Terimakasih

Selasa, 15 Maret 2016

Nilai-nilai Pendidikan dalam Kesenian Saman Aceh

BAB  II
NILAI PENDIDIKAN ISLAM  DALAM 
KESENIAN SAMAN

A.    Nilai-Nilai Pendidikan Islam
1.  Pengertian Nilai
Terdapat beberapa perbedaan dalam mengartikan nilai. Perbedaan cara pandang dalam memahami makna dan/atau pengertian “nilai” bukan untuk  menyalahkan definisi lain, akan tetapi merupakan suatu khazanah para pakar, dan  juga sesuatu yang wajar karena didasari persepsi masing-masing para pakar berdasarkan sudut pandang teoretis, empiris dan analisis. Nilai, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah harga (dalam arti taksiran harga). [1]
Menurut Endang Sumantri nilai-nilai berakar pada bentuk kehidupan tradisional dan keyakinan agama, bentuk-bentuk kehidupan kontemporer dan keyakinan agama-agama yang datang berkembang serta aspek politik yang berpengaruh dalam perubahan sikap penduduk, banyaknya kegelisahan, gejolak terhadap nilai dalam realita pendidikan pada umumnya.
Selanjutnya Endang Sumantri mengemukakan tujuh pemaknaan ”nilai”, yaitu:
  1. Nilai, suatu ide/konsep yang seseorang pikirkan merupakan hal penting dalam hidupnya;
  2. Nilai, (M. Rokeach) terbagi dua, yaitu (1) nilai sebagai sesuatu yang dimiliki oleh seseorang (Aperson has a value), dan (2) nilai sebagai sesuatu yang berkaitan dengan objek
(An object has value);
  1. Nilai, (Robin Williams), kriteria atau standar yang dibuat untuk melakukan penilaian;
  2. Nilai, (Clyde Kluckhon), suatu konsepsi yang jelas, untuk tersurat atau tersirat dari seseorang atau kelompok tertentu mengenai apa yang diingini yang mempengaruhi pemilihan sarana dan tujuan tindakan;
  3. Nilai, (George England) suatu kerangka kerja perseptual yang secara relatif bersifat permanen, kerangka kerja tersebut membentuk dan mempengaruhi hakikat dari watak perilaku perorangan umumnya;
  4. Nilai, (Dalton E Mc Farland) sesuatu kombinasi ide dan sikap mencerminkan suatu pilihan atas prioritas, motif atau orang;
  5. Nilai, (Allport) keyakinan yang menjadi dasar orang bertindak sesuai dengan preferensinya.[2]


Menurut Sidi Gazalba yang dikutip Chabib Thoha mengartikan nilai sebagai berikut: Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.[3]
Sedang menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini).[4] Jadi nilai adalaah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku.
Definisi ini menekankan bahwa nilai merupakan standar bagi sikap dan aktivitas seseorang. Sedangkan Milton Rokeah seperti dikutip oleh Kosasih Djahiri mengartikan nilai: "suatu kepercayaan (belief) yang bersumber pada sistem nilai seseorang, mengenai apa yang patut atau tidak patut dilakukan seseorang mengenai apa yang berharga dan apa yang tidak berharga".[5]
Senada dengan Milton Rokeah, Kosasih Djahiri mengemukakan: "bahwa nilai atau value itu lebih tinggi daripada norma atau moral. Adapun nilai itu sendiri merupakan keyakinan/belief yang sudah menjadi milik diri dan akan menjadi barometer perbuatan dan kemauan (action and the will) seseorang".[6]
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, Robin M. William sebagaimana dikutip oleh Usep Supriatna menyimpulkan adanya empat kualitas tentang nilai, yaitu:
1)  Nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang mendalam dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi atau kebutuhan. Dalam hal ini nilai dianggap sebagai abstraksi yang dikesenian k dari pengalaman-pengalaman seseorang;
2) Nilai menyangkut atau penuh dengan pengertian yang memiliki aspek emosi. Baik yang diungkapkan secara aktual ataupun yang merupakan potensi;
3)  Nilai bukan merupakan tujuan konkrit dari tindakan, tetapi mempunyai hubungan dengan tujuan, sebab nilai mempunyai kriteria dalam memilih tujuan-tujuan. Seseorang akan berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut pandangannya bernilai;
4)  Nilai merupakan unsur penting dan tidak dapat disepelekan bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataannya nilai berhubungan dengan pilihan dan pilihan merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan.[7]

Dengan demikian, ternyata bahwa nilai merupakan seperangkat tingkah laku seseorang menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat, baik yang bersumber metafisika, teologi, estetika, maupun logika. Berikut ini akan dikemukakan dua definisi nilai yang masing-masing mempunyai tekanan yang berbeda, yaitu:
a)  Menurut Gordon Allport, seorang ahli psikolog, nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Nilai terjadi pada wilayah psikologis yang membuat keyakinan, seperti hasrat, motif, sikap, keinginan, dan kebutuhan. Karena itu, keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tak indah pada wilayah ini merupakan hasil dari serentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya;
b)      Menurut Kupperman, seorang ahli Sosiolog, nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara  cara tindakan alternatif. [8]
Definisi ini mempunyai tekanan utama pada norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku manusia. Oleh sebab itu, salah satu bagian terpenting dalam proses pertimbangan nilai (Value Judgement) adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat;
Secara garis besar nilai dibagi dalam dua kelompok yaitu nilai-nilai nurani  dan nilai-nilai memberi. Nilai–nilai nurani adalah nilai yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain. Yang termasuk dalam nilai-nilai nurani adalah  kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas, kemurnian, dan kesesuaian. Nilai-nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikkan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan yang termasuk pada kelompok nilai-nilai memberi adalah setia, dapat dipercaya, hormat, cinta, kasih, peka, tidak egois, baik hati, ramah, adil, dan murah hati.[9]
Definisi di atas merupakan dua dari sekian banyak definisi nilai yang dapat dirujuk. Para filosof nilai yang bekerja dalam Union of International Association (UIA) melaporkan 15 definisi nilai yang berbeda. Jumlah definisi ini diperkirakan masih akan bertambah jika kita merujuk pada sejumlah buku yang membahas secara khusus atau hanya menyinggung persoalan nilai sebagai makna yang abstrak, bukan sebagai harga suatu barang atau benda. Karena itu, memilih definisi nilai bukan untuk menyalahkan definisi lain, tetapi hal itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan keperluan apa yang kita butuhkan.[10]
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan merupakan batasan segala sesuatu yang mendidik ke arah kedewasaan, bersifat baik maupun buruk sehingga berguna bagi kehidupannya yang diperoleh melalui proses pendidikan. Proses pendidikan bukan berarti hanya dapat dilakukan dalam satu tempat dan suatu waktu. Dihubungkan dengan eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada pembentukan pribadi manusia sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan berbudaya.
2.      Pengertian Pendidikan
Pendidikan dilihat dari istilah bahasa Arab maka pendidikan mencakup berbagai pengertian, antara lain tarbiyah (pendidikan), tahzib (menuntut), ta’lim (pengajaran), ta'dib (pembinaan), siyasat (siasat), mawa’izh (pengajaran), 'ada ta'awwud (pembiasaan) dan tadrib (pelatihan). Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib (menuntut) dan ta'dib  sering dikonotasikan sebagai pendidikan. Ta'lim (pengajaran) diartikan pengajaran, siyasat (siasat) diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa'izh (pengajaran) diartikan pengajaran/peringan. ’Ada Ta'awwud (pembiasaan) diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan  pelatihan.
Istilah di atas sering dipergunakn oleh beberapa ilmuwan sebagaimana Ibn Miskawaih dalam bukunya berjudul tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta'lim al-Mula'allim tarikh at-ta'alum. Perbedaan itu tidak menjadikan penghalang dan para ahli sendiri tidak mempersoalkan penggunaan istilah di atas. Karena, pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih baik.[11]

Secara istilah, tarbiyah (pendidikan), ta’dib (pembinaan), dan ta’lim (pengajaran) memiliki perbedaan satu sama lain dari segi penekanan, namun apabila ditilik dari segi unsur kandungannya, terdapat keterkaitan kandungannya yang saling mengikat satu sama lain yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak. Kata ta’dib (pembinaan), lebih menekankan pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik. Sedang pada at-Tarbiyah (pendidikan), difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya dan tumbuh kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang secara sempurna.
Sedangkan kata ta’lim (pengajaran), titik tekannya pada penyampaian ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggungjawab, dan pemahaman anamah kepada anak. Dari pemaparan ketiga istilah, maka terlihat bahwa proses ta’lim mempunyai cakupan yang lebih luas dan sifatnya lebih umum dibanding dengan proses tarbiyah dan ta’dib (pembinaan)
Pendek kata pendidikan telah didefinisikan oleh banyak kalangan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari, namun pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efesien.[12] Apabila istilah pendidikan ini dikaitkan dengan Islam maka para ulama Islam memiliki pandangan yang lebih lengkap sebagaimana pandangan M.Yusuf Qardhawi dalam Azra, memberikan pengertian, bahwa;
Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena itu pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkan untuk mengahadapi masyarakat dengan segala kebaikan, dan kejahatannya, manis dan pahitnya.[13]

Melihat pandangan di atas yang telah diungkapkan oleh beberapa ilmuwan muslim, maka kita perlu mengkaji kembali sejarah perkembangan pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW. Proses penanaman akidah dan pembiasaan perilaku sesuai dengan ketentuan Islam kepada kaum Quraisy berlangsung secara bertahap yang membutuhkan kegigihan dan kesabaran. Kegigihan dan kesabaran Rasulullah yang ditransformasikan pada  pembimbingan, pemberian motivasi, penanaman nilai, dan penciptaan kondisi yang lebih baik kemudian dapat merubah tatanan bangsa arab secara keseluruhan. Menurut hemat penulis apa yang dilakukan oleh Rasulullah telah masuk dalam wacana pandidikan di zaman sekarang.
Berkenaan dengan hal di atas, al-Attas mengungkapkan bahwa pendidikan adalah  pengenalan dan pengakuan mengenai suatu tempat sesuatu sesuai dengan tatanan penciptaan yang ditanamkan secara progresi ke dalam diri manusia; proses ganda, pertama melibatkan masuknya unit-unit makna suatu objek pengetahuan kedalam jiwa seseorang dan yang kedua melibatkan sampainya  jiwa pada unit-unit makna tersebut. [14] Dari penjelasan di atas dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.
3.      Metode dalam Pendidikan Islam
Metode merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, atau dengan istilah lain dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan dalam rangka mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.  Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam  maka metode yang digunakan  sangatlah banyak.
Dalam mempelajari agama Islam, metode sangat berpengaruh dalam setiap proses belajar mengajar.  Pendidikan agama Islam akan memberikan suatu nilai positif dalam sikap hidup, sikap yang merupakan formulasi kalimah “Laa ilaha illallah” dalam wujudnya yang nyata adalah hanya cinta kepada Allah, Rasul dan mukmin yang senantiasa menegakkan nilai-nilai ajaran agama dan hukum-hukum  ilahi, di samping itu juga pendidikan Islam akan dapat  menjauhkan anak didik  dari hal-hal yang dilarang oleh  Allah.
Maka metode pendidikan agama Islam yang tepat adalah dengan  membiasakan anak didik dengan nilai-nilai yang islami seperti mencintai Allah dan Rasul, dimana saja, dan kapan saja karena keimanan dan ketaatan anak kepada Allah. Sehubungan dengan pendidikkan Islam, maka metode yang digunakan haruslah mengacu kepada sumber pokok ajaran Islam yaitu    Al-Quran dan Hadits.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas,  Muhammad Fadhil al-Jamali menyatakan bahwa ”Pada hakikatnya Al-Quran itu  adalah merupakan pembendaharaan yang besar untuk kebudayaan umat manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnya merupakan Kitab pendidikan kemasyarakatan akhlak dan kerohanian atau dengan kata lain moral dan spritual.[15] Bahkan An-Nadwi lebih tegas lagi mengatakan bahwa jika pendidikan Islam tidak didasarkan  pada aqidah Islamiah yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits, maka pendidikan itu bukanlah pendidikan Islam tetapi adalah pendidikan asing  Abu    al-Hasan al-Nadwi[16]
Metode pendidikan agama yang selama ini dilaksanakan oleh banyak orang adalah dengan melalui metode nasehat yaitu dengan cara memberikan ceramah atau nasehat dan menuntun peserta didik untuk melakukan akhlak yang baik, hal ini mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya sebagaimana firman-Nya yaitu;
يبنى أثم الصلوة وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصا بك ان ذالك من عزم الأمور . ولا تصعرخدّك للناس ولا تمش فى الأرض مرحا ان الله لا يحبّ كل مختال فخور( لقما ن: ١۷– ۱۸ )
Artinya:  Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).  Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Lukman: 17-18).[17]

Ayat  di  atas  dapat  dipahami  bahwa  salah satu cara atau
metode pendidikan Agama  Islam  adalah  dengan  memberikan
nasehat, melalui nasehat diharapkan peserta didik dapat ternbimbing untuk melakukan nilai-nilai ajaran agama Islam.
Metode ini penting dalam pendidikan agama Islam, karena membentukan dan mempersiapkan moral atau akhlak sprituil dan sosial anak didik, sebab nasehat ini dapat membukakan mata anak-anak pada hakikat sesuatu dan mendorongnya menuju situasi luhur, serta menghiasinya dengan akhlak mulia serta membekalinya dengan prinsip-prinsip islami.
Selain dengan nasehat, yang juga berkembang dalam dunia pendidikan selama ini adalah dengan memberikan contoh teladan, metode keteladanan ini merupakan metode yang paling berpengaruh dalam mempersiapkan dan membentuk anak didik memiliki moral, spritual dan sosial. Hal ini karena pendidikan adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam tindak tantuknya, tata santunnya disadari ataupun tidak, bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan anak suatu gambaran pendidik  tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan, baik material maupun spritual, diketahui atau tidak diketahui. Sehubungan dengan metode tersebut Aisyah Dahlan mengemukakan:
Jika  anak-anak  tidak  didik  kepada  yang  baik  semenjak  kecil, sulitlah ia diwaktu  dewasa akan menjadi anak yang baik dengan sendirinya. Apa yang ditanamnya itu dialah yang menemuinya. Jika kita menanam bibit yang baik insya Allah hasilnya akan baik. Sebaliknya jika tanaman itu bibitnya tidak  jelek atau cacat maka hasilnya akan cacatdan jelek pula.[18]
Sehubungan dengan metode latihan kesenian  Saman ada beberapa unsur gerak yang mampu membangkitkan gairah bagi setiap pelakunya, maka tentu saja dalam hal ini menyangkut dengan gerak dan sendirinya dalam latihan yang dijalankan lebih dominan pada ruang dan waktu dari gerak yang selalu dilaksanakan. Namun perlu ditanyakan gerak yang bagaimana dapat dikatakan gerak kesenian. Sebagaimana lazim dikatakan bahwa proses perpindahan dari posisi ke posisi berikutnya adalah gerak. Manusia mempunyai bentuk tubuh, maka sumber gerak dalam kesenian  saman adalah melalui anggota tubuh manusia yang terdiri dari kepala, badan, lengan tungkai yang disebut subsistem tubuh. Adapun bagian utama yang perlu dilatih dari kesenian  saman adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Mirzadewi.[19]
Syair yang dibawakan tergantung pada syahi, hingga sekarang syair-syair itu banyak yang dibuat baru, namun tetap pada fungsinya yaitu berdakwah yang di dalamnya terkandung berbagai macam nasehat dan nilai pendidikan. Demikian juga dengan kostum yang dipakai berwarna hitam kuning berpadu manik-manik merah, serempak mengeprak panggung dengan duduk bersimpuh. Gerakannya berirama satu-satu, lambat lama kemudian berubah cepat diiringi dengan gerak tubuh yang masih dalam posisi duduk bersimpuh, melikuk ke kiri dan ke kanan. Gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat. Pada dasarnya, ritme gerak pada kesenian an saman hanya terdiri dari empat tingkatan yaitu; lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan agama, politik, sosial dan budaya mereka.[20]
Pada gerak lambat, ritme gerakan kesenian an saman tersebut memberikan pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang diberikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk tertentu.
 Dari uraian di atas terlihat bahwa syair-syair dalam kesenian  saman merupakan suatu metode pendidikan dalam rangka membina masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalam syair tersebut baik nilai akhlak, sosial dan sebagainya.
4.      Nilai-Nilai yang Perlu Ditanamkan dalam Pendidikan Islam
Adapun nilai-nilai yang perlu ditanamkan dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut.
a.       Nilai Pendidikan Religius
Nilai religius merupakan sudut pandang  yang  mengikat manusia dengan Tuhan  pencipta  alam  dan  seisinya.  Berbicara  tentang  hubungan  manusia  dan Tuhan tidak terlepas dari pembahasan agama. Agama merupakan pegangan hidup bagi  manusia.  Agama  dapat  pula  bertindak  sebagai  pemacu  faktor  kreatif, kedinamisan  hidup,  dan  perangsang  atau  pemberi  makna  kehidupan.  Melalui agama,  manusia  pun  dapat  mempertahankan  keutuhan  masyarakat  agar  hidup dalam  pola  kemasyarakatan  yang  telah  tetap  sekaligus  menuntun  untuk  meraih masa depan yang lebih baik.
Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati manusia sebagai human nature.  Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan.[21]
Nilai-nilai religi bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya seni dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius

dalam seni bersifat  individual dan personal. M. Atar Semi dalam bukunya Anatomi Sastra mengatakan kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya, kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri.[22]
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai religius merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada atau keyakinan manusia.
b.  Nilai Pendidikan Moral
Moral merupakan makna yang terkandung dalam karya seni, yang disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral. Hasbullah dalam Amalia menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk.[23]
Nilai moral yang terkandung dalam karya seni bertujuan  untuk  mendidik  manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi



orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar.[24]
Uzey berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan manusia sehari-hari.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang meliputi perilaku.
c.   Nilai Pendidikan Sosial
Kata  “sosial”  berarti  hal-hal  yang  berkenaan  dengan masyarakat/kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial.
Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya   yang  ada  hubungannya  dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu.   Nilai pendidikan sosial yang ada dalam karya seni dapat dilihat dari cerminan    kehidupan    



masyarakat  yang  diinterpretasikan.[25] Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai pendidikan sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya, pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan masyarakat. Sejalan dengan tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai norma yang berlaku.
Jadi nilai pendidikan sosial dapat disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang yang memiliki nilai tersebut. Nilai pendidikan sosial juga merupakan sikap-sikap dan perasaan yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar dan apa yang penting.
d.   Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai budaya menurut merupakan sesuatu yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada suatu masyarakat dan kebudayaannya. Nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat.[26]
Uzey berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan.[27]
Sistem nilai budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sistem nilai pendidikan budaya merupakan nilai yang menempati posisi sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material sebagai hasil dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola.

B. Kesenian Saman
1.      Sejarah Kesenian Saman
Kesenian merupakan salah satu unsur dari tujuh unsur kebudayaan universal lainnya, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem sosial, sistem peralatan hidup, sistem kesenian dan sistem kepercayaan atau agama.[28] Kesenian ini di namakan Kesenian  Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, kesenian an ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Ada pendapat mengatakan bahwa saman berasal dari mazhab Samaniyah dan di Aceh dikembangkan oleh Syeikh Saman.[29] Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, kesenian  saman menjadi salah satu media dakwah.
Pada mulanya, kesenian  saman hanya ditampilkan untuk even-even tertentu, khususnya pada saat merayakan Hari kelahiran Nabi Besar Muhammad saw atau disebut peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Biasanya, kesenian  saman ditampilkan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan zaman, kesenian  Saman pun ikut berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan.[30]
Kini, kesenian  saman dapat digolongkan sebagai kesenian  hiburan/pertunjukan, karena penampilan kesenian  tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu. Kesenian  Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, kesenian  Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan ada juga yang menggunakan panggung.
Kesenian  dari Aceh ini disebut Kesenian  Saman karena diciptakan oleh seorang ulama yang bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Kesenian  Saman mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan
santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.[31]
Kesenian  Saman merupakan sebuah pengejawantahan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan (dakwah). Gerakan-gerakan dari Kesenianan Saman adalah mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Sebuah ritual sebelum Kesenian  Saman dimulai sebuah seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) menyampaikan mukaddimah atau pembukaan atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.
Kesenian  Saman biasanya ditampilkan dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis. Dalam penampilan yang biasa saja (bukan pertandingan) dimana adanya keterbatasan waktu, Saman bisa saja dimainkan oleh 10 – 12 penari, akan tetapi keutuhan Saman setidaknya didukung 15 – 17 penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :[32]

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
·         Nomor 9 disebut Pengangkat
Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik sentral dalam Saman, yang menentukan gerak kesenian, level kesenian , syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan  lawan main (Saman Jalu / pertandingan)
·         Nomor 8 dan 10 disebut Pengapit
Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak kesenian  maupun nyanyian/ vokal
·         Nomor  dan  disebut Penyepit
Penyepit adalah penari biasa yang mendukung kesenian  atau gerak kesenian  yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf (horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.
·         Nomor 1 dan 17 disebut Penupang
Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung kesenian  juga berperan menupang/ menahan keutuhan posisi kesenian  agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan bertahan memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis rumput yang akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.

Kesenian Saman biasanya mempunyai gerakan 2-3 varian yang dilakukan secara bersama-sama secara bergantian, dan masing masing varian berbeda-beda gerakannya pada sesi berikutnya. Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan kontinyu, pemainnya terdiri dari pria-pria ataupun wanita-wanita muda yang menggunakan pakaian adat tertentu.
Kesenian Saman adalah jenis kesenian  yang tidak menggunakan alat musik sebagai pengiringnya,akan tetapi digantikan oleh suara tepukan tangan di dada dan tepukan tangan di pangkal paha juga suara dari para penari sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah, gerakan kepala ke berbagai arah, sangat dinamis kompak dan membuat takjub para penonton yang melihatnya.
Grakan-gerakan ini disebut guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo). Kesenian an Saman ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech, selain mengatur gerakan para penari,Syeikh juga
bertugas menyanyikan syair-syair lagu saman. yaitu Ganit.
Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu:
-          Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan benang seperti baju, sunting kepies.
-          Pada badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih, hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju bertangan pendek) celana dan kain sarung.
-          Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan.
-          Kesenian  saman memang sangat menarik. Pertunjukkan kesenian  Saman tidak hanya populer di negeri kita sendiri, namun juga populer di mancanegara seperti di Australia dan Eropa. Baru-baru ini kesenian  saman dipertunjukkan di Australia untuk memperingati bencana besar tsunami pada 26 Desember 2006 silam. Maka dari itu, kita harus bangga dengan kesenian yang kita miliki, dan meleskesenian kannya agar tidak punah.[33]

2.      Pengaruh Sufistik dalam Kesenian Saman
    Kesenian Saman diciptakan oleh seorang ulama besar dari Samudra Pasai (Pase) untuk media dakwah Islam yang ia bawa ke pegunungan Leuser yang penduduknya bersuku bangsa Gayo, di bagian Tenggara Aceh dan kini termasuk kabupaten Gayo Luwes. Dipilih kesenian an dalam posisi duduk sebagai media dakwah karena penduduk pegunungan Leuser menyukai kesenian an dalam posisi tersebut, dan kesenian an kembarnya bernama seudati di Pase dalam posisi berdiri.
    Dinamakannya kesenian an tersebut dengan Kesenian  Saman karena ulama besar itu terinspirasi dari Tarekat Sammaniyah yang pertama kali masuk ke Aceh dibawa oleh gurunya Syekh Abdussamad al-Falimbani sekitar abad ke-18 yang ia pelajari dari Syeh Samman (dengan huruf ‘m’ ganda) yang mengajarkan tarekat Sammaniyah. Sammaniyah adalah tarekat yang mengajarkan zikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.[34]
Setelah ke Aceh, Syekh Abdussamad al-Palimbani menyebarkan Tarekat Sammaniyah di Palembang. Ia mengajarkan doa dan zikir yang didapatkannya dari Syekh Samman. Mulanya tarekat ini murni mengajarkan zikir yang termuat dalam ratib Samman. Namun dalam perkembangannya, zikir itu dinyanyikan oleh sekelompok orang, yang di Aceh berkembang jadi Kesenian  Saman dan Kesenian  Seudati.[35]
Kesenian  Saman dipraktikkan dalam posisi duduk karena disesuaikan dengan budaya penduduk Leuser yang suka menarikan tubuhnya dalam posisi duduk, dan ini sesuai dengan posisi tubuh saat wirid Sammaniyah yang dikembangkan di Afrika. Sementara kesenian  Seudati dipraktikkan dalam posisi berdiri karena orang pesisir di Pase suka menari sambil berdiri seperti saat menarik pukat, dan ini sesuai dengan posisi tubuh sebagian pengikut Tarekat di Turki dan sebagian Afrika.[36]
Tarekat Sammaniyah diamalkan usai melaksanakan shalat lima waktu dan dengan cara duduk bersila. Salah seorang murid Sekh Abdussamad al-Palimbani adalah lelaki dari Samudra Pasai yang kemudian jadi ulama dan dikenal dengan Syekh Saman, bukan Syekh Samman dari Arab. Tarekat berisi zikir dan wirid Sammaniyah terus berkembang di Aceh seperti di Sudan dan Nigeria, tapi di negara Afrika tersebut, zikir dan wirid Sammaniyah dilaksanakan dengan cara berdiri sambil memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak hanya wirid seusai shalat lima waktu, zikir dan wirid Sammaniyah biasanya dilaksanakan pada peringatan hari besar Islam, seperti maulid Nabi saw, Isra Miraj, dan sebagainya. Sementara di Aceh zikir dan wirid Sammaniayah dibacakan dalam posisi duduk, makanya Kesenian  Saman yang terispirasi dari tarekat ini di Aceh pun dilakukan dalam posisi duduk.[37]
Untuk mengembangkan ajarannya, Syekh Samman menulis sejumlah ratib yang terkenal dengan nama Ratib Samman. Di Aceh, Ratib Samman dan atau Hikayat Samman, sangat terkenal. Ratib Samman kemudian berubah menjadi suatu macam permainan atau kesenian an rakyat yang terkenal dengan nama seudati di Samudra Pasai, yang bermakna kesenian. Beberapa ulama Aceh di masa itu, pernah menentang pembacaan Ratib Saman yang dinyanyikan atau dikesenian kan. Kesenian an meu-saman atau meu-seudati ini dimainkan minimal oleh delapan orang lelaki atau perempuan ditambah seorang syeh.
Tarekat Sammaniyah yang berkembang di Palembang dibawa dari Arab oleh murid-murid Abdussamad Al-Falimbani. Syekh Samman seorang ulama dan sufi terkenal yang mengajar di Madinah. Syekh Samman, awalnya merupakan pengikut dari berbagai tarekat, seperti Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah. Kemudian Syehkh Samman memadukan berbagai unsur tarekat-tarekat tersebut menjadi cabang tarekat tersendiri dengan nama Tarekat Sammaniyah, sebagai ciri khasnya.[38]
Tarekat Sammaniyah pertama kali tersebar dan memberikan pengaruh yang luas di Aceh, Kalimantan, Sumatra terutama Palembang dan beberapa daerah lainnya seperti Jayakarta. Tarekat Sammaniyah berciri khas, antara lain; zikirnya yang keras-keras dengan suara yang tinggi dari pengikutnya sewaktu melakukan zikir Laa ilaaha illa Allah, di samping itu juga terkenal dengan Ratib Samman yang hanya mempergunakan perkataan Hu, Dia Allah, kalau diartikan dalam bahasa Aceh Muda (Melayu).
Ulama besar dari Pase mengembangkan Kesenian  Saman diisinya dengan petuah agama, petunjuk hidup, dan sebagainya sebagai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan dalam menjalani hidup. Untuk menyatukan diri dengan masyarakat di pegunungan Leuser dan mengihindari kecurigaan penduduk bahwa ia membawa ajaran agama baru, maka pada awalnya, Syeh Saman membuat Kesenian  Saman sebagai permainan rakyat yang di tempat dikembangkannya disebut Pok Ane.
Kesenian  Saman diperankan secara berkelompok, paling sedikit delapan orang, dan kadang sampai 17 orang. Pimpinan kesenian an ini disebut syeh yang duduk di posisi nomor sembilan (tengah). Kesenian  Saman diawali dengan salam pembuka dari syekh diiringi petuah-petuah tentang kehidupan.
Setelah timbul minat besar masyarakat Aceh di pegunungan Leuser pada Kesenian  Saman, maka ulama besar dari Pase tersebut menyisipkan syair-syair puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Kesenian  Saman menjadi media dakwahnya dan menyertakan semangat perjuangan membela bangsa dan agama.
Setelah penduduk merasa dirinya telah menyatu dengan syair-syair dan petuah dalam Kesenian  Saman, maka Syeh Saman baru mengenalkan ketauhidan Islam secara resmi dan meminta penduduk Leuser memeluk agama Islam. Saat itulah ulama besar dari Pase itu menamakan kesenian an tersebut dengan Kesenian  Saman dan penduduk memanggilnya dengan ‘Syeh Saman,’ karena ia mengajarkan bahwa pemimpin kesenian  itu disebut syekh. Maka terkenallah ulama besar dari Pase itu dengan nama Syekh Saman (tanpa huruf ‘m’ ganda), karena dalam budaya Aceh di masa silam, orang enggan nama aslinya disebut demi menghindari tinggi hati.[39]
Penduduk dilatih Kesenian  Saman di bawah kolong meunasah yang dibangun sebagai tempat pertemuan penduduk dan menjadi pusat pengembangan agama dan tempat musyawarah semua urusan. Meunasah adalah bangunan berbentuk surau seperti rumah panggung dalam budaya Aceh, tapi kebanyakan dindingnya setengah tiang, tidak mencapai atap. Kolong meunasah dipilih sebagai tempat latihan kesenian  Saman agar orang yang berlatih dapat shalat berjamaah setelah latihan.[40]
3.      Makna Simbolik Gerak Kesenian   Saman
Gerak kesenian  merupakan unsur utama dari kesenian. Gerak di dalam kesenian  bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dan estetis. Gerak kesenian  selalu melibatkan unsur anggota badan manusia. Gerak dalam kesenian  berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan maksud-maksud tertentu dari koreografer.
Gerak di dalam kesenian  adalah gerak yang indah. Yang dimaksudkan dengan gerak yang indah adalah gerak yang telah diberi sentuhan seni. Gerak-gerak keseharian yang telah diberi sentuhan seni akan menghasilkan gerak yang indah. Misalnya gerak berjalan, lari, mencangkul, menimba air di sumur, memotong kayu dan sebagainya, jika diberi sentuhan emosional yang mengandung nilai seni, maka gerak-gerak keseharian tersebut akan tampak lain. Gerakan kesenian  yang indah membutuhkan proses pengolahan atau penggarapan terlebih dahulu, pengolahan unsur keindahannya bersifat stilatif dan distortif:
a.    Gerak Stilatif
Gerak yang telah mengalami proses pengolahan  (penghalusan) yang mengarah pada bentuk-bentuk yang indah.
b.  Gerak Distorsif
Pengolahan gerak melalui proses perombakan  dari aslinya dan merupakan salah satu proses stilasi. Dari hasil pengolahan gerak yang telah mengalami stilasi dan distorsi lahirlah dua jenis gerak kesenian , yaitu gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi.
   1)  Gerak murni
Gerak yang digarap untuk mendapatkan bentuk yang artistik dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan sesuatu. Dalam pengolahannya tidak mempertimbangkan suatu  pengertian tertentu, yang dipentingkan faktor keindahan gerak saja.
    2)  Gerak maknawi
Gerak maknawi merupakan gerak yang telah diubah menjadi gerak indah yang bermakna dalam pengolahannya mengandung suatu pengertian atau maksud tertentu, disamping keindahannya. Gerak maknawi di sebut juga gerak Gesture, bersifat menirukan ( imitative dan mimitif ).
a.    Imitatif adalah gerak peniruan dari binatang dan alam.
b.    Mimitif adalah gerak peniruan dari gerak-gerik manusia.
  Gerak adalah bahan baku utama kesenian. Untuk itu, sebelum membuat sebuah karya kesenian  kita akan mempelajari seluk beluk gerak. Gerak ini nantinya akan  disusun menjadi kesenian an yang indah dipandang. Pertama-tama buatlah gerakan untuk kesenian  tunggal. Jika dirasa sudah baik, kembangkan menjadi gerak kesenian  berpasangan atau berkelompok. Dalam menyajikan sebuah kesenian an, perhatikan dan terapkan hal-hal berikut:
a)  Penguasaan materi gerak dan ekspresi yang akan    ditarikan
b) Ketepatan gerak dengan iringan
c)  Penguasaan ruang pentas
d) Rasa percaya diri.[41]
Kesenian an saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam kesenian  saman: Tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama islam, syeikh saman mempelajari kesenian an melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, kesenian an ritual yang bersifat religius ini masih  digunakan  sebagai  media  untuk  menyampaikan pesan
pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.
Kesenian an saman termasuk salah satu kesenian an yang cukup unik, kerena hanya menampilkan gerak tepuk tangan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo).
4.      Makna Ratoh Saman
Kesenian  Saman merupakan sebuah kesenian an yang berasal dari Daerah Istimewa Aceh. Kesenian an yang hingga saat ini sering sekali dikenal dengan sebutan Kesenian  Saman. Padahal Kesenian  Saman adalah kesenian sejenis namun di keseniankan oleh penari laki-laki sedangkan kesenian an yang di keseniankan oleh penari perempuan adalah kesenian  Ratoh Jaro. 
Keseragaman, keserasian dan ketegasan gerak pada kesenian ini menunjukkan keselarasan dengan hikmat dalam melantunkan pujian-pujian bagi Tuhan (pada umat Islam). Syair dan puji-pujian yang diceritakan dan dalam kesenian  Saman disebut juga dengan Ratoh. Ratoh berarti berbincang atau juga diartikan dengan kisah atau cerita.[42]
Jadi Ratoh Saman adalah suatu kesenian an Aceh yang dimainkan sambil duduk dengan membaca syair-syair, cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai keagamaan, karena pada dasarnya syair yang dilantukan dalam Kesenian  Saman ini mengajak masyarakat untuk taat kepada Allah dan Rasulnya.
Kesenian Ratoh Saman ini berkembang di Aceh Selatan dan Aceh Barat. Di Aceh Barat masih dinamakan Saman. Di Aceh selatan kesenian ini berpusat di Manggamat Kecamatan Kluet Utara Kebupaten Aceh Selatan. Pada Awalnya Ratoh ini dimainkan untuk tujuan menarik masyarakat untuk mempelajari tuntnan agama dan pelajaran-pelajaran lainnya seperti adab sopan santu dan lain-lain.[43]
Ratoh Saman ini dalam pertunjukan kelihatan gerak badannya setengah badan, di samping gerak tangan dan pukulan telapak tangan di paha dan di dada masing-masing dalam mengatur irama yang diselaraskan dengan radat (syair) yang merupakan jiwa dari kesenian an tersebut.

C.  Nilai Pendidikan Islam dalam Kesenian Saman
Jika menelaah kembali pengertian pendidikan Islam, menurut Rama Yulis terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu:
1)      Nilai Akidah (keyakinan) berhubungan secara vertikal dengan Allah swt (Hablun Min Allah)
2)      Nilai Syari’ah (pengalaman) implementasi dari aqidah hubungan horizontal dengan manusia (Hablun Min an-Naas).
3)      Nilai Akhlaq (etika vertika horizontal) yang merupakan  aplikasi dari aqidah dan muamalah.[44]

Menurut Zakiah Drajat dalam Haironi, salah satu dari empat nilai pokok yang ingin disampaikan melalui proses pendidikan Islam yaitu nilai-nilai esensial. Menurutnya, nilai esensial adalah nilai yang mengajarkan bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini, untuk memperoleh kehidupan ini perlu ditempuh cara-cara yang diajarkan agama yatiu lewat pemeliharaan hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia. [45]
Sedangkan Menurut Achmadi mendefinisikan pendidikan Islam adalah segala  usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insan yang berada pada subjek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam atau dengan istilah lain yaitu terbentuknya kepribadian muslim.[46]
Jadi nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang digunakan sebagai dasar manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada Allah swt. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang  tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.
Adapun nilai pendidikan Islam dalam kesenian Saman antara lain yaitu;

1.      Nilai Akidah
Yang dimaksud dengan Akidah, menurut ilmu tentang asal usul kata (etimologi) adalah ikatan, sangkutan.  Sedangkan menurut ilmu tentang definisi (terminologi) adalah iman, keyakinan. Karena itu, akidah selalu ditautkan dengan Rukun Iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam.
Islam itu sangat indah, Karena Allah swt itu indah dan mencintai keindahan. Nilai akidah yang diambil dalam seni adalah seni yang membawa masyarakat semakin mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah seperti : Hadhrah, Nasyid, dan lain-lain. Dalam kehidupan akidah juga berperan dalam perkebangan seni. Seni biasanya dijadikan sebagai alat untuk memperbaiki akidah seseorang seperti contoh di atas melalui Nasyid masyarakat mempelajari agama itu dengan memadukannya dengan seni. Ini juga sangat bagus untuk lebih meningkatkan keimanan masyarakat terhdap Tuhan Yang Maha Kuasa.
Demikian halnya dengan kesenian Saman, di mana dalam syair-syairnya terdapat nilai-nilai akidah islamiah seperi dalam ucapan syair berikut;
Din awai din awailuddin ma’rifatullah
Allah sidroe Tuhan yang lon yakin
Laen mungkin bandum muhaddas
Awai agama Tuhan beu ta turi
bek han meu riri gata peucaya
yang peuna di lee bandum geu tanyo
nyan keuh poe droe Tuhan yang Esa
Syair ini bermakna keimanan kepada Allah itu Esa tidak ada satu apapun yang dapat menandinginya. Tuhan ku satu adalah sebagai pengakuan manusia kepada sang pencipta Allah adalah zat yang Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakan.

2.      Nilai Syari’ah
Syariah menurut etimologi, adalah jalan yang harus ditempuh. Menurut peristilahan, syari’ah  adalah sistem norma (kaidah) Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengenai hubungan manusia dengan sesama manusia dalam kehidupan sosial, hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya.[47] Kaidah yang mengatur hubungan langsung manusia dengan Allah disebut kaidah ibadah atau kaidah ubudiah yang disebut juga kaidah ibadah murni, kaidah yang mengatur hubungan manusia selain dengan Allah disebut  muamalah. Disiplin ilmu yang membahas dan menjelaskan syari’ah disebut ilmu fikih. Syariah terbagi atas dua
a.       Ibadah
Secara harfiah, kata ibadah dapat berarti menyembah atau beramal baik. Secara istilah, ibadah dapat diartikan sebagai beramal baik kepada Allah swt dan kepada seluruh makhluk-Nya agar memperoleh ridha dari Allah swt. ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah kepada manusia tidak hanya mengenai ibadah kepada-Nya dengan selalu beramal kepada Allah swt, menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya, tetapi juga beribadah dengan jalan beramal baik kepada sesama manusia. Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu harus ada contoh dari Nabi Muhammad saw. Konsep ibadah ini berdasarkan kepada mamnu’ (dilarang atau haram).
Ibadah ini antara lain meliputi shalat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah ( dalam arti khusus ), yang membahas hubungan manusia dengan Allah. Tata cara dan syarat rukunnya terinci dalam  Al-Quran dan Sunnah.
   b. Muamalah
Istilah muamalah mengacu kepada suatu ibadah dengan cara berbuat dan beramal baik sesama manusia lewat berbagai macam cara. Istilah ini sangat berkaitan erat dengan hablum minannaas (hubungan manusia dengan manusia), yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Sedangkan masalah muamalah adalah masalah-masalah dunia, seperti makan dan minum, pendidikan, organisasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, berlandaskan pada prinsip boleh (jaiz) selama tidak ada larangan yang tegas dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam muamalah membahasa tentang manusia dengan lingkungannya, dalam hal ini aturan-aturannya bersifat garis besar. Contoh berdagang, munakahat, bernegara. Nilai syariah tersebut dapat ditemukan dalam syair berikut ini
Dalam syuruga na si bak kayee
Meujroeh  peureudee tapi bak raya
Bak cabeung kayee geu ikat ayon
Meu ek ngon meutroen meu puseng gisa
Bak talo ayon surah kalimah
Tuan Fathimah yang poe hareuta
Meuribee thon
Blang padang maksya luah mehalak
Meureubee thon jak geu pasang unta
Lagi ngon alue meulinteng siwak
Pakiban tajak amai the hana
Ratoh di atas bermakna ungkapan pujian kepada Allah yang telah menciptakan aturan-aturan hidup yang semestinya harus dijalankan oleh setiap insan di muka bumi dengan segala ketentuan yang telah digariskan oleh Allah.

3.      Nilai  Akhlak
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata   khuluq, artinya tingkah laku, perangai, tabi’at.[48] Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnung lagi.  Akhlak  yakni keadaan yang melekat pada diri seorang manusia yang melahirkan perbuatan, yang mungkin baik atau buruk. Yang termasuk ke dalam pengertian positif (baik) adalah segala tingkah laku, tabiat, watak dan perangai yang sifatnya benar, seperti disiplin, jujur, bertoleransi, bisa bekerja sama dan lain sebagainya.
Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan yang diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila perbuatan spontan itu baik menurut akal dan agama, maka tindakan itu disebut akhlak yang baik atau akhlakul karimah (akhlak mahmudah). Misalnya jujur, adil, rendah hati, pemurah, santun dan sebagainya. Sebaliknya apabila buruk disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazmumah. Misalnya kikir, zalim, dengki, iri hati, dusta dan sebagainya. Baik dan buruk akhlak didasarkan kepada sumber nilai, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Nilai akhlak yang terkandung dalam ratoh Saman adalah sebagaimana dijelaskan di dalam syair;
Cut Laila cuken beungeh ke raja
Inoeng brok piki lahee ngon baten
Raja pih dhalim pengaruh jiba.
Syair ini bermakna tabiat artinya manusia dalam menggapai kekuasaan menempuh berbagai macam cara demi terwujudnya hawa nafsu kehidupan duniawi.

4.   Relevansi Kesenian Saman Terhadap Pendidikan Islam
Pengamat sejarah Gayo, Ir Wahab Daud, menjelaskan, kesenian  Saman sangat identik dengan agama Islam karena kesenian an ini dikembangkan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam, khususnya di dataran tinggi Gayo Lues. Liriknya bermakna nasihat, petuah agama, petunjuk hidup, dan sebagainya. Kesenian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.[49]
Kesenian  Saman biasanya diawali dengan salam pembuka dari syekh (pemuka adat atau pimpinan dari kesenian  Saman). Selanjutnya, disampaikan petuah-petuah tentang menjalani kehidupan di dunia. Kesenian  ini dilakukan oleh sedikitnya delapan orang. Terkadang, dilakukan oleh 17 orang. Orang yang duduk pada posisi nomor sembilan (tengah) bertindak sebagai pimpinan (syekh). Pada mulanya, kesenian an ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh pada kesenian ini, Syekh Saman pun menyisipkan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT. Sehingga, kesenian  Saman menjadi media dakwah saat itu. Dahulu, latihan Saman dilakukan di bawah kolong meunasah (sejenis surau pada saat itu yang berbentuk panggung). Sehingga, mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat berjamaah.
Sejalan dengan kondisi Aceh yang berada dalam peperangan, syekh pun menambahkan syair-syair yang berisi semangat juang rakyat Aceh. Kesenian  ini terus berkembang sesuai kebutuhannya. Sampai sekarang, kesenian  ini lebih sering ditampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan. Tak ditemukan penjelasan lain dari Wahab Daud mengenai asal mula kesenian  Saman. Pun, demikian dengan Mudha Farsyah, peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Ia hanya menyebutkan, kesenian  Saman berasal dari Gayo yang diciptakan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh, khususnya Gayo. Penulis belum menemukan biografi Syekh Saman, pendiri atau pencipta kesenian  Saman ini.
Tentu, akan sangat menarik dan semakin jelas bila ada riwayat hidup Syekh Saman ini, kemudian asal mula diciptakannya kesenian an ini. Benarkah kesenian an ini memiliki hubungan dengan Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al Madani. Apakah kesenian  Saman memang merupakan budaya asli Aceh yang dikembangkan dari zikir dan wirid.




[1]Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 690.
[2]Endang Sumantri, Harmoni Budaya Hidup Berpancasila dalam Masyarakat yang Regilius: Suatu Analisi Fenomelogis Pidato Pengukuhan Guru Besar FPIPS, (Bandung: FKIP, 1993), hlm. 2.
[3]HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1996), hlm. 61.
[4] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta …, hlm. 61.                                            
[5] Kosasih Djahiri, Dasar dan Konsep Pendidikan Moral,  (Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik, 1985), hlm. 20.
[6] Kosasih Djahiri,  Dasar dan Konsep ..., hlm. 21.
[7]Aceng Kosasih, Konsep Pendidikan Nilai, Online dari   http:// file.upi. edu/ Direktori/ FPIPS/ MKDU, tanggal 4 Juli 2014
[8]Rahmat Mulyana, Mengaktualisasi Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), hlm 12-13
[9]Jalaluddin Rakhmat, Keluarga Muslim dalam Masyarakat Moderen, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 28-29.
[10] Jalaluddin Rakhmat, Keluarga Muslim dalam .., hlm. 30.
[11]Afriantoni. Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda  Menurut  Bediuzzaman Said Nursi, 5. Tesis, S2 Program Pascasarjana (IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan Ilmu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam. 2007), hlm. 32.
[12]Azra Azyumardi., Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium  Baru. cetakan keempat, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), hlm..3.
[13] Azra Azyumardi, Pendidikan Islam, Tradisi dan ..., hlm. 5.
[14]Wan Daud, Wan Mohd. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. cetakan pertama, (Bandung: Mizan Media Utama (MMU),  2003), hlm. 256.
[15]Ramayulis, Metodologi … , hlm. 216.
[16] Abu al-Hasan al-Nadwi, Nahwu at-Turbiyah al-Islamiah al-Hurrah, Terj, Ramayulis, (Qahirah: Al-Mukhtar al-Islam,1974), hlm. 3.
[17] Departemen Agama RI, Al-Quran dan … , hlm. 655.
[18]Aisyah Dahlan, Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Jamunu, 1969), hlm. 108.
[19] Mirzadewi, Deskripsi  Tari Rapa’i Geleng, (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1972), hlm. 12.
[20]Kobat, Tari Saman,  (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1990), hlm. 49.
[21] Zara Suriza, Skripsiku, Online dari, http://www.academia. edu// SKRIPSIKU, diakses, 20 Mei 2914
[22]M. Atar Semi,  Anatomi sastra, (Padang: Angkasa Raya, 1993),     hlm. 21.
[23]Nurgiyantoro, Teori  Pengkajian  Fiksi,  (Yogyakarta:  Gajah  Mada University Press. 2005), hlm. 320.
[24]Uzey,“Macam-macam  Nilai”.  Online dari  http://uzey .blogspot. com /2009/09/ pengertian- nilai. Diakses 20 Mei 2014. 
[25]Griya Wardani, “Nilai-nilai Pendidikan”, Online dari, http:// griyawardani. wordpress. com /2011/05 /19 / nilai-nilai-pendidikan/ Diakses 20 Mei 2014. 
[26]Griya Wardani, Nilai-Nilai Pendidikan, Online dari  http://griya wardani. wordpress. com/ 2011/ nilai-nilai-pendidikan/ Diakses 20 Mei 2014. 
[27]Uzey,“Macam-macam  Nilai”.  Online dari  http://uzey.blogspot.com /2009/09/ pengertian- nilai. Diakses 20 Mei 2014. 
[28] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 165.
[29] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Budaya Aceh, (Banda Aceh: Pemerintah Provinsi Aceh, 2009), hlm. 161.
[30] Kusema, Festifal Lomba Tari Seudati/Meuseukat,  (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1992), hlm. 8.
[31]Kusema, Festifal Lomba Tari Seudati/Meuseukat,  (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1992), hlm. 6.
[32] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Budaya ..., hlm. 166.
[33] LK. Ara, Ensiklopedi Aceh, Musik, Tari, Teater, Seni Rupa, (Banda Aceh: Yayasan Mata Air Jernih, 2009), hlm. 181-182.
[34]Aslam Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni Islam di Aceh, (Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2012), hlm. 54.
[35] Aslam Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni ..., hlm. 55
[36] https://www.facebook.com/note.php?note_id
[37]Aslam Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni ..., hlm. 55
[38] Aslam Nur dkk, Rabbani Wahid Bentuk Seni ..., hlm. 55
[39]Kusema,  Festival Lomba Tari Seudati/Meuseukat, (Banda Aceh: P&K Provinsi Daerah Aceh,1992), hlm. 6.
[40] Kusema,  Festival Lomba Tari Seudati ...
[41]Gerak Tari, Online dari http:// materisenibudayablog.blogspot. com/ 2013/09/gerak-tari. htm l# more diakses 01 Juni 2014.
[42]L.K. Ara, Ensiklopedi Aceh, Musik, Tari, Teater, Seni Rupa, (Banda Aceh: GMAJ, 2009), hlm. 169.
[43] L.K. Ara, Ensiklopedi Aceh, Musik, Tari, Teater ..., hlm. 169
[44] Rama Yulis,  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), hlm.7.
[45]Haironi, Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Malam Tujuh Likur pada Masyarakat Melayu di Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas, Skrispsi. Tidak dipublikasikan, Pontianak: STAIN Pontianak. 2006.
[46]Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya media, 1992), hlm. 14.
[47] Achmadi, Islam Sebagai Paradigma ......
[48]Syahruddln El-Rkrl,  Menelusuri hubungan Tari Saman dengan Sammaniyah, (online) dari  http://bataviase.co.id/detailberita.html, tanggal 4 – 6 – 2014.
[49]Syahruddln El-Rkrl,  Menelusuri hubungan Tari Saman dengan Sammaniyah, (online) dari  http://bataviase.co.id/detailberita.html, tanggal          4 – 6 – 2014.