Terimakasih
Selasa, 26 Mei 2015
Potret Prestasi Belajar Siswa Penggila Jejaring Sosial
Hasil penelitian Ridwan, MA. Membuktikan bahawa satu diantara sepuluh siswa pengguna situs jejaring sosial tidak menggangu prestasi belajar, karena digunakan dengan lebih baik dan sesuai dengan aturan, sehingga motivasi belajar siswa tetap terjaga dan prestasi belajar mereka tetap aman.
Pengunaan waktu belajar siswa yang bukan pengguna situs jejaring sosial 41,67% lebih banyak dibandingkan dengan waktu belajar yang digunakan siswa pengguna situs jejaring sosial. Siswa yang tidak menggunakan situs jejaring sosial meluangkan lebih banyak waktu untuk belajar, dan memang memiliki waktu belajar yang lebih panjang dibandingkan dengan teman-temannya yang sibuk dengan jejaring sosial.
Minat belajar siswa yang bukan pengguna situs jejaring sosial 22,5 % lebih tinggi dibandingkan dengan minat belajar siswa yang aktif menggunakan situs jejaring sosial. Satu diantara pengguna situs yang aktif tidak percaya bahwa menghabiskan banyak waktu di situs jejaring sosial bisa mempengaruhi minat belajar dan prestasi akademiknya.
Perbandingan prestasi siswa yang terbiasa mengakses jejaring sosial pada semester genap hanya memiliki tingkat pencapaian nilai rata-rata 71,59. Nilai rata-rata ini telah mengalami penurunan 1,06 atau 1,46% dibandingkan dengan capaian nilai semester ganjil 72,65. Sedangkan siswa yang tidak memiliki kecanduan mengakses jejaring sosial mereka dapat meraih nilai rata-rata semakin lebih tinggi yaitu 77,23. Nilai rata-rata ini mengalami kenaikan 1,15 atau 1,49% dibandingkan daya capai nilai sembilan mata pelajaran semester ganjil yaitu 76,08. Selisih nilai rata-rata siswa pengguna situs jejaring sosial pada semester ganap ini semakin jauh mencapai 5,65 atau 7,32% dibandingkan selisih nilai semester ganjil 3,44 atau 4,52%.
Perbedaan hasil belajar antara siswa pengguna jejaring sosial dengan siswa yang tidak menggunakan jejaring sosial secara signifikan memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakan jejaring sosial. Siswa yang terbiasa mengakses jejaring sosial hanya memiliki tingkat pencapaian nilai rata-rata 71,59. Nilai rata-rata ini telah mengalami penurunan 1,06 atau 1,46% dibandingkan dengan capaian nilai semester ganjil 72,65. Sedangkan siswa yang tidak memiliki kecanduan mengakses jejaring sosial mereka dapat meraih nilai rata-rata semakin lebih tinggi yaitu 77,23. Nilai rata-rata ini mengalami kenaikan 1,15 atau 1,49% dibandingkan daya capai nilai sembilan mata pelajaran semester ganjil yaitu 76,08. Selisih nilai rata-rata siswa pengguna situs jejaring sosial pada semester ganap ini semakin jauh mencapai 5,65 atau 7,32% dibandingkan selisih nilai semester ganjil 3,44 atau 4,52%.
Guru, tokoh masyarakat dan orang tua mempunyai andil besar dalam meminimalisir dampak negatif dari jejaring sosial dengan cara memberikan pengarahan serta batasan agar anak dapat membagi waktun belajarya, dan menanamkan kesadaran jangan coba-coba diluar batasan.Internet akan memberikan manfaat untuk siswa atau dampak negatif, tergantung pada diri siswa penggunanya.
Saran-saran
Memanfaatkan segala teknologi yang ada termasuk internet untuk menunjangkemajuan belajar, karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tingkat kualitas pendidikan. Suatu teknologi akan mengakibatkan apa saja itu semua tergantung pada diri kita masing-masing. Jangan mempergunakan internet untuk sesuatu yang dapat merugikan orang lain, atau dapat menimbulkan suatu masalah. Manfaatkanlah internet sebagai media pembelajaran dalam rangka menuju masa depan yang cerah dengan pengetahuan yang luas dan kritis.
Guru, orang tua dan masyarakat harus proaktif siaga dan senantiasa mengawasi dan membimbing remaja untuk meminimalisir dampak negatif dari jejaring sosial dengan cara memberikan pengarahan serta batasan-batasan agar mereka dapat membagi waktu belajarnya, dan di kalangan siswa harus memiliki kesadaran sendiri untuk menghindari coba-coba dari penasaran negatif.
Batu Cicin Bernilai Dolar Gemparkan Ruang Belajar MIN Kampong Baroe Teunom
Fasilitator Provinsi Aceh Ridwan, MA dan Rahmat Hastiono, S.Pd koordinator rayon tim Monitoring dan Evaluasi USAID Prioritas utusan Destrik Coordinator Aceh Jaya Sriwahyuni, SH., M.Si temukan batu cincin bernilai dolar dalam ruang belajar.
Batu madu panga tidak hanya dapat memancing estetika di jari, tetapi menjadi pemancing motivasi siswa dalam pembelajaran di sekolah, tinggal tugas guru bagaimana menseting skenario pembelajaran menjadikan objek yang heboh dilinggkungan dimodifikasi sebagai sumber belajar siswa.
Hal yang melatar belakangai kretifitasini adalah karena melihat pembelajaran tanpa media tidak disenangi siswa dan membuat mereka kaku kalau hanya pindah tek dari buku. Respon siswa kurang bagus dalam pembelajaran jika alat bantu pembelajaran kurang menarik.
Mengatasi kemandekan pemikiran generasi yang menganggap semua sudah diteliti orang, jadi kita cukup baca saja, dektekan pada siswa dan jelaskan tanpa dimulai dengan percobaan.
Tujuan pembelajaran ini untunk memberikan pencerahan dalam pengklasifikasian Batu Madu Panga yang mengadung gaya yang di sebut medan Magnet. Media belajar unik dengan memanfaatkan sampel Batu madu Panga yang dapat di tarik perhatian siswa dan mengujinya dengan batu-batu yang ada contohnya batu basalt, batu granit dan Batu kuarsa dll.
Langkah pembelajarannya terpampang langsug dalam RPP Bapak Sudirman, S.Pd (29 th) sebagai pengajar hari itu. Guru memperkenalkan sampel batuan yang akan di uji, guru memancing pengelompokan jenis batu yang dijadikan sampel, klasifikasi penyimpanan batu mada Panga.
Batuan yang dijadikan sampel antara lain; batu madu panga, batu konglomerat, batu akik, batu Obsidian, (batuan kaca), batu granit, batu marmer batu basalt, batu apung, batu sabak/tulis, batu kapur/gamping, batuan pasir, batu kuarsa, belerang, dan kerikil Gampong Baro.
Guru membagi siswa ke dalam 4 kelompok, dimana didalanya terdiri dari notulen, penguji, pengamat, dan juru bicara. Kemudian membagikan Lembaran kerja berbentuk matrik tabel klasifikasi bantuan dan logam yang diuji daya magnetnya. Alat-alat eksprimen antara lain; magnet (penguji), kertas sebagai wadah uji dan pasir untuk di jadikan sampel.
Berikut ini komentar Bapak guru Sudirman, S.Pd; Saya sangat senang melatih siswa bereksprimen dari usia 10 tahun. Siswalebih memahami teknikbereksprimen sederhana membuktikan batu akik mengandung magnet.Siswa lebih respek terhadap lingkungan dan tertarik dengan bereksprimen. Siswalebih memahami materi dan memudahkan mereka mengingat pengalaman berbuat dari mendengar ceramah. Membangun kerjasama tim bereksperimen secara komparatif learning. Siswa dapat menemukan hasil eksperimen sendirisehingga pemahaman terhadap materi jadi meningkat
Beberapa siswa kami wawancarai,antara lain; Aisa Narvita (P/10 th) mengatakan: Alhamdulillah saya sudah mengenal batu madu panga yang heboh dijadikan mata cicin dan kerap menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Aceh Jaya. Saya telah dapat membedakan benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada yang tidak dapat di tarik oleh magnet. Saya lebih suka belajar dengan melakukan percobaan langsung kita buktikan apakah benda yang mengandung magnet. lebih mudah mengingat pelajaran yang praktek langsung, menyenangkan dan sangat berkesan.
pelajaran yang paling saya senangi adalah matematika dan IPA, karena materi bagus-bagus dan cukup menantang bagi saya, karena ibu Muliana dan Bapak Sudirman selalu membawa media belajar dan alat batu yang unik dan menarik. Harapannya jika saya menjadi guru nanti saya akan mengajarkan siswa dengan praktik langsung seperti ini.
Nazar Saputra (L/10 th) dengan gelagat bahasa Indonesia ala translit mengatakan; Alhamdulillah saya sudah mengenal batu madu panga sekarang yang dijadikan sumber belajar oleh Bapak sudirman. Menurut saya batu madu bagus dan sangat menarik dan pantas orang memperbincangkannya disamping mahal harga juga bagus bentuknya walau terkesan seperti karang.
Jika saya berkesempatan saya akan promosi model pembelajaran praktik langsung yang sangat menyenang, dan membuat saya menjadi tahu tentang gaya magnet. Saya senang bisa bekerja langsung bersama-sama dengan teman satu kelompok, ternyata batu madu bisa tidak hanya menarik bagi orang dewasa ternyata juga bisa dijadikan sumber belajar kami juga, tapi waktu belajarnya sangat sedikit. Saya lebih memahami pelajaran dengan kerja kelompok dan membuat uji coba langsung membuktikan dan teman saya langsung menulis apa reaksi batuan dan bahan logam yang saya uji.
Harapan saya ke depan Ibu kepala sekolah melakukan belajar kepada semua guru dengan cara seperti ini agar kami semua bisa memahami dan seluruh kelas seperti ini.
Zibral Sugali (12th), ia lebih menguasai seluk beluk estetika ala dukun, tampak dari komentarnya; Bagus sekali ketika di senter berwarna merah berarti berharga “siribe sistim batee” berarti satu juta rupiah.
Saya senang jika batu madu panga dijadikan suber belajar sehingga saya bisa berbincang dan diskusi dengan guru dan teman-teman seperti oarang dewasa membicarakananya setiap hari.
Kalau saya jadi orang besar saya akan menjadi pengembang batu yang lebih unik dan menarik, jika bisa saya akan memperkembangbiakkan batu madu panga menjadi batu manisan Teunom.
Kami sangat tertarik memonitoring pembalajaran kali ini karena para guru telah menggunakan saintifiknya dalam pembelajaran mereka. Kami mendokumentasikan langkah demi langkah pembelajaran, muda-mudahan dengan dimuatnya ini menjadi inspirasi bagi guru lain. (Red. Ridwan, MA)
Hidangan Bernilai Sciantific; Siswa Uji Tumbuhan Berkarbn Hidrat di Ruang Belajar MIN Teunom
Fasilitator Provinsi Aceh Ridwan, MA dan Rahmat Hastiono, S.Pd koordinator rayon tim Monitoring dan Evaluasi USAID Prioritas utusan Destrik Coordinator Aceh Jaya Sriwahyuni, SH., M.Si temukan hidangan ala sciatific; uji tumbuhan berkarbon hidrat dengan betadine di ruang belajar.
Pembelajaran tanpa media tidak disenangi siswa dan membuat mereka kaku kalau hanya pindah tek dari buku. Respon siswa kurang bagus dalam pembelajaran jika alat bantu pembelajaran kurang menarik. Mengatasi kemandekan pemikran generasi yang menganggap semua sudah diteliti orang, jadi kita cukup baca saja, dektekan pada siswa dan jelaskan tan dimulai dengan percobaan.
Tujuan praktik ini untuk, memberikan pencerahan dalam pengklasifikasian tumbuhan yang engadung karbonhidrat dengan bereksprimen. Media belajar unik dengan memanfaatkan sampel tumbuhan dan mengujinya dengan betadine. Membiasakan siswadari usia 10 tahun kreatif bereksprimen untuk buktikan sesuatu dan temukan sesuatu. Merangsangkreatifitas siswa respek terhadap lingkungan dan inovatif dalam bereksperimen. Penggunaan media sederhana yang mudah dijangkau dan relevan, yang penting dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa.
Strategi/langkah praktik; Guru memperkenalkan sampel tumbuhan yang akan di uji, memancing pengelompokan jenis tumbuhan yang dijadikan sampel. Klasifikasi penyimpanan klorofil pada buah, batang, akar dan umbi, tumbuhan yang dijakan sampel antara lain; buah apel, buncis, jagung, tebu, wolter, bawang merah, dan ubi kayu, alat-alat eksprimen antara lain; ulek-ulek (penumbuk), cawan penampung sampel, pisau, dan betadine sebagai pengganti lugol.
Pendapat guru Nurmita, S.Pd, saya sangat senang melatih siswa bereksprimen dari usia 10 tahun, lebih memahami teknikbereksprimen sederhana membuktikan tumbuhan berkarbonhidrat, lebih respek terhadap lingkungan dan tertarik dengan bereksprimen, lebih memahami materi dan memudahkan mereka mengingat pengalaman berbuat dari mendengar ceramah, membangun kerjasama tim bereksperimen secara komparatif learning, dan siswa dapat menemukan hasil eksperimen sendiri sehingga pemahaman terhadap materi jadi meningkat.
Pendapan Siswa 1. Alhuda Saina (P/10 th) Kls. V MIN Teunom; Alhamdulillah saya telah dapat merajang sayuran, menumbuk jagung, ubi kayu, kentang, wolter, buncis, dan apel. Saya lebih suka belajar dengan melakukan percobaan langsung kita buktikan apakah mengandung karbonhidrat atau tidak, lebih mudah mengingat pelajaran yang praktek langsung, menyenangkan dan sangat berkesan samapai ada teman kelompok lain anak perempuan belum bisa rajang bawang sampai jarinya luka. Harapannya jika saya menjadi guru nanti saya akan mengajarkan siswa dengan praktik langsung seperti ini.
Pendapan Siswa 2. Marza Kadarus (L/10 th) Kls. V MIN Teunom; Saya senang bisa bekerja langsung bersama-sama dengan teman satu kelompok, tapi waktu belajarnya sangat sedikit, lebih memahami pelajaran dengan kerja kelompok dan membuat uji coba langsung membuktikan tumbuhan mana yang banyak mengandung karbonhidrat. Pelajaran yang paling saya sukai adalah IPA dan SKI, alasannya karena IPA sering praktik langsung dengan menggunakan bahan buah-buahan, daun-daunan, gambar-gambar dan lain-lain yang berkaitang dengan hewan, tumbuhan dan manusia. Sedangkan SKI guru mengajarnya sering menggunakan gambar, cerita-cerita Islam, kemudian ada main peran drama. Harapan saya ke depan Ibu kepala sekolah melakukan belajar kepada semua guru dengan cara seperti ini agar kami semua bisa memahami dan seluruh kelas seperti iniMenumbuhkan Minat Baca dengan Membuat Buku Kecil
Ridwan, MA., Buku kecil yang berbentuk buku saku unik didisain secara sederhana dan kreatif berisikan tulisan hasil eksplorasi siswa MTsN Teunom Kabupaten Aceh Jaya. Praktik yang baik ini dapat menumbuhkan minat baca/budaya baca dan keingintahuan siswa sembari bereksplorasi menciptakan sebuah karya. Hasilnya, mereka dapat menunjukkan pembelajaran yang aktif dengan menggali berbagai sumber informasi, mengorganisasi dan mengkomunikasikan informasi kepada pembaca lain melalui karyanya yang unik dan didisain secara sederhana namun kreatif. Berikut lima foto hasil karya mereka.
Creating Interest in Reading by Making Small Books by Ridwan, MA
Unique pocket size small books were designed in a simple and creative manner. They contain writing by students from MTsN Teunom Aceh Jaya District based on their observations. This practice can increase interest in reading, develop a reading culture and increase the students’ curiosity. As a result, they were able to demonstrate active learning while using many information sources and organizing and communicating the information to other readers through their simple yet unique creations. Here are some of the books they created:
Langganan:
Komentar (Atom)






