ADA dua hal yang menjadi tolok ukur berapa sebenarnya satu komoditi akan mampu berproduksi, pertama adalah sejarah genetikanya, artinnya potensi kemampuan berproduksi sangat ditentukan oleh bagaimana sejarah tanaman itu sendiri seperti jenis bibit dan asal muasalnya. Kedua adalah kondisi alamiah dimana tanaman itu tumbuh, ketersedian unsur yang bisa dimakan oleh tanaman akan sangat menentukan jumlah produksi yang akan dicapai. Oleh karenanya, suatu tanaman apabila menghasilkan produksinya jangan dilihat dari berapa kebiasaan tanaman itu berproduksi tetapi harus dilihat dari genetik dan ketersedian unsur alamiahnya. Jika dianalogikan dengan manusia yang sering lari meraton, sesekali jangan kita membandingkan jumlah jarak lari kebiasaan yang bisa dilakukan manusia misalnya 4-5 KM tetapi mari kita merujuk pada berapa potensi manusia dalam hal lari marathon tersebut seperti potensi pelari yang ada di Jamaica dimana mereka mampu berlari 30 KM hanya dalam satu jam. Begitu juga dengan dengan mobil misalnya, ketika rata-rata manusia hanya mampu menyopiri 60 KM per jam, jangan disalahkan potensi mobil yang sudah tertulis di spedo meter 180 Km/ jam, inilah pemahaman mendasarnya bahwa segala sesuatu membutuhkan iklim kesimbangan dalam segala hal untuk mencapai puncak penampilannya berdasarkan potensi dan ketersedian iklim pendukung yang optimal.
Bagaimana dengan tanaman, di negara maju (Israil), contoh produktivitas tomat sudah mencapai 80 Kg per m2 atau 800 ton per ha. Nilai ini setara dengan produksi karbohidrat sekitar 100 ton per ha per tahun atau produksi lemak sekitar 30 ton per ha per tahun. Akan sama bila dianalogikan dengan produksi singkong basah sekitar 400 ton per ha per tahun, atau sawit dengan produktifitas TBS 150 ton per ha per tahun atau kakao dengan produktifitas biji kering sekitar 50 ton perha pertahun. Inilah hasil yang dapat dicapai dengan membuat extrapolasi data dari produksi tomat di Negara maju. Kenapa negara ini bisa mencapai potensi ini karena potensi genetik dan rekayasa penciptaan iklim menuju optimalisasi.
Ilmu pengetahuan manusia telah mencapai hasil produkifitas yang mencengangkan. Bagaimana dengan Indonesia. Misalnya, produksi singkong saat ini hanya mampu dihasilkan di bawah 25 ton per ha, TBS sawit perkebunan rakyat masih dibawah 20 ton per ha, kakao malah jauh lebih memprihatinkan lagi, dimana masih rata-rata dibawah 500 Kg per ha. Kesimpulan sederhana apabila kita menghitung pencapaian saat ini ternyata hasil produksi pertanian di Indonesia dan Negara berkembang kebanyakan masih kurang dari 10 % potensi maksimal yang dapat dicapai. Bila kita membandingkan dengan capaian negara maju, artinya potensi yang dapat dicapai adalah lebih dari 10 kali lipat saat ini. Namun demikian, banyak hal di negara kita belum siap untuk mencapai potensi puncak dari produksi tanaman itu sendiri, dalam hal ini ilmu pengetahuan, kebijakan, infrastruktur, iklim usaha dan akses terhadap permodalan masih banyak kendala di negeri kita. Kondisi ini diperparah dengan pemanasan global dan perubahan iklim yang sangat membutuhkan pengetahuan tingkat tinggi untuk mencapai optimasi tersebut di atas.
Tanpa ada revolusi teknologi pada tanaman produksi, hasil yang spektakuler sangat tidak mungkin dicapai. Apa yang harus dilakukan? Sama halnya dengan perangkat lunak seperti komputer, sel tanaman dapat di format ulang, tapi berbeda dengan rekayasa genetik. Format ulang sel tidak perlu ada gen asing yang disisipkan dalam gen lama. Format ulang hanya membangunkan semua potensi dengan menyusun ulang apa yang sudah ada dan melengkapi semua kebutuhan sel untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dalam proses perjalanan saja mencari ilmu pengetahuan dunia pertanianm, sedikitnya sudah tercerahkan untuk mengejar potensi tanaman menuju optimalisasi produksi. Spesifikasi apa yang harus dilakukan dalam format ulang sel untuk up grading dan optimasi produktifitas tanaman? Format ulang ditujukan pada 3 hal pokok pada tanaman, yaitu: membangkitkan semua potensi sel untuk mensintesis biomass dari CO2 difiksasi menjadi C – Organik dalam jumlah sebanyak mungkin dengan pola menggunakan energy matahari seefisien mungkin.
Langkah kedua adalah menangkap radiasi matahari sebanyak mungkin dengan merekayasa kolektor penangkap sinar matahari yang permukaannya relatif datar menjadi bentuk nano yang lebih kecil dan permukaannya cekung sehingga total luas kolektor bertambah dan radiasi matahari yang dipantulkan kembali menjadi lebih minimal, sehingga total radiasi matahari yang diserap jadi energy bertambah maksimal.
Langkah ketiga adalah balancing semua material untuk menyusun semua jaringan kompleks tanaman secara terukur dengan menggunakan energi sekecil mungkin dan meminimalisir material yang terbuang dan tidak terpakai. Jika semua langkah format ulang ini dilakukan, hampir 90 % radiasi matahari akan dikembangkan menjadi jaringan dan biomass yang pada akhir proses akan menghasilkan produktifitas tanaman yang sangat spektakuler.
Bukanlah sebuah kesombongan dalam banyak pelatihan dan diskusi ketika lahan bicara saya dan peserta pelatihan menanyakan “berapa produksi tanaman” tertentu bisa dicapai misalnya Kakao, saya selalu menjawab, saudara mau hasil berapa? Saya menyebutkan kalau Kakao potensi genetiknya bisa mencapai 11 to per ha, artinya kita dituntut memiliki ilmu pengetahuan, biaya dan SDM untuk mencapainya. Kalau hari ini yang diklaim oleh dinas tertentu bahwa produksi tanaman kakao misalnya hanya mampu berproduksi maksimal 1 ton bukan berarti itu adalah jawaban absolut, atau patut dipertanyakan kalau keilmuan mereka belum mampu melakukan optimasi dari potensi sebuah komoditas.
Tanaman itu ibarat pabrik, hasil yang dikeluarkan sangat ditentukan oleh bahan yang diproses oleh pabrik itu sendiri, karena tanaman juga mengenal matematika, ukuran dan indikator fisik.
Tanaman itu ibarat pabrik, hasil yang dikeluarkan sangat ditentukan oleh bahan yang diproses oleh pabrik itu sendiri, karena tanaman juga mengenal matematika, ukuran dan indikator fisik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar