KESENIAN
SAMAN
A. Nilai-Nilai
Pendidikan Islam
1. Pengertian Nilai
Terdapat
beberapa perbedaan dalam mengartikan nilai. Perbedaan cara pandang dalam
memahami makna dan/atau pengertian “nilai” bukan untuk menyalahkan definisi lain, akan tetapi
merupakan suatu khazanah para pakar, dan
juga sesuatu yang wajar karena didasari persepsi masing-masing para
pakar berdasarkan sudut pandang teoretis, empiris dan analisis. Nilai, dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, adalah harga (dalam arti taksiran harga). [1]
Menurut Endang
Sumantri nilai-nilai berakar pada bentuk kehidupan tradisional dan keyakinan
agama, bentuk-bentuk kehidupan kontemporer dan keyakinan agama-agama yang
datang berkembang serta aspek politik yang berpengaruh dalam perubahan sikap
penduduk, banyaknya kegelisahan, gejolak terhadap nilai dalam realita
pendidikan pada umumnya.
Selanjutnya
Endang Sumantri mengemukakan tujuh pemaknaan ”nilai”, yaitu:
- Nilai,
suatu ide/konsep yang seseorang pikirkan merupakan hal penting dalam
hidupnya;
- Nilai, (M.
Rokeach) terbagi dua, yaitu (1) nilai sebagai sesuatu yang dimiliki
oleh seseorang (Aperson has a value), dan (2) nilai sebagai sesuatu
yang berkaitan dengan objek
(An object has value);
- Nilai, (Robin
Williams), kriteria atau standar yang dibuat untuk melakukan
penilaian;
- Nilai, (Clyde
Kluckhon), suatu konsepsi yang jelas, untuk tersurat atau tersirat
dari seseorang atau kelompok tertentu mengenai apa yang diingini yang
mempengaruhi pemilihan sarana dan tujuan tindakan;
- Nilai, (George
England) suatu kerangka kerja perseptual yang secara relatif bersifat
permanen, kerangka kerja tersebut membentuk dan mempengaruhi hakikat dari
watak perilaku perorangan umumnya;
- Nilai, (Dalton
E Mc Farland) sesuatu kombinasi ide dan sikap mencerminkan suatu
pilihan atas prioritas, motif atau orang;
- Nilai, (Allport)
keyakinan yang menjadi dasar orang bertindak sesuai dengan preferensinya.[2]
Menurut Sidi Gazalba yang dikutip Chabib
Thoha mengartikan nilai sebagai berikut: Nilai adalah sesuatu yang bersifat
abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya
persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan
penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.[3]
Sedang menurut Chabib Thoha nilai
merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah
berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini).[4] Jadi nilai adalaah sesuatu
yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku.
Definisi
ini menekankan bahwa nilai merupakan standar bagi sikap dan aktivitas
seseorang. Sedangkan Milton Rokeah seperti dikutip oleh Kosasih Djahiri
mengartikan nilai: "suatu kepercayaan (belief) yang bersumber pada
sistem nilai seseorang, mengenai apa yang patut atau tidak patut dilakukan
seseorang mengenai apa yang berharga dan apa yang tidak berharga".[5]
Senada
dengan Milton Rokeah, Kosasih Djahiri mengemukakan: "bahwa nilai atau
value itu lebih tinggi daripada norma atau moral. Adapun nilai itu sendiri
merupakan keyakinan/belief yang sudah menjadi milik diri dan akan menjadi
barometer perbuatan dan kemauan (action and the will) seseorang".[6]
Berdasarkan
definisi-definisi tersebut, Robin M. William sebagaimana dikutip oleh Usep
Supriatna menyimpulkan adanya empat kualitas tentang nilai, yaitu:
1) Nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang
mendalam dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi atau kebutuhan. Dalam
hal ini nilai dianggap sebagai abstraksi yang dikesenian k dari
pengalaman-pengalaman seseorang;
2) Nilai menyangkut atau penuh
dengan pengertian yang memiliki aspek emosi. Baik yang diungkapkan secara aktual ataupun yang
merupakan potensi;
3) Nilai bukan merupakan tujuan konkrit dari
tindakan, tetapi mempunyai hubungan dengan tujuan, sebab nilai mempunyai
kriteria dalam memilih tujuan-tujuan. Seseorang akan berusaha mencapai segala
sesuatu yang menurut pandangannya bernilai;
4) Nilai merupakan unsur penting dan tidak dapat
disepelekan bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataannya nilai berhubungan
dengan pilihan dan pilihan merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan.[7]
Dengan
demikian, ternyata bahwa nilai merupakan seperangkat tingkah laku seseorang
menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi atau
maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat, baik yang
bersumber metafisika, teologi, estetika, maupun logika. Berikut ini akan
dikemukakan dua definisi nilai yang masing-masing mempunyai tekanan yang
berbeda, yaitu:
a) Menurut Gordon
Allport, seorang ahli psikolog, nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang
bertindak atas dasar pilihannya. Nilai terjadi pada wilayah psikologis yang
membuat keyakinan, seperti hasrat, motif, sikap, keinginan, dan kebutuhan.
Karena itu, keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tak indah pada wilayah ini
merupakan hasil dari serentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan
individu pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya;
b) Menurut Kupperman,
seorang ahli Sosiolog, nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia
dalam menentukan pilihannya di antara cara
cara tindakan alternatif. [8]
Definisi
ini mempunyai tekanan utama pada norma sebagai faktor eksternal yang
mempengaruhi perilaku manusia. Oleh sebab itu, salah satu bagian terpenting
dalam proses pertimbangan nilai (Value Judgement) adalah pelibatan
nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat;
Secara
garis besar nilai dibagi dalam dua kelompok yaitu nilai-nilai nurani dan nilai-nilai memberi. Nilai–nilai nurani
adalah nilai yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku
serta cara kita memperlakukan orang lain. Yang termasuk dalam nilai-nilai
nurani adalah kejujuran, keberanian,
cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas, kemurnian, dan
kesesuaian. Nilai-nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikkan atau
diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan yang termasuk
pada kelompok nilai-nilai memberi adalah setia, dapat dipercaya, hormat, cinta,
kasih, peka, tidak egois, baik hati, ramah, adil, dan murah hati.[9]
Definisi di
atas merupakan dua dari sekian banyak definisi nilai yang dapat dirujuk. Para
filosof nilai yang bekerja dalam Union of International Association
(UIA) melaporkan 15 definisi nilai yang berbeda. Jumlah definisi ini
diperkirakan masih akan bertambah jika kita merujuk pada sejumlah buku yang
membahas secara khusus atau hanya menyinggung persoalan nilai sebagai makna
yang abstrak, bukan sebagai harga suatu barang atau benda. Karena itu, memilih
definisi nilai bukan untuk menyalahkan definisi lain, tetapi hal itu tergantung
dari sudut pandang mana kita melihat dan keperluan apa yang kita butuhkan.[10]
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas
dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan merupakan batasan segala sesuatu yang
mendidik ke arah kedewasaan, bersifat baik maupun buruk sehingga berguna bagi
kehidupannya yang diperoleh melalui proses pendidikan. Proses pendidikan bukan
berarti hanya dapat dilakukan dalam satu tempat dan suatu waktu. Dihubungkan
dengan eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada
pembentukan pribadi manusia sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan
berbudaya.
2. Pengertian
Pendidikan
Pendidikan dilihat dari istilah bahasa
Arab maka pendidikan mencakup berbagai pengertian, antara lain tarbiyah
(pendidikan), tahzib (menuntut), ta’lim (pengajaran), ta'dib (pembinaan),
siyasat (siasat), mawa’izh (pengajaran), 'ada ta'awwud (pembiasaan)
dan tadrib (pelatihan). Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib
(menuntut) dan ta'dib sering
dikonotasikan sebagai pendidikan. Ta'lim (pengajaran) diartikan
pengajaran, siyasat (siasat) diartikan siasat, pemerintahan, politik
atau pengaturan. Muwa'izh (pengajaran) diartikan pengajaran/peringan. ’Ada
Ta'awwud (pembiasaan) diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.
Istilah di atas sering dipergunakn oleh
beberapa ilmuwan sebagaimana Ibn Miskawaih dalam bukunya berjudul tahzibul
akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat,
Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan
wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu
karyanya Ta'lim al-Mula'allim tarikh at-ta'alum. Perbedaan itu tidak
menjadikan penghalang dan para ahli sendiri tidak mempersoalkan penggunaan
istilah di atas. Karena, pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu
dalam suatu kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan
generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara
lebih baik.[11]
Secara istilah, tarbiyah (pendidikan),
ta’dib (pembinaan), dan ta’lim (pengajaran) memiliki perbedaan
satu sama lain dari segi penekanan, namun apabila ditilik dari segi unsur
kandungannya, terdapat keterkaitan kandungannya yang saling mengikat satu sama
lain yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak. Kata ta’dib (pembinaan),
lebih menekankan pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar
menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik. Sedang pada at-Tarbiyah
(pendidikan), difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya dan tumbuh
kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang secara sempurna.
Sedangkan kata ta’lim (pengajaran),
titik tekannya pada penyampaian ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman,
pengertian, tanggungjawab, dan pemahaman anamah kepada anak. Dari pemaparan
ketiga istilah, maka terlihat bahwa proses ta’lim mempunyai cakupan yang lebih
luas dan sifatnya lebih umum dibanding dengan proses tarbiyah dan ta’dib
(pembinaan)
Pendek kata pendidikan telah didefinisikan
oleh banyak kalangan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari, namun pada
dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal,
bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk
menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan
efesien.[12]
Apabila istilah pendidikan ini dikaitkan dengan Islam maka para ulama Islam
memiliki pandangan yang lebih lengkap sebagaimana pandangan M.Yusuf Qardhawi
dalam Azra, memberikan pengertian, bahwa;
Pendidikan
Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan
jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu pendidikan Islam menyiapkan
manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkan
untuk mengahadapi masyarakat dengan segala kebaikan, dan kejahatannya, manis
dan pahitnya.[13]
Melihat pandangan di atas yang telah
diungkapkan oleh beberapa ilmuwan muslim, maka kita perlu mengkaji kembali
sejarah perkembangan pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW. Proses
penanaman akidah dan pembiasaan perilaku sesuai dengan ketentuan Islam kepada
kaum Quraisy berlangsung secara bertahap yang membutuhkan kegigihan dan
kesabaran. Kegigihan dan kesabaran Rasulullah yang ditransformasikan pada pembimbingan, pemberian motivasi, penanaman
nilai, dan penciptaan kondisi yang lebih baik kemudian dapat merubah tatanan
bangsa arab secara keseluruhan. Menurut hemat penulis apa yang dilakukan oleh
Rasulullah telah masuk dalam wacana pandidikan di zaman sekarang.
Berkenaan dengan hal di atas, al-Attas
mengungkapkan bahwa pendidikan adalah
pengenalan dan pengakuan mengenai suatu tempat sesuatu sesuai dengan
tatanan penciptaan yang ditanamkan secara progresi ke dalam diri manusia;
proses ganda, pertama melibatkan masuknya unit-unit makna suatu objek
pengetahuan kedalam jiwa seseorang dan yang kedua melibatkan sampainya jiwa pada unit-unit makna tersebut. [14] Dari penjelasan di atas
dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap
ditanamkan ke dalam manusia.
3. Metode dalam
Pendidikan Islam
Metode merupakan alat yang digunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan, atau dengan istilah lain dapat diartikan sebagai
cara yang dipergunakan dalam rangka mengadakan hubungan dengan peserta didik
pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam maka metode yang digunakan sangatlah banyak.
Dalam mempelajari agama Islam, metode
sangat berpengaruh dalam setiap proses belajar mengajar. Pendidikan agama Islam akan memberikan suatu
nilai positif dalam sikap hidup, sikap yang merupakan formulasi kalimah “Laa
ilaha illallah” dalam wujudnya yang nyata adalah hanya cinta kepada Allah,
Rasul dan mukmin yang senantiasa menegakkan nilai-nilai ajaran agama dan
hukum-hukum ilahi, di samping itu juga
pendidikan Islam akan dapat menjauhkan
anak didik dari hal-hal yang dilarang
oleh Allah.
Maka metode pendidikan agama Islam yang
tepat adalah dengan membiasakan anak
didik dengan nilai-nilai yang islami seperti mencintai Allah dan Rasul, dimana
saja, dan kapan saja karena keimanan dan ketaatan anak kepada Allah. Sehubungan
dengan pendidikkan Islam, maka metode yang digunakan haruslah mengacu kepada
sumber pokok ajaran Islam yaitu Al-Quran
dan Hadits.
Berkaitan dengan hal tersebut di
atas, Muhammad Fadhil al-Jamali
menyatakan bahwa ”Pada hakikatnya Al-Quran itu adalah merupakan pembendaharaan yang besar
untuk kebudayaan umat manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnya
merupakan Kitab pendidikan kemasyarakatan akhlak dan kerohanian atau dengan
kata lain moral dan spritual.[15] Bahkan An-Nadwi lebih
tegas lagi mengatakan bahwa jika pendidikan Islam tidak didasarkan pada aqidah Islamiah yang bersumber dari
Al-Quran dan Hadits, maka pendidikan itu bukanlah pendidikan Islam tetapi
adalah pendidikan asing Abu al-Hasan al-Nadwi[16]
Metode pendidikan agama yang selama ini
dilaksanakan oleh banyak orang adalah dengan melalui metode nasehat yaitu
dengan cara memberikan ceramah atau nasehat dan menuntun peserta didik untuk
melakukan akhlak yang baik, hal ini mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Lukmanul
Hakim kepada anaknya sebagaimana firman-Nya yaitu;
يبنى أثم الصلوة وأمر بالمعروف
وانه عن المنكر واصبر على ما أصا بك ان ذالك من عزم الأمور . ولا تصعرخدّك للناس
ولا تمش فى الأرض مرحا ان الله لا يحبّ كل مختال فخور( لقما ن: ١۷– ۱۸ )
Artinya: Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah). Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri. (QS. Lukman: 17-18).[17]
Ayat
di atas dapat
dipahami bahwa salah satu cara atau
metode pendidikan Agama Islam
adalah dengan memberikan
nasehat, melalui nasehat diharapkan peserta didik
dapat ternbimbing untuk melakukan nilai-nilai ajaran agama Islam.
Metode ini penting dalam pendidikan agama
Islam, karena membentukan dan mempersiapkan moral atau akhlak sprituil dan
sosial anak didik, sebab nasehat ini dapat membukakan mata anak-anak pada
hakikat sesuatu dan mendorongnya menuju situasi luhur, serta menghiasinya
dengan akhlak mulia serta membekalinya dengan prinsip-prinsip islami.
Selain dengan nasehat, yang juga
berkembang dalam dunia pendidikan selama ini adalah dengan memberikan contoh
teladan, metode keteladanan ini merupakan metode yang paling berpengaruh dalam
mempersiapkan dan membentuk anak didik memiliki moral, spritual dan sosial. Hal
ini karena pendidikan adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan
ditirunya dalam tindak tantuknya, tata santunnya disadari ataupun tidak, bahkan
tercetak dalam jiwa dan perasaan anak suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan,
baik material maupun spritual, diketahui atau tidak diketahui. Sehubungan
dengan metode tersebut Aisyah Dahlan mengemukakan:
Jika anak-anak
tidak didik kepada
yang baik semenjak
kecil, sulitlah ia diwaktu dewasa
akan menjadi anak yang baik dengan sendirinya. Apa yang ditanamnya itu dialah
yang menemuinya. Jika kita menanam bibit yang baik insya Allah hasilnya akan
baik. Sebaliknya jika tanaman itu bibitnya tidak jelek atau cacat maka hasilnya akan cacatdan
jelek pula.[18]
Sehubungan dengan metode latihan kesenian Saman ada beberapa unsur gerak yang mampu
membangkitkan gairah bagi setiap pelakunya, maka tentu saja dalam hal ini
menyangkut dengan gerak dan sendirinya dalam latihan yang dijalankan lebih
dominan pada ruang dan waktu dari gerak yang selalu dilaksanakan. Namun perlu
ditanyakan gerak yang bagaimana dapat dikatakan gerak kesenian. Sebagaimana
lazim dikatakan bahwa proses perpindahan dari posisi ke posisi berikutnya
adalah gerak. Manusia mempunyai bentuk tubuh, maka sumber gerak dalam kesenian saman adalah melalui anggota tubuh manusia
yang terdiri dari kepala, badan, lengan tungkai yang disebut subsistem tubuh.
Adapun bagian utama yang perlu dilatih dari kesenian saman adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh
Mirzadewi.[19]
Syair yang dibawakan tergantung pada syahi, hingga sekarang
syair-syair itu banyak yang dibuat baru, namun tetap pada fungsinya yaitu
berdakwah yang di dalamnya terkandung berbagai macam nasehat dan nilai
pendidikan. Demikian juga dengan kostum yang dipakai berwarna hitam kuning
berpadu manik-manik merah, serempak mengeprak panggung dengan duduk bersimpuh.
Gerakannya berirama satu-satu, lambat lama kemudian berubah cepat diiringi
dengan gerak tubuh yang masih dalam posisi duduk bersimpuh, melikuk ke kiri dan
ke kanan. Gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat. Pada dasarnya, ritme
gerak pada kesenian an saman hanya terdiri dari empat tingkatan yaitu; lambat,
cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur
karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera,
berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada
eksistensi kehidupan agama, politik, sosial dan budaya mereka.[20]
Pada gerak lambat, ritme gerakan kesenian an saman tersebut memberikan
pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang
matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di
depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus
dipertimbangkan dengan seksama. Permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah
sesuatu yang diberikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari
gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu
yang dianalogikan dalam bentuk tertentu.
Dari uraian di atas terlihat bahwa
syair-syair dalam kesenian saman
merupakan suatu metode pendidikan dalam rangka membina masyarakat terhadap
nilai-nilai yang terkandung di dalam syair tersebut baik nilai akhlak, sosial
dan sebagainya.
4. Nilai-Nilai yang
Perlu Ditanamkan dalam Pendidikan Islam
Adapun nilai-nilai yang perlu ditanamkan
dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut.
a.
Nilai
Pendidikan Religius
Nilai religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan
pencipta alam dan seisinya. Berbicara
tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas dari
pembahasan agama. Agama merupakan pegangan hidup bagi manusia.
Agama dapat pula bertindak sebagai pemacu
faktor kreatif, kedinamisan hidup, dan perangsang
atau pemberi makna kehidupan. Melalui agama,
manusia pun dapat mempertahankan keutuhan
masyarakat agar hidup dalam pola kemasyarakatan
yang telah tetap sekaligus menuntun untuk
meraih masa depan yang lebih baik.
Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam
dalam lubuk hati manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan
secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia
secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan.[21]
Nilai-nilai religi bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik
menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang
terkandung dalam karya seni dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan
renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama.
Nilai-nilai religius
dalam
seni bersifat individual dan personal. M.
Atar Semi dalam bukunya Anatomi Sastra mengatakan kita tidak mengerti
hasil-hasil kebudayaanya, kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama
yang mengilhaminya. Religi
lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri.[22]
Dari beberapa pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa nilai religius merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak
serta bersumber pada atau keyakinan manusia.
b.
Nilai
Pendidikan Moral
Moral merupakan makna yang terkandung dalam karya seni, yang
disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang
sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral. Hasbullah dalam Amalia
menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang
baik dan yang buruk.[23]
Nilai moral yang terkandung dalam karya seni bertujuan untuk mendidik
manusia agar mengenal nilai-nilai etika
merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa
yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam
masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi
Uzey berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai,
yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu
berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral
berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang
lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan manusia sehari-hari.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral
menunjukkan peraturan-peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu
dari suatu kelompok yang meliputi perilaku.
c.
Nilai
Pendidikan Sosial
Kata “sosial” berarti hal-hal yang berkenaan
dengan masyarakat/kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial merupakan hikmah
yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial.
Perilaku sosial berupa sikap seseorang
terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada
hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan
sosial bermasyarakat antar individu. Nilai
pendidikan sosial yang ada dalam karya seni dapat dilihat dari cerminan kehidupan
masyarakat yang
diinterpretasikan.[25] Nilai pendidikan sosial akan menjadikan
manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan
antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai pendidikan sosial mengacu pada
hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana
seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan
menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Dalam masyarakat
Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya, pengendalian diri adalah sesuatu
yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan masyarakat. Sejalan dengan
tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat untuk
merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan
berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai
norma yang berlaku.
Jadi nilai pendidikan sosial dapat
disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui
perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang yang memiliki nilai tersebut.
Nilai pendidikan sosial juga merupakan sikap-sikap dan perasaan yang diterima
secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar
dan apa yang penting.
d.
Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai budaya menurut merupakan sesuatu
yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa
yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa
lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada suatu
masyarakat dan kebudayaannya. Nilai budaya merupakan tingkat yang paling
abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar
diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat.[26]
Uzey berpendapat mengenai pemahaman tentang
nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang
dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan
secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh
masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang
digambarkan.[27]
Sistem nilai budaya merupakan inti
kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan menata elemen-elemen yang
berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia yang meliputi perilaku
sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan material. Sistem nilai
budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian
besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai
dalam hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai
pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Dari berbagai pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa sistem nilai pendidikan budaya merupakan nilai yang menempati
posisi sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya
abstrak dan hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada
gejala-gejala yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material
sebagai hasil dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola.
B. Kesenian Saman
1. Sejarah Kesenian
Saman
Kesenian
merupakan salah satu unsur dari tujuh unsur kebudayaan universal lainnya,
yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem sosial,
sistem peralatan hidup, sistem kesenian dan sistem kepercayaan atau agama.[28] Kesenian ini di namakan Kesenian
Saman karena diciptakan oleh seorang
Ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari
dataran tinggi Gayo. Awalnya,
kesenian an ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane.
Ada pendapat mengatakan bahwa
saman berasal dari mazhab Samaniyah dan di Aceh dikembangkan oleh Syeikh
Saman.[29] Namun, kemudian
ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta
diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, kesenian saman menjadi salah satu media dakwah.
Pada mulanya, kesenian saman hanya
ditampilkan untuk even-even tertentu, khususnya pada saat merayakan Hari kelahiran
Nabi Besar Muhammad saw atau disebut peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.
Biasanya, kesenian saman ditampilkan di
bawah kolong Meunasah (sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan
zaman, kesenian Saman pun ikut
berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan.[30]
Kini, kesenian saman dapat
digolongkan sebagai kesenian hiburan/pertunjukan, karena penampilan kesenian
tidak terikat dengan waktu, peristiwa
atau upacara tertentu. Kesenian Saman
dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan
kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau
perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, kesenian Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan
ada juga yang menggunakan panggung.
Kesenian dari Aceh ini disebut Kesenian
Saman karena diciptakan oleh seorang
ulama yang bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran
tinggi Gayo. Kesenian Saman mencerminkan
pendidikan, keagamaan, sopan
santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.[31]
Kesenian Saman merupakan sebuah pengejawantahan bahasa
tubuh untuk menyampaikan pesan (dakwah). Gerakan-gerakan dari Kesenianan Saman
adalah mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan,
kekompakan dan kebersamaan. Sebuah ritual sebelum Kesenian Saman dimulai sebuah seorang tua cerdik pandai
atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) menyampaikan
mukaddimah atau pembukaan atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain
dan penonton.
Kesenian Saman biasanya ditampilkan
dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja
sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis. Dalam
penampilan yang biasa saja (bukan pertandingan) dimana adanya keterbatasan
waktu, Saman bisa saja dimainkan oleh 10 – 12 penari, akan tetapi keutuhan
Saman setidaknya didukung 15 – 17 penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :[32]
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16 17
·
Nomor 9 disebut Pengangkat
Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik
sentral dalam Saman, yang menentukan gerak kesenian, level kesenian ,
syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair sebagai balasan terhadap
serangan lawan main (Saman Jalu /
pertandingan)
·
Nomor 8 dan 10
disebut Pengapit
Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak kesenian maupun nyanyian/ vokal
·
Nomor dan disebut Penyepit
Penyepit adalah penari biasa yang mendukung kesenian atau gerak kesenian yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai
penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan antara penari
terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf
(horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.
·
Nomor 1 dan 17 disebut Penupang
Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri
dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai
bagian dari pendukung kesenian juga
berperan menupang/ menahan keutuhan posisi kesenian agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang
disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan
bertahan memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis
rumput yang akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.
Kesenian Saman biasanya mempunyai gerakan
2-3 varian yang dilakukan secara bersama-sama secara bergantian, dan masing
masing varian berbeda-beda gerakannya pada sesi berikutnya. Lagu dan syair
pengungkapannya secara bersama dan kontinyu, pemainnya terdiri dari pria-pria
ataupun wanita-wanita muda yang menggunakan pakaian adat tertentu.
Kesenian Saman adalah jenis kesenian yang tidak menggunakan alat musik sebagai
pengiringnya,akan tetapi digantikan oleh suara tepukan tangan di dada dan
tepukan tangan di pangkal paha juga suara dari para penari sebagai sinkronisasi
dan menghempaskan badan ke berbagai arah, gerakan kepala ke berbagai arah,
sangat dinamis kompak dan membuat takjub para penonton yang melihatnya.
Grakan-gerakan ini disebut guncang, kirep,
lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo). Kesenian an Saman
ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech, selain mengatur
gerakan para penari,Syeikh juga
bertugas menyanyikan syair-syair lagu
saman. yaitu Ganit.
Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu:
-
Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar
kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan
benang seperti baju, sunting kepies.
-
Pada
badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih,
hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju
bertangan pendek) celana dan kain sarung.
-
Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu
pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai
tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan
kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan.
-
Kesenian saman memang sangat menarik. Pertunjukkan kesenian
Saman tidak hanya populer di negeri kita
sendiri, namun juga populer di mancanegara seperti di Australia dan Eropa.
Baru-baru ini kesenian saman
dipertunjukkan di Australia untuk memperingati bencana besar tsunami pada 26
Desember 2006 silam. Maka dari itu, kita harus bangga dengan kesenian yang kita
miliki, dan meleskesenian kannya agar tidak punah.[33]
2. Pengaruh Sufistik
dalam Kesenian Saman
Kesenian Saman diciptakan oleh
seorang ulama besar dari Samudra Pasai (Pase) untuk media dakwah Islam yang ia
bawa ke pegunungan Leuser yang penduduknya bersuku bangsa Gayo, di bagian
Tenggara Aceh dan kini termasuk kabupaten Gayo Luwes. Dipilih kesenian an dalam
posisi duduk sebagai media dakwah karena penduduk pegunungan Leuser menyukai kesenian
an dalam posisi tersebut, dan kesenian an kembarnya bernama seudati di Pase
dalam posisi berdiri.
Dinamakannya kesenian an tersebut
dengan Kesenian Saman karena ulama besar
itu terinspirasi dari Tarekat Sammaniyah yang pertama kali masuk ke Aceh dibawa
oleh gurunya Syekh Abdussamad al-Falimbani sekitar abad ke-18 yang ia pelajari
dari Syeh Samman (dengan huruf ‘m’ ganda) yang mengajarkan tarekat Sammaniyah.
Sammaniyah adalah tarekat yang mengajarkan zikir dan wirid untuk mendekatkan
diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.[34]
Setelah ke Aceh, Syekh Abdussamad al-Palimbani menyebarkan Tarekat
Sammaniyah di Palembang. Ia mengajarkan doa dan zikir yang didapatkannya dari
Syekh Samman. Mulanya tarekat ini murni mengajarkan zikir yang termuat dalam
ratib Samman. Namun dalam perkembangannya, zikir itu dinyanyikan oleh
sekelompok orang, yang di Aceh berkembang jadi Kesenian Saman dan Kesenian Seudati.[35]
Kesenian Saman dipraktikkan dalam
posisi duduk karena disesuaikan dengan budaya penduduk Leuser yang suka
menarikan tubuhnya dalam posisi duduk, dan ini sesuai dengan posisi tubuh saat
wirid Sammaniyah yang dikembangkan di Afrika. Sementara kesenian Seudati dipraktikkan dalam posisi berdiri
karena orang pesisir di Pase suka menari sambil berdiri seperti saat menarik
pukat, dan ini sesuai dengan posisi tubuh sebagian pengikut Tarekat di Turki
dan sebagian Afrika.[36]
Tarekat Sammaniyah diamalkan usai melaksanakan shalat lima waktu dan dengan
cara duduk bersila. Salah seorang murid Sekh Abdussamad al-Palimbani adalah
lelaki dari Samudra Pasai yang kemudian jadi ulama dan dikenal dengan Syekh
Saman, bukan Syekh Samman dari Arab. Tarekat berisi zikir dan wirid Sammaniyah
terus berkembang di Aceh seperti di Sudan dan Nigeria, tapi di negara Afrika
tersebut, zikir dan wirid Sammaniyah dilaksanakan dengan cara berdiri sambil
memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak hanya wirid seusai shalat lima
waktu, zikir dan wirid Sammaniyah biasanya dilaksanakan pada peringatan hari
besar Islam, seperti maulid Nabi saw, Isra Miraj, dan sebagainya. Sementara di
Aceh zikir dan wirid Sammaniayah dibacakan dalam posisi duduk, makanya Kesenian
Saman yang terispirasi dari tarekat ini
di Aceh pun dilakukan dalam posisi duduk.[37]
Untuk mengembangkan ajarannya, Syekh Samman menulis sejumlah ratib yang
terkenal dengan nama Ratib Samman. Di Aceh, Ratib Samman dan atau Hikayat
Samman, sangat terkenal. Ratib Samman kemudian berubah menjadi suatu macam
permainan atau kesenian an rakyat yang terkenal dengan nama seudati di Samudra
Pasai, yang bermakna kesenian. Beberapa ulama Aceh di masa itu, pernah
menentang pembacaan Ratib Saman yang dinyanyikan atau dikesenian kan. Kesenian an
meu-saman atau meu-seudati ini dimainkan minimal oleh delapan orang lelaki atau
perempuan ditambah seorang syeh.
Tarekat Sammaniyah yang berkembang di Palembang dibawa dari Arab oleh
murid-murid Abdussamad Al-Falimbani. Syekh Samman seorang ulama dan sufi terkenal
yang mengajar di Madinah. Syekh Samman, awalnya merupakan pengikut dari
berbagai tarekat, seperti Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan
Syadziliyah. Kemudian Syehkh Samman memadukan berbagai unsur tarekat-tarekat
tersebut menjadi cabang tarekat tersendiri dengan nama Tarekat Sammaniyah,
sebagai ciri khasnya.[38]
Tarekat Sammaniyah pertama kali tersebar dan memberikan pengaruh yang luas
di Aceh, Kalimantan, Sumatra terutama Palembang dan beberapa daerah lainnya
seperti Jayakarta. Tarekat Sammaniyah berciri khas, antara lain; zikirnya yang
keras-keras dengan suara yang tinggi dari pengikutnya sewaktu melakukan zikir Laa
ilaaha illa Allah, di samping itu juga terkenal dengan Ratib Samman yang
hanya mempergunakan perkataan Hu, Dia Allah, kalau diartikan dalam bahasa Aceh
Muda (Melayu).
Ulama besar dari Pase mengembangkan Kesenian Saman diisinya dengan petuah agama, petunjuk
hidup, dan sebagainya sebagai pendidikan, keagamaan, sopan santun,
kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan dalam menjalani hidup. Untuk
menyatukan diri dengan masyarakat di pegunungan Leuser dan mengihindari
kecurigaan penduduk bahwa ia membawa ajaran agama baru, maka pada awalnya, Syeh
Saman membuat Kesenian Saman sebagai
permainan rakyat yang di tempat dikembangkannya disebut Pok Ane.
Kesenian Saman diperankan secara
berkelompok, paling sedikit delapan orang, dan kadang sampai 17 orang. Pimpinan
kesenian an ini disebut syeh yang duduk di posisi nomor sembilan (tengah). Kesenian
Saman diawali dengan salam pembuka dari
syekh diiringi petuah-petuah tentang kehidupan.
Setelah timbul minat besar masyarakat Aceh di pegunungan Leuser pada Kesenian
Saman, maka ulama besar dari Pase
tersebut menyisipkan syair-syair puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Kesenian
Saman menjadi media dakwahnya dan
menyertakan semangat perjuangan membela bangsa dan agama.
Setelah penduduk merasa dirinya telah menyatu dengan syair-syair dan petuah
dalam Kesenian Saman, maka Syeh Saman
baru mengenalkan ketauhidan Islam secara resmi dan meminta penduduk Leuser
memeluk agama Islam. Saat itulah ulama besar dari Pase itu menamakan kesenian an
tersebut dengan Kesenian Saman dan
penduduk memanggilnya dengan ‘Syeh Saman,’ karena ia mengajarkan bahwa pemimpin
kesenian itu disebut syekh. Maka
terkenallah ulama besar dari Pase itu dengan nama Syekh Saman (tanpa huruf ‘m’
ganda), karena dalam budaya Aceh di masa silam, orang enggan nama aslinya
disebut demi menghindari tinggi hati.[39]
Penduduk dilatih Kesenian Saman di
bawah kolong meunasah yang dibangun sebagai tempat pertemuan penduduk dan
menjadi pusat pengembangan agama dan tempat musyawarah semua urusan. Meunasah
adalah bangunan berbentuk surau seperti rumah panggung dalam budaya Aceh, tapi
kebanyakan dindingnya setengah tiang, tidak mencapai atap. Kolong meunasah
dipilih sebagai tempat latihan kesenian Saman agar orang yang berlatih dapat shalat
berjamaah setelah latihan.[40]
3. Makna Simbolik
Gerak Kesenian Saman
Gerak kesenian merupakan unsur utama dari kesenian. Gerak di
dalam kesenian bukanlah gerak yang realistis,
melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dan estetis. Gerak kesenian selalu melibatkan unsur anggota badan manusia.
Gerak dalam kesenian
berfungsi sebagai media untuk
mengkomunikasikan maksud-maksud tertentu dari koreografer.
Gerak di dalam kesenian adalah gerak yang indah. Yang dimaksudkan
dengan gerak yang indah adalah gerak yang telah diberi sentuhan seni.
Gerak-gerak keseharian yang telah diberi sentuhan seni akan menghasilkan gerak
yang indah. Misalnya gerak berjalan, lari, mencangkul, menimba air di sumur,
memotong kayu dan sebagainya, jika diberi sentuhan emosional yang mengandung
nilai seni, maka gerak-gerak keseharian tersebut akan tampak lain. Gerakan kesenian
yang indah membutuhkan proses pengolahan
atau penggarapan terlebih dahulu, pengolahan unsur keindahannya bersifat stilatif dan distortif:
a. Gerak
Stilatif
Gerak yang
telah mengalami proses pengolahan (penghalusan) yang mengarah pada bentuk-bentuk yang indah.
b. Gerak
Distorsif
Pengolahan gerak melalui proses perombakan dari aslinya dan
merupakan salah satu proses stilasi. Dari hasil pengolahan gerak yang telah
mengalami stilasi dan distorsi lahirlah dua jenis gerak kesenian , yaitu gerak murni (pure
movement) dan gerak maknawi.
1) Gerak murni
Gerak yang digarap untuk mendapatkan bentuk yang artistik dan tidak
dimaksudkan untuk menggambarkan sesuatu. Dalam pengolahannya tidak mempertimbangkan
suatu pengertian tertentu, yang dipentingkan faktor keindahan gerak saja.
2) Gerak
maknawi
Gerak maknawi merupakan gerak yang telah diubah menjadi gerak indah
yang bermakna dalam pengolahannya mengandung suatu pengertian atau maksud
tertentu, disamping keindahannya. Gerak maknawi di sebut juga gerak Gesture,
bersifat menirukan ( imitative dan mimitif ).
a. Imitatif
adalah gerak peniruan dari binatang dan alam.
b. Mimitif adalah gerak peniruan dari gerak-gerik
manusia.
Gerak adalah bahan baku utama kesenian. Untuk
itu, sebelum membuat sebuah karya kesenian kita akan mempelajari seluk beluk gerak. Gerak
ini nantinya akan disusun menjadi kesenian an yang indah dipandang.
Pertama-tama buatlah gerakan untuk kesenian tunggal. Jika dirasa sudah baik, kembangkan
menjadi gerak kesenian berpasangan atau
berkelompok. Dalam menyajikan sebuah kesenian an, perhatikan dan terapkan
hal-hal berikut:
a) Penguasaan
materi gerak dan ekspresi yang akan ditarikan
b) Ketepatan gerak dengan
iringan
c) Penguasaan ruang
pentas
d) Rasa percaya
diri.[41]
Kesenian an saman menggunakan dua unsur gerak yang
menjadi unsur dasar dalam kesenian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama islam, syeikh saman mempelajari kesenian an melayu kuno,
kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair
dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, kesenian an
ritual yang bersifat religius ini masih digunakan
sebagai media untuk
menyampaikan pesan
Kesenian an saman termasuk salah satu kesenian
an yang cukup unik, kerena hanya menampilkan gerak tepuk tangan gerakan-gerakan
lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini
adalah bahasa Gayo).
4. Makna Ratoh Saman
Kesenian Saman merupakan sebuah kesenian
an yang berasal dari Daerah Istimewa Aceh. Kesenian an yang hingga saat ini
sering sekali dikenal dengan sebutan Kesenian Saman. Padahal Kesenian Saman adalah kesenian sejenis namun di keseniankan
oleh penari laki-laki sedangkan kesenian an yang di keseniankan oleh penari
perempuan adalah kesenian Ratoh
Jaro.
Keseragaman, keserasian dan ketegasan gerak pada kesenian ini menunjukkan
keselarasan dengan hikmat dalam melantunkan pujian-pujian bagi Tuhan (pada umat
Islam). Syair dan puji-pujian
yang diceritakan dan dalam kesenian Saman disebut juga dengan Ratoh. Ratoh berarti
berbincang atau juga diartikan dengan kisah atau cerita.[42]
Jadi Ratoh Saman adalah suatu kesenian an Aceh yang dimainkan sambil duduk
dengan membaca syair-syair, cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai
keagamaan, karena pada dasarnya syair yang dilantukan dalam Kesenian Saman ini mengajak masyarakat untuk taat
kepada Allah dan Rasulnya.
Kesenian Ratoh Saman ini berkembang di Aceh Selatan dan Aceh Barat. Di Aceh
Barat masih dinamakan Saman. Di Aceh selatan kesenian ini berpusat di Manggamat
Kecamatan Kluet Utara Kebupaten Aceh Selatan. Pada Awalnya Ratoh ini dimainkan
untuk tujuan menarik masyarakat untuk mempelajari tuntnan agama dan
pelajaran-pelajaran lainnya seperti adab sopan santu dan lain-lain.[43]
Ratoh Saman ini dalam pertunjukan kelihatan gerak badannya setengah badan,
di samping gerak tangan dan pukulan telapak tangan di paha dan di dada
masing-masing dalam mengatur irama yang diselaraskan dengan radat (syair) yang
merupakan jiwa dari kesenian an tersebut.
C. Nilai
Pendidikan Islam dalam Kesenian Saman
Jika menelaah kembali pengertian pendidikan Islam, menurut Rama Yulis
terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu:
1)
Nilai Akidah
(keyakinan) berhubungan secara vertikal dengan Allah swt (Hablun Min Allah)
2)
Nilai Syari’ah
(pengalaman) implementasi dari aqidah hubungan horizontal dengan manusia (Hablun
Min an-Naas).
Menurut Zakiah Drajat dalam Haironi, salah satu dari empat nilai pokok yang
ingin disampaikan melalui proses pendidikan Islam yaitu nilai-nilai esensial.
Menurutnya, nilai esensial adalah nilai yang mengajarkan bahwa ada kehidupan
lain setelah kehidupan di dunia ini, untuk memperoleh kehidupan ini perlu
ditempuh cara-cara yang diajarkan agama yatiu lewat pemeliharaan hubungan yang
baik dengan Allah dan sesama manusia. [45]
Sedangkan Menurut Achmadi mendefinisikan pendidikan Islam
adalah segala usaha untuk memelihara dan
mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insan yang berada pada
subjek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai
dengan norma Islam atau dengan istilah lain yaitu terbentuknya kepribadian
muslim.[46]
Jadi nilai-nilai pendidikan Islam adalah
sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang digunakan
sebagai dasar manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada
Allah swt. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena
pada waktu itu adalah masa yang tepat
untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.
Adapun nilai pendidikan Islam dalam kesenian Saman antara lain yaitu;
1. Nilai Akidah
Yang dimaksud dengan Akidah, menurut ilmu tentang asal usul kata
(etimologi) adalah ikatan, sangkutan. Sedangkan menurut ilmu
tentang definisi (terminologi) adalah iman, keyakinan. Karena itu,
akidah selalu ditautkan dengan Rukun Iman yang merupakan asas seluruh ajaran
Islam.
Islam itu sangat indah, Karena Allah swt itu indah
dan mencintai keindahan. Nilai akidah yang diambil dalam seni adalah seni yang
membawa masyarakat semakin mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah seperti
: Hadhrah, Nasyid, dan lain-lain. Dalam kehidupan akidah juga berperan dalam
perkebangan seni. Seni biasanya dijadikan sebagai alat untuk memperbaiki
akidah seseorang seperti contoh di atas melalui Nasyid masyarakat mempelajari
agama itu dengan memadukannya dengan seni. Ini juga sangat bagus untuk lebih
meningkatkan keimanan masyarakat terhdap Tuhan Yang Maha Kuasa.
Demikian halnya dengan kesenian Saman, di mana dalam syair-syairnya
terdapat nilai-nilai akidah islamiah seperi dalam ucapan syair berikut;
Din awai din awailuddin ma’rifatullah
Allah sidroe Tuhan yang lon yakin
Laen mungkin bandum muhaddas
Awai agama Tuhan beu ta turi
bek han meu riri gata peucaya
yang peuna di lee bandum geu tanyo
nyan
keuh poe droe Tuhan yang Esa
Syair ini bermakna keimanan kepada Allah itu Esa tidak ada satu apapun yang
dapat menandinginya. Tuhan ku satu adalah sebagai pengakuan manusia kepada sang
pencipta Allah adalah zat yang Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakan.
2. Nilai Syari’ah
Syariah menurut etimologi, adalah jalan yang harus ditempuh. Menurut
peristilahan, syari’ah adalah sistem
norma (kaidah) Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengenai
hubungan manusia dengan sesama manusia dalam kehidupan sosial, hubungan manusia
dengan benda dan alam lingkungan hidupnya.[47] Kaidah yang mengatur hubungan langsung
manusia dengan Allah disebut kaidah ibadah atau kaidah ubudiah yang disebut
juga kaidah ibadah murni, kaidah yang mengatur hubungan manusia selain dengan
Allah disebut muamalah. Disiplin ilmu yang membahas dan menjelaskan
syari’ah disebut ilmu fikih. Syariah terbagi atas dua
a. Ibadah
Secara harfiah, kata ibadah dapat berarti menyembah atau beramal baik.
Secara istilah, ibadah dapat diartikan sebagai beramal baik kepada Allah swt
dan kepada seluruh makhluk-Nya agar memperoleh ridha dari Allah swt. ibadah
yang telah ditetapkan oleh Allah kepada manusia tidak hanya mengenai ibadah
kepada-Nya dengan selalu beramal kepada Allah swt, menaati perintah dan
menjauhi larangan-Nya, tetapi juga beribadah dengan jalan beramal baik kepada
sesama manusia. Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan
Al-Sunnah, yaitu harus ada contoh dari Nabi Muhammad saw. Konsep ibadah ini
berdasarkan kepada mamnu’ (dilarang atau haram).
Ibadah ini antara lain meliputi shalat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah (
dalam arti khusus ), yang membahas hubungan manusia dengan Allah. Tata cara dan
syarat rukunnya terinci dalam Al-Quran
dan Sunnah.
b. Muamalah
Istilah muamalah mengacu kepada suatu ibadah dengan cara berbuat dan
beramal baik sesama manusia lewat berbagai macam cara. Istilah ini sangat
berkaitan erat dengan hablum minannaas (hubungan manusia dengan manusia),
yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Sedangkan masalah muamalah
adalah masalah-masalah dunia, seperti makan dan minum, pendidikan, organisasi,
dan ilmu pengetahuan dan teknologi, berlandaskan pada prinsip boleh (jaiz)
selama tidak ada larangan yang tegas dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam muamalah
membahasa tentang manusia dengan lingkungannya, dalam hal ini aturan-aturannya
bersifat garis besar. Contoh berdagang, munakahat, bernegara. Nilai syariah tersebut dapat ditemukan
dalam syair berikut ini
Dalam syuruga na si bak kayee
Meujroeh
peureudee tapi bak raya
Bak cabeung kayee geu ikat ayon
Meu ek ngon meutroen meu puseng gisa
Bak talo ayon surah kalimah
Tuan Fathimah yang poe hareuta
Meuribee thon
Blang padang maksya luah mehalak
Meureubee thon jak geu pasang unta
Lagi ngon alue meulinteng siwak
Pakiban tajak amai the hana
Ratoh di atas bermakna ungkapan pujian kepada Allah yang telah menciptakan
aturan-aturan hidup yang semestinya harus dijalankan oleh setiap insan di muka
bumi dengan segala ketentuan yang telah digariskan oleh Allah.
3. Nilai Akhlak
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluq, artinya tingkah laku, perangai,
tabi’at.[48] Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah
daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa
dipikir dan direnung lagi. Akhlak
yakni keadaan yang melekat pada diri seorang manusia yang melahirkan perbuatan,
yang mungkin baik atau buruk. Yang termasuk ke dalam pengertian positif (baik)
adalah segala tingkah laku, tabiat, watak dan perangai yang sifatnya benar, seperti
disiplin, jujur, bertoleransi, bisa bekerja sama dan lain sebagainya.
Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah
sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan yang diwujudkan dalam tingkah laku atau
perbuatan. Apabila perbuatan spontan itu baik menurut akal dan agama, maka tindakan itu
disebut akhlak yang baik atau akhlakul karimah (akhlak mahmudah). Misalnya
jujur, adil, rendah hati, pemurah, santun dan sebagainya. Sebaliknya apabila
buruk disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazmumah. Misalnya kikir,
zalim, dengki, iri hati, dusta dan sebagainya. Baik dan buruk
akhlak didasarkan kepada sumber nilai, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Nilai akhlak yang terkandung dalam ratoh
Saman adalah sebagaimana dijelaskan di dalam syair;
Cut Laila cuken beungeh ke raja
Inoeng brok
piki lahee ngon baten
Raja pih dhalim pengaruh jiba.
Syair ini
bermakna tabiat artinya manusia dalam menggapai kekuasaan menempuh berbagai
macam cara demi terwujudnya hawa nafsu kehidupan duniawi.
4. Relevansi Kesenian Saman Terhadap Pendidikan Islam
Pengamat
sejarah Gayo, Ir Wahab Daud, menjelaskan, kesenian Saman sangat identik dengan agama Islam karena
kesenian an ini dikembangkan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam,
khususnya di dataran tinggi Gayo Lues. Liriknya bermakna nasihat, petuah agama,
petunjuk hidup, dan sebagainya. Kesenian ini mencerminkan pendidikan,
keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.[49]
Kesenian Saman biasanya diawali dengan salam pembuka
dari syekh (pemuka adat atau pimpinan dari kesenian Saman). Selanjutnya, disampaikan petuah-petuah
tentang menjalani kehidupan di dunia. Kesenian ini dilakukan oleh sedikitnya delapan orang.
Terkadang, dilakukan oleh 17 orang. Orang yang duduk pada posisi nomor sembilan
(tengah) bertindak sebagai pimpinan (syekh). Pada mulanya, kesenian an ini
hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh
pada kesenian ini, Syekh Saman pun menyisipkan syair-syair yang berisi
puji-pujian kepada Allah SWT. Sehingga, kesenian Saman menjadi media dakwah saat itu. Dahulu,
latihan Saman dilakukan di bawah kolong meunasah (sejenis surau pada saat itu
yang berbentuk panggung). Sehingga, mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat
berjamaah.
Sejalan
dengan kondisi Aceh yang berada dalam peperangan, syekh pun menambahkan syair-syair
yang berisi semangat juang rakyat Aceh. Kesenian ini terus berkembang sesuai kebutuhannya.
Sampai sekarang, kesenian ini lebih
sering ditampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan. Tak ditemukan penjelasan lain dari Wahab
Daud mengenai asal mula kesenian Saman.
Pun, demikian dengan Mudha Farsyah, peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional Banda Aceh. Ia hanya menyebutkan, kesenian Saman berasal dari Gayo yang diciptakan oleh
Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh, khususnya Gayo.
Penulis belum menemukan biografi Syekh Saman, pendiri atau pencipta kesenian Saman ini.
Tentu, akan
sangat menarik dan semakin jelas bila ada riwayat hidup Syekh Saman ini,
kemudian asal mula diciptakannya kesenian an ini. Benarkah kesenian an ini
memiliki hubungan dengan Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad
bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al Madani. Apakah kesenian Saman memang merupakan budaya asli Aceh yang
dikembangkan dari zikir dan wirid.
[1]Depdiknas, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta :
Balai Pustaka, 2005), hlm. 690.
[2]Endang Sumantri, Harmoni Budaya
Hidup Berpancasila dalam Masyarakat yang Regilius: Suatu Analisi Fenomelogis
Pidato Pengukuhan Guru Besar FPIPS, (Bandung: FKIP, 1993), hlm. 2.
[3]HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1996), hlm. 61.
[5]
Kosasih Djahiri, Dasar dan Konsep Pendidikan Moral, (Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik,
1985), hlm. 20.
[6]
Kosasih Djahiri, Dasar dan Konsep ...,
hlm. 21.
[7]Aceng
Kosasih, Konsep Pendidikan Nilai, Online dari http:// file.upi.
edu/ Direktori/ FPIPS/ MKDU, tanggal 4 Juli 2014
[8]Rahmat
Mulyana, Mengaktualisasi Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004),
hlm 12-13
[9]Jalaluddin Rakhmat, Keluarga Muslim dalam Masyarakat Moderen, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 28-29.
[10]
Jalaluddin Rakhmat, Keluarga
Muslim dalam .., hlm. 30.
[11]Afriantoni. Prinsip-prinsip
Pendidikan Akhlak Generasi Muda
Menurut Bediuzzaman Said Nursi,
5. Tesis, S2 Program Pascasarjana (IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan Ilmu
Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam. 2007), hlm. 32.
[12]Azra Azyumardi., Pendidikan
Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium
Baru. cetakan keempat, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), hlm..3.
[13] Azra Azyumardi, Pendidikan Islam,
Tradisi dan ..., hlm. 5.
[14]Wan Daud, Wan Mohd. Filsafat
dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. cetakan pertama,
(Bandung: Mizan Media Utama (MMU),
2003), hlm. 256.
[15]Ramayulis,
Metodologi … , hlm. 216.
[16]
Abu al-Hasan al-Nadwi, Nahwu at-Turbiyah
al-Islamiah al-Hurrah, Terj, Ramayulis, (Qahirah: Al-Mukhtar
al-Islam,1974), hlm. 3.
[17]
Departemen Agama RI, Al-Quran dan … ,
hlm. 655.
[18]Aisyah
Dahlan, Membina Rumah Tangga Bahagia dan
Peranan Agama dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Jamunu, 1969), hlm. 108.
[19]
Mirzadewi, Deskripsi Tari Rapa’i
Geleng, (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1972), hlm. 12.
[20]Kobat,
Tari Saman, (Banda Aceh: P&K
Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1990), hlm. 49.
[21]
http://www.academia. edu//
SKRIPSIKU, diakses, 20 Mei 2914
[22]M.
Atar Semi, Anatomi sastra, (Padang: Angkasa Raya,
1993), hlm. 21.
[23]Nurgiyantoro,
Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah
Mada University Press. 2005), hlm. 320.
[24]Uzey,“Macam-macam
Nilai”. Online dari http://uzey
.blogspot. com /2009/09/ pengertian- nilai. Diakses 20 Mei 2014.
[25]Griya
Wardani, “Nilai-nilai Pendidikan”, Online dari, http://
griyawardani. wordpress. com /2011/05 /19 / nilai-nilai-pendidikan/
Diakses 20 Mei 2014.
[26]Griya Wardani, Nilai-Nilai
Pendidikan, Online dari http://griya
wardani. wordpress. com/ 2011/ nilai-nilai-pendidikan/ Diakses 20 Mei
2014.
[27]Uzey,“Macam-macam
Nilai”. Online dari http://uzey.blogspot.com
/2009/09/ pengertian- nilai. Diakses 20 Mei 2014.
[28]
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta,
2009), hlm. 165.
[29]
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Budaya Aceh, (Banda Aceh:
Pemerintah Provinsi Aceh, 2009), hlm. 161.
[30]
Kusema, Festifal Lomba Tari Seudati/Meuseukat, (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa
Aceh, 1992), hlm. 8.
[31]Kusema,
Festifal Lomba Tari Seudati/Meuseukat,
(Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1992), hlm. 6.
[32]
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Budaya ..., hlm. 166.
[33]
LK. Ara, Ensiklopedi Aceh, Musik, Tari, Teater, Seni Rupa, (Banda Aceh:
Yayasan Mata Air Jernih, 2009), hlm. 181-182.
[34]Aslam
Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni Islam di Aceh, (Banda Aceh: Balai
Pelestarian Nilai Budaya, 2012), hlm. 54.
[35]
Aslam Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni ..., hlm. 55
[36]
https://www.facebook.com/note.php?note_id
[37]Aslam
Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni ..., hlm. 55
[38]
Aslam Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni ..., hlm. 55
[39]Kusema, Festival Lomba Tari Seudati/Meuseukat,
(Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Aceh,1992), hlm. 6.
[40]
Kusema, Festival Lomba Tari Seudati
...
[41]Gerak
Tari, Online dari http://
materisenibudayablog.blogspot. com/ 2013/09/gerak-tari. htm l# more
diakses 01 Juni 2014.
[42]L.K.
Ara, Ensiklopedi Aceh, Musik, Tari, Teater, Seni Rupa, (Banda Aceh:
GMAJ, 2009), hlm. 169.
[43]
L.K. Ara, Ensiklopedi Aceh, Musik, Tari, Teater ..., hlm. 169
[45]Haironi, Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Malam
Tujuh Likur pada Masyarakat Melayu di Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat
Kabupaten Sambas, Skrispsi. Tidak dipublikasikan, Pontianak: STAIN
Pontianak. 2006.
[46]Achmadi, Islam Sebagai
Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya media, 1992), hlm. 14.
[47]
Achmadi, Islam Sebagai Paradigma ......
[48]Syahruddln
El-Rkrl, Menelusuri hubungan Tari
Saman dengan Sammaniyah, (online) dari
http://bataviase.co.id/detailberita.html,
tanggal 4 – 6 – 2014.
[49]Syahruddln
El-Rkrl, Menelusuri hubungan Tari
Saman dengan Sammaniyah, (online) dari
http://bataviase.co.id/detailberita.html,
tanggal 4 – 6 – 2014.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar