
untuk menciptakan suatu kesenian yang beraneka ragam, agar disuatu daerah
mempunyai ciri khas kesenian masing-masing.
Kesenian Saman berbentuk tarian. Kesenian ini dijadikan sebagai media
penyampai pesan (dakwah), sehingga dalam beberapa gerakan maupun syairnya
terdapat syiar-syiar Islam, selain itu kesenian Saman juga dapat dimaknai
sebagai simbol perjuangan dan kepahlawanan.
Pada umumnya, kesenian ini dimainkan oleh belasan laki-laki, dan
biasanya berjumlah ganjil. diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para
penari yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka
sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah. Dari sinilah
awal mula kesenian saman menjadi salah satu media dakwah ulama setempat.
3. Tokoh Kesenian Saman
Tokoh menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia memiliki beberapa pengertian diantaranya adalah ”Orang
yang terkemuka dan kenamaan (dalam bidang politik, kebudayaan, dsb).[27]
Kesenian terlahir
atas hasil karya perilaku manusia dalam kebudayaan yang beranekaragam suku,
ras, agama, dan tradisi yang berbeda-beda. Keanekaragaman tersebut memiliki
ciri khas tersendiri dan hal itu memberikan pemasalahan dengan pemahaman serta
tanggapan yang berbeda-beda
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan umum penelitian
ini adalah: untuk menemukan nilai-nilai pendidikan dalam kesenian Saman yang berkembang dalam masyarakat Kabupaten
Aceh Barat.
Berdasarkan tujuan
umum penelitian ini, dapat dijabarkan menjadi beberapa tujuan khusus
penelitian, sebagai berikut:
- Untuk mengetahui sejarah
berkembangnya kesenian Saman dalam masyarakat Kabupaten Aceh Barat
- Untuk mengetahui seni gerak dalam Kesenian Saman yang berkembang dalam masyarakat
Kabupaten Aceh Barat
- Untuk mengetahui seni ratoh-ratoh
yang dikisahkan yang berkembang dalam kesenian Saman pada masyarakat
Kabupaten Aceh Barat
- Untuk mengetahui nilai-nilai
pendididan Islam yang dapat digali dalam seni gerak dan seni ratoh
kesenian Saman dalam masyarakat Kabupaten Aceh Barat
E.
Signifikansi
Penelitian
Secara umum yang akan
dicapai dalam penelitian tesis ini adalah:
1.
Memperkaya
literatur dan khazanah keilmuan pendidikan Islam khususnya Nilai-nilai Pendidikan
Islam dalam kesenian saman dan dapat dijadikan referensi dalam upaya
implementasi pendidikan Islam yang efektif; terinternalisasi dan terintegrasi
dalam seluruh mata pelajaran yang dijarkan di sekolah.
2.
Memberi
informasi sebagai pedoman pelaksanaan pendidikan Islam di setiap masyarakat
melalui kegiatan kesenian dalam rangka melahirkan negerasi muda yang beriman
dan bertaqwa sehingga masyarakat merupakan insan-insan agamis, bermoral dan menjunjung tinggi ajaran agama sebagai ummat
beragama yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknoligi semata.
3.
Digunakan
sebagai informasi dan bermanfaat sebagai data sekunder bagi pihak penyelenggara
pendidikan/dinas pendidikan terkait dalam menyusun kebijakan tentang pendidikan
Islam ke depannya.
4.
Menjadi
inspirasi bagi peneliti selanjutnya dalam rangka mengembangkan konsep
pendidikan yang Islami, aplikasi atau implementasinya, terutama dalam cakupan
yang lebih spesifik untuk masing-masing bidang studi yang diajarkan di sekolah.
F.
Kajian Terhadap Hasil Penelitian Terdahulu
Demi terciptanya penelitian
yang benar-benar murni dan asli, maka perlu dilakukan kajian terhadap penelitian
terdahulu, tentang pendidikan nilai, tentang kesenian dan tentang tarian Saman
serta tentang Tgk. Syech Saman dan lain-lain.
Abdurrani, Perbandingan
Denyut Nadi Penari Saman Sanggar Seulaweut dengan Penari Rapa’i Geleng Sanggar
Aneuk Nanggroe. Penelitian
tersebut dilaksanakan di Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Barat. Tulisan ini mengkaji
tentang pengaruh dan perbedaan tari saman Sanggar Seulaweut dan Rapa’i
Geleng Sanggar Aneuk Nanggroe terhadap
denyut nadi. Penelitian tersebut menemukan bahwa aktivitas tari Saman dan
Rapa’i geleng dapat meningkatkan denyut Nadi. Tulisan ini berbeda dengan apa
yang ingin penulis teliti dalam penelitian ini, karena fokus penelitian yang
akan penulis lakukan adalah tentang nilai-nilai Islam yang terdapat dalam
kesenian tari saman.
[1]al-Nahlawi,
al-Tabiyah al-Islamiyah Wa Asalibuha Fi al-Bait Wa al-Madrasah Wa
al-Mujtama’, alih bahasa Shihabuddin dengan Judul; Pendidikan Islam di
Rumah, di Sekolah dan di Masyarakat, Cet. II (Jakarta: Gema Insan
Press, 1996), hal. 68.
[2]Yusuf al-Qardhawi, Tarbiyah
al-Islam Wa Madrasah Hasan al-Banna, alih bahasa Bustani A. Gani dan Zainal
Abidin Ahmad : Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, (Cet. I; Jakarta :
Bulan Bintang, 1980), hal. 57
[3]Department Agama, Kendali Mutu
Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Depag RI ,
2003), hlm.1
[4]Baharuddin, dan Moh
Makin, Pendidikan ..., hlm.116.
[5]Muhammad
Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari
Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,
Jilid 1 (Pej. Sihabuddin), (Jakarta: Gema Insani Press, 199), hlm. 569.
[6]Mulyana,
Kurikulum Berbasis Kompetensi,
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hlm. 17-18.
[7]Nasrullah, “Nilai-Nilai
Pendidikan Dalam Kaligrafi Kontemporer Karya Syaiful Adnan”, Skripsi, (Yogyakarta:,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2005), hlm.10
[8] Sidi Gazalba, Asas-asas
Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hlm. 302.
[9] M. Quraish Shihab, Islam dan
Kesenian, dalam Jabrohim dan Saudi Berlian (peny.), Islam dan Kesenian, t.tp:
Majelis Kebudayaan Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Lembaga Litbang PP
Muhammadiyah, 1416 H / 1995, hlm. 6.
[11]Triprasetya, Ilmu Budaya Dasar. (Jakarta:
Rineka Cipta 1998), haal.28
[12]Hadi, Seni Dalam Ritual Agama.
(Yogyakarta. Buku Pustaka. 2007), hlm.25
[14]Ritzer, Teori Sosiologi,
Dari Klasik Sampai Modern. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008), hlm.
263
[15]Hadi,
Seni Dalam Ritual …, hlm. 19.
[16]
Maya
Rizka Khaerunniza, “Tari Saman Aceh dan Budaya Islam”, Online dari http://www. Gayo lueskab.go.id/, diakses 15 Mei 2014
[19]Muhaimin
dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda
Karya, 1993), hlm. 110.
[20] WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum ..., hlm. 250.
[21]John
M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus
Inggris-Indonesia, (Jakarat: Gramedia, 1996), hlm. 207.
[22]Syeh
Muhammad Al-Nuquib Al-Attas, Konsep
Pendidkan Dalam Islam: Suatu Rangka Piker Pembinaan Filsafat Pendidikan
Islam, Terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 65.
[23]Mahmud
Yunus, Kamus Arab-Indonesia,
(Jakarta: YP3A, 1973), hlm. 149.
[24]Ramayulis,
Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:
Kadar Jaya, 2002), hlm. 2.
[26]Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Budaya Aceh, (Banda Aceh, Pemerintah
Provinsi Aceh , 2009), hlm.161.
[27]
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 1203.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar